Mr. Refrigerator vs. Mrs. Plant (1/?)

Already posted on FFIndo ^^~

Mr. Refrigerator Mrs. Plant

Tittle

Mr. Refrigerator Mrs. Plant

Author

Brilliant Givya (@KAILLIANT)

Casts

–          EXO-K Byun Baekhyun as Byun Baekhyun

–          She’z Tae Yeon as Jung Jae Jin

Other casts

–          EXO-K Oh Sehun as Oh Sehun

–          F(x) Sulli as Kim Taerin

–          Big Bang TOP as Baekhyun’s Dad

–          SNSD Kim Taeyeon as Baekhyun’s Mom

Genre

Romance, fluff

Rating

PG-15

Disclaimer

Plot is mine. Do not take picture or plot without credit. Happy reading all! Gak komen barbell melayang.

 

© KAILLIANT

Summary            :

Baekhyun berusaha menolak perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya dengan berpura-pura berpacaran dengan rivalnya, Jung Jae Jin. Apa saja yang terjadi jika dua orang yang sebenarnya saling membenci mencoba untuk bersama? Berhasilkah rencana Baekhyun?

<><><>

Tidak ada yang tahu ini merupakan keberuntungan atau bahkan kesialan bagi Jae Jin. Tapi gadis itu berusaha untuk berpikir realistis.

Seperti seminggu sebelumnya, Seoul kembali diguyur hujan. Beberapa jalan untuk para pejalan kaki becek- menyebabkan Jae Jin kesulitan berlari. Apalagi ia harus bergegas karena tidak membawa payung.

Sebenarnya sekolah sudah berakhir sejak satu jam yang lalu. Hanya saja tadi ia sibuk turun ke jalan untuk membagikan beberapa biji bunga matahari, yang menjadi salah satu sosialisasi proyek penghijauannya bersama beberapa anggota fotografi.

Ketika ia hampir sampai di halte bus dekat sekolah, tiba-tiba suara klakson sebuah mobil mengagetkannya. Jae Jin otomatis berhenti, dan sedetik kemudian terkejut saat melihat si pemilik keluar dari mobilnya. Pria itu membawa payung dan menarik Jae Jin untuk masuk mobil.

Byun Baekhyun.

Inilah yang dimaksud Jae Jin sebagai keberuntungan atau kesialan. Apa ini mimpi? Baekhyun menawarkan bantuan?

Byun Baekhyun dan Jung Jae Jin bergabung di paduan suara dan fotografi. Jae Jin tidak begitu dekat dengan lelaki bermarga Byun itu. Selain terlalu pendiam, Baekhyun juga tidak pernah menunjukkan respon positif terhadap berbagai argument yang dilontarkan Jae Jin demi kemajuan klub.

Baekhyun yang galak, dingin, dan tak segan untuk mengeluarkan ocehan setajam pisau ketika merasa terganggu. Bahkan Jae Jin pernah menjadi korban ketajaman mulutnya ketika mempromosikan proyek penghijauan di klub fotografi.

Lalu kali ini, kemana sikap dingin itu? Ikut melumer bersama hujan?

Didesak keadaan, akhirnya Jae Jin mau memasuki Audi hitam Baekhyun, menghempaskan tubuhnya di jok yang terasa nyaman sambil menggosok-gosok telapak tangannya. Meski begitu, ia mengawasi Baekhyun dengan was-was. Dua tahun merasakan kedinginan sifat Baekhyun sedikit membuatnya takut jika harus berada satu mobil.

“Apa yang kau lihat?” bentak Baekhyun seperti biasanya, galak. Jae Jin menciut.

“Ti… dak.” kali ini Jae Jin harus mengalah atau diturunkan  di pinggir jalan oleh Baekhyun dengan tidak etis.

“Baekhyun-ssi…” panggil Jae Jin. Baekhyun mengangkat dagu untuk menunjukkan respon.

“… kau masih sehat, kan?”

