Kris’ : 8 Things

Already Published on FFIndo ^^/

8 Things

Tittle

EXOthings Series – 8 Things

 

Author

BrilliantGivya(@ KAILLIANT)

 

Casts

– Lili Huang 

– EXO-M Kris / Wu Yi Fan

 

Genre

Little bit fluff, Romance

 

Rating

PG-15

 

Disclaimer

Plot is mine. Do not take picture or plot without credit. Gak komen barbell melayang.

Percakapan yang dicetak miring itu menandakan masa lalu, ya.

And sorry, this is song fic, not oneshot as usual ><

 

© KAILLIANT

 

Summary            :

EXO has many things about love.

 

 

8 couplet of song.

 

I’ve never said this before

To tell you the truth, I felt my heart beating on that day

Saat itu aku sedang memandang jalan raya dengan kosong, lalu tersentak ketika seseorang berjongkok di depanku, kau. Aku belum sempat protes saat kau mengeluarkan berbagai obat dan peralatan penyembuh luka.

“Nuguya (siapa kau)? Apa yang kau lakukan?”

Kau hanya tersenyum jenaka, kemudian melanjutkan membersihkan luka di lututku. Aku tidak protes, layaknya saat pelayan di rumah membersihkan lukaku. Tidak tahu kenapa.

Dalam sekali tiupan, kau menepuk tanganmu dua kali dengan bangga, “selesai. Kau akan sembuh tidak lama lagi,

Harusnya aku meremehkan kalimat percaya dirimu itu, seperti biasanya saat teman-temaku melakukannya. Tapi aku juga tidak yakin kalimat itu menandakan kesombonganmu, atau kau puas bisa membantuku?

“Aku Lili,” kau menyodorkan tangan. Aku menyambut tanganmu ragu.

“Wu Yi Fan,” harusnya aku juga bilang terima kasih karena kau telah menutup lukaku. Luka yang baru saja kudapat setelah berlari dari gerbang rumah. Tapi aku terlalu gengsi untuk menyebut kata itu. Jadi sebaiknya kusimpan dulu.

“Sekarang kita sudah saling mengenal, bisa beri tahu aku bagaimana kau mendapatkan luka itu? Di saat hujan seperti ini?”

Aku memandangmu risih, kita baru mengenal, tapi kau sudah bertanya macam-macam. Umurku 17 tahun, kurasa sudah cukup umur untuk mencurigai seseorang.

Kau kembali tersenyum, “sepertinya aku harus berkenalan sekali lagi. Namaku Lili Huang. Cita-citaku adalah dokter, enam tahun lagi, saat umurku 23 tahun.”

Sepuluh tahun lagi… 23 tahun… berarti umurmu sekitar… 16 mungkin?

“Orang tuaku hendak bercerai,” ucapku kemudian, membalas pertanyaanmu sebelumnya. Pelan tapi tajam, sangat tajam hingga membuat mataku ingin mengeluarkan air lagi seperti tadi pagi. Kau terhenyak, lalu mendongak, menatap langit yang ragu-ragu akan hujan atau tidak.

“Oh, begitu. Sebulan yang lalu orang tuaku meninggal…”

Itu giliranku untuk terhenyak.

“Tapi aku tetap hidup seperti biasa. Aku tetap sekolah dan bercita-cita. Aku akan menjadi seorang dokter. Hidupku terus berjalan meskipun kehidupan orang tuaku sudah berhenti, jadi tidak masalah!”

Jelas kau berbeda denganku. Oke, hal itu seperti pembodohan total bagiku. Saat orang tuaku bilang kata cerai, aku sempat berpikir untuk kabur dari rumah, meski tidak tahu akan jadi apa nantinya. Masalah yang kita alami berbeda, tapi kau jauh lebih bijak dan mampu berpikir rasional.

Dadaku berdesir saat kau tiba-tiba menggenggam kedua tanganku, mencoba menyalurkan kekuatan.

