Eclair

Already posted on FFindo 🙂

Eclair

Tittle

“Eclair” 

Author

Brilliant Givya ( @Kailliant )

Genre

Romance

Rating

General

Casts

SHINee Taemin as Lee Taemin

Shez Lee Taeyeon as Yoo In Jung

A Pink Namjoo as Taemin’s Mom

As always, I just want to share the knowledges from my fics to the readers… so, sorry for the weird plot ^^v

Please reading by thinking you are watching a FTV 😉

© KAILLIANT

 

<><><> 

 

Ada toko roti Perancis baru di depan rumahku.

Seluruh anggota keluargaku senang mendengarnya, apalagi teman-temanku di sekolah. Pasalnya, kami sedang demam dengan semua hal yang berbau roti khas luar negeri. Aku dan ibu sampai membuat dua kotak kimbbab sebagai penyambutan untuk para pegawai tokonya. Hal itu membuat hampir seluruh pegawai mengenalku.

Tapi… aku dan teman-temanku memiliki alasan lain untuk berkunjung ke toko itu selain karena rotinya yang lezat.

Seseorang bernama Lee Taemin. Setidaknya itu yang tertulis di badge seragam sekolahnya. Aku melihatnya sejak hari pembukaan, kemudian berlanjut setiap hari. Bukan, aku bukannya tertarik pada wajahnya yang cute itu. Aku hanya penasaran karena kebiasaannya; memilih bangku paling pojok, memesan sepiring roti yang aku tidak tahu apa namanya, lalu tepat pukul enam sore ia pergi. Terus seperti itu setiap hari.

Hanya saja aku tidak pernah punya keberanian untuk berkenalan dengannya.

Puluhan hari berlalu semenjak aku ‘mengenalkan’ namja misterius itu pada teman-teman sekelasku. Mereka yang telah melihat Taemin secara langsung juga mengaguminya diam-diam. Sudah kubilang, Taemin memiliki wajah yang cute. Dan menarik.

.

Sore ini nenekku datang dari Mokpo, beliau tidak pernah merasakan roti Perancis. Maka dari itu, aku mengajak beliau ke toko roti yang semakin hari semakin ramai itu.

Ternyata namja misterius ada di sana lagi. Seramai apapun keadaan toko, ia tetap duduk tenang di pojok, acuh pada banyaknya pengunjung di depan kasir yang sedang berdiri menunggu adanya meja kosong. Beruntung rumahku dekat, jadi aku dan nenek memesan roti untuk dibawa pulang.

Tepat saat pesanan kami datang, namja itu pergi meninggalkan mejanya.

Sosoknya hilang di bali kerumunan orang. Tiba-tiba aku penasaran, bagaimana rasanya duduk di meja pojok itu? Selama ini Taemin terlihat tentram di sana. Lalu aku izin pada nenek untuk tetap di toko ini sebentar. Untunglah nenek bukan tipe orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain, jadi nenek pulang terlebih dahulu.

“Lee Taemin…” bibirku menggumamkan nama itu pelan, karena tanpa sengaja kulihat sebuah kertas tebal bertuliskan ‘reserved by Mr. Lee Taemin’ di atas meja. Lalu aku duduk dan membayangkan diriku sebagai namja misterius itu, mengamati orang yang berlalu lalang di trotoar, megamati buku menu berbentuk roti bakar, juga mesin penunjuk waktu yang menampilkan tulisan ‘Welcome!’ setiap satu menit sekali.

Itu semua biasa saja. Tidak ada sesuatu yang bagus atau menarik yang bisa dilihat. Lalu kenapa namja itu selalu memilih tempat ini?

.

.

.

Kupungut sebuah kaleng penyok di depan rumah, lalu membuangnya ke tempat sampah sambil mengeluh. Ternyata masih banyak orang jorok di Seoul. Tepat ketika aku berbalik, aku mendapati namja misterius itu keluar dari pagar rumahku, kemudian ia menyeberang jalan menuju toko roti.

H-Hei! Namja misterius itu dari rumahku?!!!

Aku bergegas pulang dan memborbadir eomma yang sedang membereskan tempat makan dengan sejuta pertanyaan tak karuan. Eomma berusaha menenangkanku. Aku bahkan tidak yakin bisa tenang kalau menyangkut namja itu.