Jae Jin sedikit merutuki dirinya yang telah mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa seorang Byun Baekhyun mau memberiku tumpangan—menolongku? Kukira kau membenciku. Setiap aku menyampaikan pendapat, kau satu-satunya orang yang selalu diam dengan tatapan meremehkan,”

“Aku tidak membencimu,” Baekhyun masih memfokuskan pandangan pada jalan raya yang terlihat sedikit kabur karena derasnya hujan, “Go green? Menurutku itu konyol, jadi aku hanya membenci seluruh ide dan argumenmu.”

CIh! Sama saja!

Mereka sama-sama terdiam hingga Baekhyun meminggirkan mobilnya tepat di depan Tous Les Jours.

“Jung Jae Jin!”

“Ya?”

“Jadilah kekasihku.”

“N-ne?!!!”

<><><>

Lelaki itu terhenyak. Ia yang paling tahu tentang dirinya sendiri. Dan ia tahu bagaimana ciri-ciri ketika ia sedang jatuh cinta.

Jantungnya berdetak, napasnya tercekat, dan manik matanya terpaku pada satu objek. Ia yakin ini jatuh cinta.

“Tuan muda Oh Sehun? Bisakah kita pergi sekarang?”

“Sebentar,” ucapnya tanpa mengubah posisi.

Supirnya yang merupakan seorang gadis itu terlihat penasaran dengan apa yang diamati oleh tuannya.

Objek yang diamati Sehun itu sedang tersenyum sambil membagikan kantung kecil kepada para pejalan kaki, entah apa isinya. Rambutnya pendek sebahu, senyumnya tidak pernah berhenti sedari tadi. Tidak ada yang spesial dari gadis itu. Ya, gadis itu. Sehun tidak tahu siapa namanya, ia baru bertemu lima menit yang lalu.

Tes… Tes… Tes…

Udara mendingin ketika guyuran air turun dari langit. Gadis itu terlihat panik. Teman-temannya berhamburan untuk mencari tempat berteduh, begitu juga dengannya. Secara refleks Oh Sehun menggeret sebuah payung putih dari kakinya, lalu kabur dari mobil, meninggalkan supirnya yang langsung kelabakan. Ia langsung menyeberang jalan, tidak mengindahkan makian dari pengendara mobil yang hampir menyerempet tubuhnya.

Yang ia pedulikan hanya satu, gadis itu. Payung putih di tangan Oh Sehun harus bisa melindungi gadis itu.

Senyumnya sedikit mengembang ketika jarak dengan gadis itu semakin sempit. Saat kurang beberapa langkah lagi, tiba-tiba sebuah Audi hitam berhenti di depannya. Seorang lelaki berseragam sama dengan gadis itu keluar, dan menariknya menuju pintu mobil. Sehun tidak bisa melihat wajah lelaki yang memunggunginya itu, padahal ia measa sedikit tidak asing dengan gesture tubuh itu.

Gadis itu memasuki mobil, dan buyarlah segala harapan Sehun untuk memandangnya dari dekat. Perasaan Sehun hancur dalam hitungan detik. Apa ia kurang cepat saat berlari tadi? Atau ini bukan keberuntungannya?

Pasti lelaki itu pacarnya.

“Tuan muda, kenapa payungnya dilepas? Nanti anda bisa sakit,” tiba-tiba seorang gadis bertubuh tegap sudah datang untuk memayunginya. Ya Tuhan, bahkan Sehun tidak sadar kalau payung yang dipegangnya tadi sudah terkulai ke bawah. Tubuhnya-pun kini sudah basah kuyup karena hujan.

Padahal ia sempat bersyukur. Ia benci hujan, tapi ini pertama kalinya ia tersenyum saat hujan.

“Masih banyak gadis di dunia ini, kan, Taerin-ah?” tanya Sehun pada supirnya sambil menunduk. Gadis di sebelahnya terlihat tertegun, kemudian tersenyum hangat.

“Tentu saja!”

Meskipun Sehun tahu kalimat Taerin barusan tidak berasuransi, Sehun tetap tersenyum. Entah mengapa, ia selalu percaya pada semua perkataan supirnya itu.

<><><>

Nafsu makan Jung Jae Jin mendadak hilang selama dua hari. Ia yang biasanya melahap habis bermacam-macam kue di kantin—hingga mengambil jatah milik Nana– kini hanya duduk dengan ekspresi kosong. Sepertinya Nana sendiri tidak tahu harus senang karena tidak ada yang mencomot makanannya lagi, atau justru bersedih karena sahabatnya yang mendadak tidak nafsu pada makanan.