Aku terikat oleh rasa hangat dan nyaman itu.

Since the beginning, I know

I wasn’t sure but it felt like our fate was already decided

Kurasa kita akan bertemu lagi. Aku benar, meskipun dalam situasi dan kondisi yang cukup menjengkelkan.

Kau sering menatap mataku dalam saat berpapasan di kelas biologi, matematika, dan seni rupa. Ya, kita berada dalam satu kelas di tiga pelajaran sekaligus. Tapi selama berbulan-bulan, tidak ada kalimat yang terlontar selain sebuah senyuman darimu.

Dan pandangan tajamku, pandangan mencari-waktu-yang-tepat untuk berterima kasih atas kejadian saat itu.

Hei, meski waktu yang tepat itu sering ada, aku tidak melakukannya. Sesuatu di hatiku berkata, waktuku denganmu masih banyak, jadi tidak usah terburu-buru.

Di suatu siang yang lagi-lagi mendung, aku berlatih basket. Kejadiannya begitu cepat, aku terpelanting bersama musuhku.

Lututku terluka, lagi-lagi. Lalu ada kau yang panik dikerumunan pononton.

Kau baru datang dengan obat-obatan di tangan, saat Juniel menyentuh wajahku, memastikan aku baik-baik saja.

Kau hanya mundur selangkah, menunggu Juniel mengobati lukaku hingga selesai, lalu pergi.

Apakah kau kecewa? Tapi sungguh, sebenarnya aku tidak pernah menginginkan sosok Juniel mengobati lukaku. Aku ingin orang lain, yang meskipun tidak secantik Juniel, membuatku merasa nyaman.

Kau.

Love is coming to me

It leads me toward you

It feels like a dream that

I’Il never wake up from

It really seems like a dream

Aku selalu tersenyum saat membaca nama Lili Huang di urutan ketiga di setiap test bulanan sekolah. Tepat di atasku. Berada di urutan itu sudah cukup menyenangkan, aku tidak perlu lagi mendengar guru privat yang disewa Ibuku untuk menaikkan nilai lagi. Tidak perlu.

Di suatu sore dengan rintik hujan yang halus, aku berdiri di depan sekolah. Mengulurkan tangan untuk merasakan hujan, kemudian cepat-cepat menurunkan tangan saat ada beberapa gadis yang cekikikan menatapku.

Mobilku sudah datang. Aku hampir melangkah kalau saja tidak ada kau di sana. Duduk dengan santai, membaca buku biologi. Bagus, calon dokter memang harusnya rajin membaca buku biologi.

Aku berdebat dengan supirku, kemudian mengambil payung.

Aku hanya berdiri di depanmu. Seolah mengerti, kau menutup bukumu dan ikut berlindung di bawah payung. Kita tetap bungkam, sepertinya kita tidak memerlukan bahasa lagi untuk berkomunikasi.

I remember the day we first met

You came to me on a dazzling and bright day

Selain tidak tahu dimana rumahmu, aku memang benar-benar ingin mengunjungi halte bus itu. Jadi aku mengjakmu berbelok ke arah halte bus.

Sudah berapa lama sejak kita pertama bertemu? 6 bulan? Atau lebih? Aku baru sadar aku tahan tidak berbicara pada orang yang kukenal selama 6 bulan lebih.

“Uhm… aku… terima kasih.”

Terbiasa mengucap terima kasih bukanlah sifatku. Kau tahu, butuh waktu enam bulan untuk mengatakan kalimat itu, jadi semoga kau tidak lupa aku berterima kasih untuk apa. Semoga belum kadaluarsa.

“Lenganmu terluka lagi? Kau bermain basket lagi?” tanyamu penasaran, masih dengan wajah tenang-sepanjang-masamu itu.

Apakah aku harus bilang kalau tadi aku menang pertandingan basket melawan kakak kelas dan aku melakukan three point?