“Ambil napas dulu, lalu ceritakan masalahmu, In Jung!”

Aku menarik napas, “tadi ada namja keren mengunjungi rumah kita, bukan? Namanya Lee Taemin! Apa eomma mengenalnya? Apa hubungan eomma dengannya?“

Mendengarku, eomma menggeleng-geleng maklum, kemudian melanjutkan membereskan meja, “iya. Eomma mengenalnya. Tadi eomma terserempet pengendara motor. Dia yang membantu eomma membawakan barang belan–”

“Lalu eomma menanyakan hal apa lagi padanya?”

Wajah eomma sedikit kesal karena selain kupotong kalimatnya, payahnya aku juga tidak menunjukkan rasa prihatin saat mendengar eomma diserempet. Aku benar-benar payah. Hanya demi seorang Lee Taemin yang misterius itu.

“Hm, lagipula namja itu selalu diam. Satu-satunya kalimat yang diucapkan selain ‘nama saya Lee Taemin’ adalah ‘sampai jumpa’…

Eomma! Kenapa tidak menahannya lebih lama!!!”

“Eih, memang kenapa?”

Aku hampir bilang pada eomma kalau aku ingin berkenalan dengannya, tapi syukurlah masih bisa kutahan. Huh, Lee Taemin, kau membuatku semakin penasaran!

.

.

.

Pegawai bernama Im Jinah melambaikan tangannya padaku, aku berlari menghampirinya yang berada di balik meja kasir. Ia terlihat senang karena aku datang agak pagi. Sekolahku sedang libur, jadi aku datang sepagi ini. Tentu saja tidak ada sosok Taemin di pojok sana, dia akan datang sore nanti, masih lama.

Im Jinah baru masuk kerja dua hari yang lalu. Pegawai bernama Sungmin yang mengenalkanku padanya. Aku suka mengobrol dengan Jinah. Selain cantik, ia sangat ramah dan easy-going.

“Kyuhyun-ah~ jangan lupa siapkan éclair topping blueberry!” perintah Sungmin pada temannya di dapur. Jinah yang sedang merapikan meja kasir langsung menyahut,

“Kalau untuk Taemin, perbanyak gulanya!”

Deg! Aku kaget begitu mendengar nama itu. Taemin… apa Lee Taemin yang itu?

“Siapa itu Taemin?” tanyaku tiba-tiba. Jinah menggeret kursi untuk duduk dipinggirku, bersiap untuk menjawab.

“Taemin adalah putra Nyonya Lee Eunri, pemilik toko ini,”

Nyonya Lee Eunri? Hm… Aku jadi teringat pada kunjungan pertamaku di sini. Saat itu selain untuk pegawai wanita, aku juga memberi sekotak kimbbab untuk salah satu pegawai bermasker hijau. Namja yang mengaku sedang flu berat itu sempat bilang, nyonya Lee Eunri adalah pemilik toko ini. Oh… aku mengangguk paham. Pantas saja, seramai apapun kedaan toko, Taemin bisa mendapatkan meja.

Eommanya koma karena kecelakaan mobil dan sudah dirawat selama satu bulan, koma…”

Aku suka menonton drama di teve. Kalau begitu, mungkin eommanya yang sedang koma menjadi penyebab Lee Taemin selalu murung di meja pojok. Tidak salah lagi.

“Tapi, ada satu hal yang membuatku heran!” Sungmin yang setahuku tadi sedang mengganggu Kyuhyun di dapur tiba-tiba sudah menyeruak di antara aku dan Jin ah. Ia mengambil tempat untuk duduk dan melipat tangan ke atas meja. Namja ini memang sangat peka jika ada yang sedang bergosip.

“Beberapa menit sebelum pembukaan toko, Lee Taemin bertengkar dengan appanya. Aku sempat dengar kalau Taemin berjanji tidak akan mengunjungi toko ini. Yah… aku mengira ini semua karena Taemin marah pada appanya yang sempat-sempatnya merayakan pembukaan toko saat eommanya koma…” jelas Sungmin.