“Jadilah kekasihku.”

“N-ne???”

“Kau tidak mau balas budi karena kutolong hari ini?”

“Ta… tapi… aku tidak menyukaimu, aku tidak bohong. Ke- kenapa tiba-tiba seperti ini?”

“Hanya satu bulan, jadilah kekasihku hanya satu bulan. Jebal (kumohon)…”

“Eh?”

“Kuanggap kau mau saja. Apa salahnya mencoba?”

“Eeeeh? Oke-baik, satu bulan. Aku akan mencoba.“

 

Jae Jin tersadar dan memukul dahinya pelan, tidak menyangka betapa bodohnya ia menerima tawaran Baekhyun saat itu.

Hei, ini Baekhyun, orang yang auranya lebih menyeramkan ketika Jae Jin menggemborkan proyek go green-nya!

Mengapa Jae Jin menerimanya? Apa mungkin karena wajah Baekhyun yang imut dan tampan itu? Atau… karena ini pertama kalinya ia ditembak oleh orang yang populer?

Apa alasan Baekhyun di balik semua ini, ia bahkan tidak tahu.

Jae Jin mengacak rambut pendeknya, “ARRRGGGHHH!”

Bruak!!!

Gadis itu lalu membenturkan kepalan tangannya ke atas meja, membuat kentang goreng di atas piring Nana berhamburan kemana-mana.

<><><>

Baekhyun memasuki ruang tamunya yang lengang, lalu meletakkan kunci mobil di atas sebuah meja keramik. Ia tidak menyadari kedua orang tuanya yang sedang menunggunya di ruang tengah.

“Baekhyun-ah, hows your day?”

Nice,” Baekhyun menjawab pertanyaan Tuan Byun dengan wajah yang ditekuk, kebiasaannya.

“Apakah kau bertemu dengan Alice di sekolah? Ini hari pertamanya–”

“Sudahlah, Dad… Sampai kapanpun aku tidak setuju dengan perjodohan itu. Aku tidak suka sifatnya, aku tidak suka Alice, that’s all.

Nyonya Byun tersenyum, ”benar kau tidak suka Alice? buktinya?”

“Oh, apa tadi aku sudah bilang kalau aku punya kekasih?” ucap Baekhyun bangga sambil duduk di atas sofa. Ia menyelonjorkan kakinya yang sedikit pegal setelah berlatih basket tadi siang. Senyum penuh kemenangan terlukis saat melihat reaksi kedua orang tuanya.

Mereka tampak terkejut, saling berpandangan tidak percaya.

Baekhyun tahu, bukan tanpa tujuan menjodohkan anak tunggal mereka dengan putri tunggal relasi perusahaannya, Alice. Karena selama ini ia terkesan tertutup dan tidak suka menjalin sebuah hubungan khusus dengan lawan jenis, seperti remaja pada umumnya. Mereka hanya khawatir Baekhyun tidak bisa menemukan pendamping hidup yang tepat dan layak suatu saat nanti.

Dan, mudah ditebak oleh Baekhyun. Mereka sedikit ragu saat tiba-tiba ia berkata sudah punya kekasih.

Wow, okay…” Tuan Byun membetulkan posisi duduknya, “great. Kapan Dad dan Mom bisa bertemu dengan kekasihmu?”

Haha, Dad… Aku masih delapan belas tahun!”

“Tidak ada salahnya, kan, mempersiapkan masa depan sejak umur delapan belas tahun?”

“Masa depan apanya?” Ia beranjak, “baiklah, aku akan menunjukkan gadisku pada kalian secepatnya. Just give us time,

Kedua orangtuanya tersenyum hangat saat Baekhyun pergi ke kamar. Ia menutup pintu kamarnya dan bersandar disana. Dihembuskannya napas pelan-pelan.

Ia juga tidak mengerti kenapa harus mengajak Jae Jin dalam permainan ini. Padahal sebelumnya, nama Jae Jin ada dalam daftar orang yang selalu mendapat death glare darinya. Pasti karena tadi Jae Jin tiba-tiba muncul pikirannya kacau.