“Bagaimana orang tuamu, Yi Fan?” kau memulai pembicaraan sambil mengeluarkan obat merah dan kassa. Menggulung lenganku, dan membubuhkan obat merah hati-hati.

“Mereka sudah bercerai. Ibuku bahkan lebih parah dari pada Ayahku yang ke Kanada. Beliau sering melamun dan sudah jarang mengajakku mengobrol.”

Aku merasakan gerakan tanganmu yang berhenti sebentar, “pasti kau kesal sekali, ya?”

Aku buru-buru menggeleng, “tidak. Kau pernah bilang apapun yang terjadi, kehidupan kita harus tetap berjalan.” jawabku tepat saat kau selesai melilitkan kassa ke lenganku.

Saat itu kau mendongak lalu meninju bahuku pelan. Percakapan pertama kita setelah 6 bulan itu terasa menyenangkan.

Kau hebat, Wu Yi Fan. Sayang sekali… aku tidak bisa lagi melihat pemandangan seorang remaja tujuh belas tahun duduk sendiri di halte, menangis dengan lutut yang terluka,”

Aku berdecak sebal dan kau tertawa. Ya, tawa yang membuat wajahku hangat meskipun hujan semakin deras.

Tak lama kemudian kau berhenti, hanya tersenyum.

Saat itu langsung kuputuskan, senyuman favoritku adalah yang itu.

You are smiling at me

On this beautiful day

But why are tears forming in my eyes?

Hari itu hanya kelulusan SMA, tapi ayahku datang dari Kanada, Ibuku meninggalkan bisnisnya, dan kepala sekolah khusus menyalami orang tuaku karena nilaiku yang memuaskan.

Aku tidak peduli Juniel yang terus-terusan memanggilku, atau Mai yang berkali-kali memintaku untuk foto bersama. Aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu hari ini?

Kau sedang berada di antara kerumunan siswa dan orang tuanya masing-masing. Aku benci mengatakan kalau kau datang seorang diri, tidak ada orang tua yang memelukmu dan menyelamatimu di hari kelulusan.

Kutepuk pundakmu dan mengucapkan selamat. Kemudian kau menunjukkan selembar kertas padaku, membukanya, dan berhasil membuatku terbelalak karena namamu terlampir sebagai pemilik nilai tertinggi. Aku tidak tahu karena saat itu aku datang terlambat. Kau sungguh mengagumkan.

“Orang tuamu datang, ya?” tanyamu. Aku mengangguk senang.

“Keduanya datang!”

“Chukkae! Aku harus iri padamu.” candamu. Aku hanya mendapati wajah kecewamu, ragu. Kemudian aku merengkuhmu.

Entah seperti apa wajahmu saat itu, tapi aku benar-benar ingin memberimu kehangatan dan rasa aman. Pelukanku semakin erat, kau malah tertawa kecil, menepuk-nepuk punggungku.

“Akhirnya aku dapat pelukan di hari kelulusan! Kekuatanku sudah terisi penuh, tidak se-low batt tadi. Terima kasih, charger,” kau bercanda lagi saat aku melepasmu. Aku ikut tertawa, tapi sesuatu yang aneh membuatku membeku.

Tes…

Ini aneh. Air mataku terjatuh saat tertawa di depanmu. Tiba-tiba aku teringat, malam sebelumnya Ayah merundingkan tentang pendidikanku di Kanada, dan aku menyetujuinya dengan senang.

Kau mengusap mataku saat setitik air mata kembali keluar, tapi aku malah memasang wajah kebingungan. Untuk apa juga aku menangis?

Akhirnya kutemukan jawabannya.

Aku tidak berfikir bagaimana kalau tidak ada kau disana. Aku belum terbiasa.

I hope this is a dream that I’ll never wake up from

I hope things will never change

I hope the place where love lingers

Can be somewhere we can be together

Ya Tuhan, aku melamun lagi.