Cerita Sungmin barusan benar-benar membuatku ikut merasakan kesedihan yang dialami Taemin. Bolehkah aku bertelepati dengannya sekarang? Kalau boleh, aku akan menyanyikan semua lagu lullaby agar dia tertidur sejenak dari masalah-masalahnya itu. Errr, apa aku berlebihan?

Tidak juga. Aku memang benar-benar sedih saat membayangkan bagaimana penderitaan yang dirasakan namja itu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya memiliki eomma yang berada di antara hidup dan mati selama satu bulan.

“Lalu? Kau bilang tadi kau heran karena sesuatu?” tanya Jin ah tidak sabar. Sungmin refleks memukul meja, menyuruh Jin ah untuk diam, sepertinya ceritanya belum selesai.

“Dengar dulu, belum selesai! Yang membuat aku heran, namja itu malah mengunjungi toko setiap hari! Tidak ada absen! Padahal aku jelas-jelas mendengar ia bilang ‘sebelum eomma kembali, aku tidak akan mengunjungi toko ini’. Aku bersumpah! Lelaki seperti Taemin tidak akan mengingkari kalimatnya sendiri, kan?“

Bibirku membulat. Apakah Taemin orang yang munafik? Mengingkari apa yang terucap dari bibirnya sendiri? Kalau benar seperti itu pun tidak apa-apa. Semua manusia pasti memiliki kelemahan, bukan? Kebohongan Taemin lebih baik dari aku yang suka berbohong pada eomma untuk meminta uang jajan lebih setiap hari.

“Ei, siapa tahu kau salah dengar!” godaku pada Sungmin. Namja childish itu segera menyilangkan tangan di depan dada.

“Tidak, aku yakin!”

“Mungkin ia merasa tertekan, jadi ia sendiri tidak tahu yang sedang diucapkannya saat itu!” sahut Jin ah.

“Maksudmu dia tidak sadar?” tanyaku.

“Siapa yang tidak sadar?”

Kami bertiga terhenyak. Suara berat dan bayangan gelap seorang namja di atas meja membungkam mulut kami. Secara perlahan aku memutar kepala dan menahan napas saat menemukan seseorang yang sedang kami bicarakan sudah datang. Ia berdiri tegap sambil melipat dada, tatapannya mengintimidasi untuk meminta jawaban.

“Lee Taemin-ssi… A-anyyeong…”

.

.

.

Hatiku malah berdebar senang. Berkali-kali kucubit lenganku, tapi aku tidak merasakan sakit sama sekali! Jadi… apa ini mimpi? Kalau iya, aku akan menarik selimutku tinggi-tinggi, tidak mau bangun sampai kapanpun!

Aku tidak pernah mengira akan duduk di meja pojok ini dengan Taemin berada di depanku. Ia menikmati kuenya sambil melirikku diam-diam, membuatku salah tingkah. Di balik punggungnya terdapat pancaran sinar matahari yang membuat sosoknya semakin terlihat dramatis di depan mataku.

“Siapa nama –”

“Yoo In Jung imnida!” jawabku dengan kecepatan ekspress. Ia mengangguk sambil mengusap tengkuknya. Ya Tuhan, pesonanya… benar-benar…

“Taemin-ssi…” ucapku pelan, “soal yang tadi itu… tolong jangan dipikirkan. Aku dan kedua pegawaimu itu hanya melepas penat dengan menggosip. Dan… kebetulan kau menjadi salah satu bahan gossip… um… jadi…”

Gwaenchana…

Kami diam dalam waktu yang sangat lama. Jujur saja aku sangat gugup. Aku yang biasanya suka berbicara mendadap seperti orang bisu.

“Um, ngomong-ngomong, kimbbab buatan eommamu sangat enak, In Jung-ssi!!”

Jinjja?”

Eh? Sejak kapan dia merasakan kimbbab buatan eomma?

Ia mengangguk, “um-hum. Aku tidak pernah makan kimbbab selain buatan eommaku, tapi sebelum kau membawanya saat pembukaan toko dulu.”

Oh, jadi kimbbab yang kubawa waktu itu… Kukira Taemin tidak ikut makan karena seingatku, aku hanya memberi kotak kimbbab kepada para pegawai wanita dan pria bermasker hijau itu. Um, mungkin mereka membagikannya pada Taemin.