Ayolah, dia itu Jung Jae Jin yang selalu memasukkan proyek Save The Earth Green, hingga dijuluki ‘hutan berjalan’Aneh. Ia bahkan heran, bagaimana bisa proyek penghijauan bisa masuk di program kerja klub fotografi? Itu sangat out of the topic.

Parahnya, hutan berjalan itu malah menjadi gadis pertama yang diajaknya bicara dalam jarak sedekat tadi. Pantas saja tadi jantungnya berdetak tak kauan, tidak bisa diajak kompromi untuk tenang.

Satu hal yang Baekhyun harapkan, semoga ia tidak salah telah memilih Jae Jin.

<><><>

“Yak! Taerin-ssi, kenapa lama sekali, sih?”

Tidak peduli sedang di mobil atau sudah masuk ke rumah, Song Alice terus mengomel. Pasalnya, supir baru keluarganya itu terlambat menjemputnya. Sudah berkali-kali Alice bilang pada supir yang seumuran dengannya itu kalau Alice paling benci menunggu.

“Aaah… soal itu… tadi aku ikut rapat klub di sekolah,” jawab Taerin ragu.

“Yang benar? Sehun Oppa, kau kan satu sekolah dengan Taerin, apa itu benar?”

Oh Sehun yang masih berdiri di ambang pintu langsung menghampiri adiknya. Meskipun status Oh Sehun adalah kakaknya, Alice lebih takut pada Sehun dari pada Ayahnya. Wajah kakaknya itu sangat tajam dan dingin. Bahkan beberapa teman Alice yang pernah bertemu dengan Sehun menjuluki kakaknya itu ‘lemari es’.

“Lalu kenapa kalau Taerin telat menjemputmu? Jarak sekolah barumu dengan sekolahku kan lumayan jauh. Lagi pula ini semua salahmu, kau sendiri yang meminta pindah sekolah hanya demi si Byun Baekhyun itu, kan? Cih, tanggung sendiri resikonya!”

Alice menelan salivanya dengan perlahan. Kalau menyangkut masalah itu, ia tidak bisa membantah lagi. Ia tahu, Sehun tidak setuju dengan perjodohannya dengan putra tunggal keluarga Byun. Kakaknya hanya tidak ingin Alice sakit hati karena Baekhyun yang sepertinya juga tidak setuju dengan perjodohan itu. Tapi Alice sudah terlanjur tertarik pada Byun Baekhyun.

Saat Sehun sudah agak jauh, Alice melirik Taerin tajam, “kau! Oppa marah padaku. Gara-gara kau!”

Tanpa disadarinya, ternyata Sehun kembali lagi. Lelaki itu menggeret lengan Taerin, melindunginya dari intimidasi Alice.

“Kubilang ini salahmu, bukan salah Taerin!”

Ne… ne…

<><><>

Hari ini tekad Jae Jin sudah bulat. Whatever happen, jangan hiraukan Baekhyun. Meskipun waktu itu Jae Jin mencubit pipinya sendiri setelah Bakhyun mengantarkan sampai depan pagar rumah, ia bersikukuh menganggap hal itu adalah mimpi.

“Santai, Jae Jin! Kau bukan pacar Byun Baekhyun!” Jae Jin bermonolog.

Namun sialnya, tepat saat ia melewati koridor utama, sosok Baekhyun yang angkuh itu datang. Meluluh lantahkan seluruh kepercayaan diri yang terlanjur dibangun Jae Jin sejak pagi.

Jae Jin hanya mampu menahan napas saat melihat Baekhyun berhenti tepat di depannya. Hei, sejak kapan Jung Jae Jin seciut ini di depan Byun Baekhyun? Hanya gara-gara penembakan kemarin?

Jantung Jae Jin bertetak kencang lagi, seperti ketika Baekhyun meminta untuk menjadi kekasihnya kemarin.

Morning, Jung Jae Jin!” sapa Baekhyun santai.

“Pa-gi. Kau… tidak serius menjadikanku sebagai kekasihmu, kan?”