Kulonggarkan dasiku yang terasa sesak, kemudian keluar dari ruang meeting ini dengan segera. Kubiarkan Huang Zhi Tao yang memanggilku kebingungan, karena rapat belum selesai.

Tak lama kemudian Sooman sajangnim menyuruh Tao tenang, beliau hanya mengangguk padaku, seolah mengizinkanku keluar. Oh, aku benar-benar bersyukur bekerja dengan manusia sepengertian dirinya.

Kuinjak pedal gas dengan perlahan sambil menata rambutku yang mungkin tidak rapi di beberapa bagian. Kemudian mobilku tepat berhenti di seberang sebuah halte.

Langit sedang rintik-rintik, dan pikiranku sedang kacau. Otomatis mengingatkanku pada memori beberapa tahun yang lalu.

Saat aku menangis di depan orang tuaku, lututku tergores pagar rumah, berlari ke halte bus untuk berteduh. Lalu kau datang, mengobati luka di lutut dan hatiku, sok akrab. Tapi aku menyukainya.

Hei, Lili Huang, bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah menjadi dokter? Bagaimana wajahmu sekarang? Apa kau sudah tahu aku kembali dari Kanada setahun yang lalu?

Dan apa kau tahu… aku selalu berhenti di depan halte ini, selama lebih dari 365 hari. Untuk menguatkan memoriku tentangmu, agar memori- memori itu tidak hilang.

It feels like a dream that

I’ll never wake up from

It really seems like a dream

I remember the day we first met

Aku berlari, tidak peduli akan semarah apa polisi kalau melihatku meninggalkan pintu mobil terbuka begitu saja. Yang penting aku harus cepat, aku harus berlari, kali ini aku tidak boleh melewatkan kesempatan.

Grep!

Walaupun hanya setetes, aku tahu itu air mataku. Aku cengeng? Terserah, yang penting aku bisa memelukmu kali ini. Memelukmu erat. Kudengar tawamu di bahuku.

“Wu Yi Fan? Kau benar Wu Yi Fan?”

Aku mengeratkan pelukanku saat kau bertanya.

“Ya. Dan kau Lili Huang.” kau tertawa senang saat aku menyebut namamu.

“Kukira tidak ada seorangpun yang mengenalku dengan penampilan rapiku seperti ini!”

“Lili Huang… Nan, jeongmal saranghae.”

Kau tiba-tiba melepaskan pelukan, memandang wajahku dengan tatapan yang tak bisa kubaca. Tolonglah, aku tidak mau mendengar kalau kau sudah memiliki kekasih sekarang, kau sudah melupakanku, dan kau hendak menamparku karena berani-beraninya mengucap cinta kepada kekasih orang lain.

Apakah aku salah tidak menyatakan perasaanku sejak dulu?

Lututku seperti berubah menjadi jelly. Sepertinya aku sudah terlambat.

Nan na do, na do, na do, na do, naaa do… saranghae, Wu Yi Fan!”

Aku menatapmu dengan tatapan tidak percaya.

You came to me on a dazzling and bright day

Thank you for coming to me

Aku mencintaimu. Aku selalu menyanyikan 8 bait lagu favoritku itu untukmu, agar memori kita di setiap baitnya tidak akan pernah hilang.

 

Kkeuut~

 

Bilang aja kalau ini the most weird fan fiction ever, nggak papa –u–

Maaf ya kalau mungkin alurnya gak pas, tapi Kailliant udah berusaha loooh. Muehe. Jadi aku membutuhkan kritik, sepedes apapun itu pasti ditampung ^^

Inget perjanjian, GAK KOMEN BARBELL MELAYANG.

My Other Fics

Eat The Biology Up! – EXOFF

Be My First? – EXOFF

Kimchi

Another Seoul Story

Destiny

Over The Rainbow

Sweet Chocolate Ice Cream

A Cup of Hot Chocolate

3 Things | 7 Things | 1 Thing |  8 Things  |  9 Things

Advertisements

7 thoughts on “Kris’ : 8 Things

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s