“Kau suka petir?” tanya Taemin tiba-tiba, membuatku mendongak dan menyuguhkan wajah kikuk. Mataku melayang pada pergelangan tanganku, sebuah gelang berbandul petir melingkar di sana. Aku juga meraba rambutku, ada jepit berbentuk petir yang kupakai tiap hari. Lalu aku melihat tubuhku, aku memakai kaos pink bergambar petir. Apa yang dimaksud Taemin adalah petir-petir ini?

Ah! Ne… aku suka semua yang berbau petir. Aku merasa, petir adalah sesuatu yang bersemangat dan aku juga harus bersemangat.”

Otakku tidak bisa berhenti memerintah bibirku untuk tidak tersenyum seiring dengan obrolan yang terus mengalir. Aku suka bagian dimana para pengunjung toko menatap ke meja kami berdua dengan iri. Apa di mata mereka kami terlihat cocok? Kuharap jawabannya ‘seratus persen ya!!!’.

Jantungku berdetak tidak karuan. Hei, bayangkan saja, ini pertama kalinya aku mengobrol dengan namja se-keren Taemin!

Kutunjuk roti yang bertengger manis di depan tangan Taemin, dari dulu aku penasaran dengan roti tersebut. Taemin selalu memesannya.

“Apa nama roti ini? Sejak kapan kau menyukainya?”

Ia tersenyum hangat, “ini namanya roti Éclair. Aku juga sangat mencintai si pemilik éclair …”

Taemin tertawa kecil sambil menggeleng-geleng sementara aku mengerling heran. Memang iapa pemilik éclair yang dimaksudnya itu?

Taemin memang penuh dengan teka-teki. Ternyata, namja misterius tetaplah namja misterius.

==Taemin’s mini epilog==

Annyeong, eomma” ucap seorang namja sambil mengangkat seikat bunga lily dari vas, menggantinya dengan yang baru. Ia menarik kursi untuk duduk di samping wanita paruh baya yang berbaring tak sadarkan diri di tempat tidur.

“Eomma… kemarin aku datang ke pembukaan toko roti…”

“… aku dan appa bertengkar. Apa aku salah, marah pada appa yang merayakan pembukaan toko saat eomma sedang berjuang untuk hidup disini?” meski tahu wanita yang dipanggilnya eomma itu tidak sadar, ia terus bercerita padanya. Seolah berharap wanita tersebut bisa mendengar.

“…awalnya aku berjanji tidak akan datang ke toko itu lagi. Tapi aku melanggar janjiku sendiri. Seorang yeoja mendatangiku. Ia berusaha menghiburku dengan senyum hangatnya, lalu memberiku kotak kimbbab. Rasa kimbbabnya sangat mirip seperti buatan eomma…”

“…sama seperti gambar petir di jepit rambutnya, ia seperti menularkan energinya padaku. Sejak saat itu aku selalu memesan roti éclair karena…

“…aku jatuh cinta pada si pemilik éclair…”

END

NB : Dalam bahasa Perancis, petir artinya éclair.

 

NOOOTEEE!

My first SHINee fanfic! WDYT??? :3 Kalau banyak yang respon, mungkin Kailliant bisa buatin sequelnya ^^

Kailliant harap readers gak kebingungan, ya. Sudah tahu kan, siapa identitas asli si pria bermasker hijau itu? Hehehe… Sudah tau juga kan, kenapa kok Taemin jadi suka roti éclair? ^^

Jadi maksudnya, Taemin udah jatuh cinta sama In Jung sejak diberi kimbbab. Karena In Jung suka aksesories bentuk petir, jadinya Taemin suka pesen roti éclair deh ^^

Oh ya, jangan lupa kasih author suplemen berupa komentar dan review yaa ^^

Gak komen barbell melayang ^^9

My Other Fics

Eat The Biology Up! – EXOFF

Be My First? – EXOFF

Kimchi

Another Seoul Story

Destiny

Over The Rainbow

Sweet Chocolate Ice Cream

A Cup of Hot Chocolate

3 Things | 7 Things | 1 Thing |  8 Things  |  9 Things

Advertisements

3 thoughts on “Eclair

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s