“Aku tidak pernah tidak serius, Jung Jae Jin,” Baekhyun mengambil langkah di pinggir gadis itu.

“Tapi… apa alasannya?”

“Apakah jatuh cinta butuh alasan?” ucap Baekhyun yang semakin santai, membuat Jae Jin mengehentikan ayunan kakinya. Gila. Ini gila. Jantungnya berdetak sangat kencag, hingga ia tidak bisa mendengar suara di sekitarnya lagi.

“Aku tahu, ini hanya bagian dari jebakanmu, ya kan?” Jae Jin menatap Baekhyun.

Tatapan Baekhyun pada mata Jae Jin langsung berpindah, “um… sudah sampai kelasmu. Aku duluan, sampai jumpa Jae Jin!”

Sebelum Baekhyun pergi, ia melakukan sesuatu yang Jae Jin berjanji tidak akan melupakannya seumur hidup. Baekhyun menyentuh puncak kepala Jae Jin pelan, dengan senyum hangat terlukis di wajahnya. Jae Jin hanya bisa mematung sambil memegang puncak kepalanya saat Baekhyun pergi.

Tidak ada death glare apalagi kata-kata tajam. Ini sangat bukan Byun Baekhyun!

Jae Jin harus bersiap, inilah titik balik kehidupannya.

<><><>

“Kenapa wajahmu lemas sekali, Baekki?”

Baekhyun, yang sedang memikirkan cara untuk membuat Jae Jin menerima tawarannya, tersentak. Ia menoleh dan mendapati Alice di sana. Berdiri anggun dengan seragam yang bermotif sama dengan miliknya.

Oh, shit, dia sekolah di sini?

Baekhyun memiliki wajah yang sangat dingin. Apalagi di hadapan Alice, gadis manja yang membuatnya merasa terganggu sejak pertemuan pertama.

Bagaimana cara Alice berbicara tentang kekayaan keluarganya, bagaimana cara Alice dan ibunya memuji keluarga Byun, bagaimana cara Alice berbicara padanya… semua- membuat Baekhyun terganggu. Itulah sebabnya ia menolak mentah-mentah saat tahu akan dijodohkan dengan gadis semacam Alice.

“Menyenangkan sekali bisa berada dalam satu sekolah dengan calon tunanganku. Yah… meskipun tidak sekelas!” seru Alice kemudian. Sebuah senyuman mampir di bibir Baekhyun sekilas, lega. Bukan karena satu sekolah dengan Alice, melainkan karena tidak satu kelas dengannya.

“Kupikir kau sudah tahu kalau aku menolak perjodohan konyol ini dari dulu, Song Alice,” ucap Baekhyun langsung.

Alice sedikit terkejut, namun ia bisa mengatasi dengan memasang senyum angkuh, “ah, ya… semalam Nyonya Byun bilang, Byun Baekhyun sudah memiliki kekasih baru. Benarkah itu, Baekki?”

Dengan bangga Baekhyun mengangguk.

Chukkae! Tapi aku yakin kau dan kekasih barumu itu tidak akan bertahan lama. Aku akan membuatmu mencintaiku,” Alice tersenyum sangat manis, yang disambut tawa sederhana dari Bekhyun.

Baiklah, kita mulai permainan ini.

<><><>

“Tidak ada gunanya memasukkan proyek penghijauan seperti itu ke dalam klub fotografi! Aku yakin, kesadaran akan lingkungan pasti hanya musiman! Open your eyes wide, kita hidup di zaman modern! Bumi sudah terlanjur rusak, mau apa lagi?”

Terngiang kembali kalimat pedas yang dilontarkan Byun Baekhyun beberapa waktu lalu, membuatnya kesal.

Jae Jin memasuki ruang perpustakaan yang tenang. Sebenarnya Jae Jin bukanlah tipe murid kutu buku, yang suka mengunjungi ruang ini setiap hari. Tapi ia harus menggali referensi sebanyak mungkin untuk proyek Go Green-nya.

Ini semua demi tameng, karena sekarang bertambah lagi antisnya. Ada adik kelas bernama Park Chanyeol yang mulai suka menyangkal pendapatnya tentang penghijauan, jadi ia harus bisa meyakinkan adik kelas itu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan buku yang dibutuhkan. Ia menghampiri meja administrasi, mengeluarkan kartu pelajar sebagai syarat untuk menyewa buku.

Saat ia sedang menunggu petugas selesai mencatat, tiba-tiba matanya tertumbuk pada satu objek. Sesuatu yang membuat tingkat kejenuhan di otaknya semakin tinggi akhir-akhir ini.

Byun Baekhyun, si arogan itu menyandarkan kepala di atas kedua tangannya yang bertumpuk. Ia tertidur pulas, seolah tidak menyadari kalau sedari tadi beberapa junior mengamatinya, bahkan ada yang memotretnya diam-diam.

Jae Jin memutuskan untuk menunggu. Entah apa yang ditunggunya, ia sendiri tidak paham. Namun ketika ruang perpustakaan sudah sepi, ia beranjak mendekati Baekhyun yang masih saja tertidur pulas.

Jae Jin tertawa meremehkan, bahkan saat tidur wajah berjuluk ‘lemari es’ nya itu masih tampak jelas. Apa karena kadar kedinginannya sudah maksimal?

“Hei, manusia lemari es…” bisik Jae Jin dengan nada mengejek, takut membangunkan Baekhyun dari tidur juga.

“… sok jahat, sok berkuasa, si raja sok Byun Baekhyun…” Jae Jin berdiri di samping Baekhyun, “sebenarnya apa maksudmu dibalik semua ini?”

Melihat posisi Baekhyun yang tetap pulas, Jae Jin semakin bersemangat mengeluarkan semua unek-uneknya.

“Jujur saja… aku sering berharap kau dan anggota klub yang lain bisa membantu menjalankan proyek-proyek besarku, tapi sayangnya kau seperti menolak mentah-mentah proyekku… ”

“Tapi, setelah kejadian itu, saat kau memintaku untuk menjadi kekasihmu, sebaiknya harapanku berubah…”

“… kau membuat beban di otakku semakin banyak. Jadi, aku berharap kau hilang dari hidupku secepatnya! Tapi sebelum itu, kau harus bilang apa alasan memintaku menjadi kekasihmu. Sudah, itu saja.”

Kemudian Jae Jin mengembuskan napasnya. Lega, benar-benar lega. Beban di pikirannya sedikit hilang. Jae Jin mengemasi barang-barangnya dan meninggakan sosok Baekhyun yang terlihat semakin pulas.

<><><>

Jae Jin menggaruk-garuk dahinya yang jadi gatal setelah melihat deretan rumus matematika. Ia harus bisa menyelesaikan soal ini, ia tidak boleh menyerah. Meskipun sebentar lagi liburan, ia tidak boleh bermalas-malasan.

“Hei, sudah pukul empat. Sebentar lagi pulang sekolah!” karena guru yang mengajar di jam terakhir hari ini absen, Chanyeol yang duduk di depan Jae Jin bersorak sangat kencang. Jae Jin tersenyum menanggapinya.

“Pssttt… Jae Jin…” Jae Jin merasa seseorang menyikutnya. Ia menoleh, ternyata Nana sudah berdiri di sampingnya dengan mata yang melirik-lirik pintu was-was.

“Kenapa?”

“Baekhyun…”

“Si lemari es itu? Kenap-”

“Dia di depan pintu! Sepertinya mencarimu… Oh, Ya Tuhan, BENAR KAN?!” Nana memekik tepat saat  Baekhyun melambaikan tangannya pada Jae Jin. Jelas sekali, Baekhyun meminta gadis itu keluar menemuinya.

“Itu benar-benar Baekhyun?” Aerin yang sedari tadi sibuk membaca buku katalog tiba-tiba memandang Jae Jin, meminta kepastian. Jae Jin hanya mengangguk ragu pada teman sekelasnya itu.

“Sejak kapan kau bersama Baekhyun?” pandangan Aerin semakin tajam, sementara di sana Baekhyun terlihat sudah tidak sabar menunggu Jae Jin.

Melihat sahabatnya yang kebingungan menjawab pertanyaan Aerin, Nana langsung menyahut untuk menolong Jae Jin, “tenang saja, Aerin-ah! Jae Jin tidak akan menjadi sainganmu, dia tidak tertarik pada Baekhyun,”

Nana tahu Aerin menyukai Baekhyun sejak lama, tepatnya setelah menyaksikannya bermain piano saat perayaan malam tahun baru. Pasti tatapan tajam Aerin pada Jae Jin tadi sebagai bentuk kecemburuannya.

Jae Jin melempar senyum terima kasih pada Nana sebelum keluar dari kelas. Dihampirinya Baekhyun yang terlihat sumringah saat Jae Jin keluar. Sebenarnya Jae Jin tidak ingin terlalu percaya diri, tapi jantungnya terlanjur berdetak senang ketika melihat reaksi Baekhyun itu.

“Kau ada perlu denganku?”

Baekhyun mengangguk, “ayo ke Dongdaemun, Jae Jin-ah! Kita akan belanja!”

What?” harusnya Jae Jin mengucapkan kata ‘what’ itu dua kali. Satu karena panggilan ‘Jae Jin-ah’ dari Baekhyun, satu lagi karena lelaki itu mengajaknya ke Dongdaemun.

Baekhyun menarik lengannya.

<><><>

Bukan Jae Jin kalau tidak suka mengumpat dalam hati. Seperti saat ini, saat ia dihadapkan dengan situasi dimana ia harus pergi dengan Baekhyun. Hanya berdua.

Bukankah ini terkesan seperti… errr… kencan?

“Kita tiba-tiba sedekat ini, ini tidak wajar! Lama-lama aku akan gila!” desis Jae Jin.

Baekhyun menoleh, “kau sudah gila dari dulu.”

“Aiiishhh!“

Jae Jin yakin Baekhyun masih ingat kalau tawaran lelaki itu belum diterima, karena belum ada kata ‘iya’ dari Jae Jin. Dimana-mana, laki-laki harusnya bersifat manis agar pernyataan sukanya diterima. Bukannya mengatainya gila seperti tadi!

“Kau grogi bisa berjalan berdua bersama orang menarik sepertiku?”

Wow, luar biasa. Bahkan si lemari es itu mengajaknya bercanda? Jae Jin langsung membuang muka. Baik, ia tidak munafik pada pandangan beberapa gadis barusan ketika melihat wajah menarik Baekhyun.

Just enjoy it. Kita pacaran sekarang, jalan berdua bukanlah masalah.”

Jae Jin  mengumpat pelan saat Baekhyun menyebut kata ‘pacaran’.

Tiba-tiba Bekhyun menatap wajah Jae Jin dengan tatapan penuh arti. Meskipun wajahnya masih menunjukkan sikap arogan, Jae Jin tidak mau berbohong kalau ia terbius dengan tatapan itu.

A… aku. Jae Jin, aku…”

Jae Jin terkejut. Seolah peredaran darahnya seketika berhenti berfungsi, ketika lelaki di depannya menarik tubuhnya. Memeluknya sangat erat.

Saranghae…”

“Mwo?!”

 Kkeuut~

To Be Continued

 

Hayoo, gimana, penasaran gaak sama kelanjutan ‘lemari es-hutan jalan couple’ ini?

Kekeke, penasaran dong? Ya? Ya? Hehe maksa ya? Nggak papa. -__-a

Ini masih part pertama, jadinya Baekhyun & Jae Jin momen (plus skinship) nya masih sedikit. Kan udah tahu semua nih, focus ceritanya ke mereka, jadi peran Sehun cuma secuil-cuil ^^

Setelah kalian baca tolong tinggalin komen dikit aja, ya. Kalau respon bagus, Kailliant lanjutin 🙂 Ayoo, keroyok comment box nya ^^9

My Other Fics

Eat The Biology Up! – EXOFF

Be My First? – EXOFF

Kimchi

Another Seoul Story

Destiny

Over The Rainbow

Sweet Chocolate Ice Cream

A Cup of Hot Chocolate

3 Things | 7 Things | 1 Thing |  8 Things  |  9 Things

Advertisements

4 thoughts on “Mr. Refrigerator vs. Mrs. Plant (1/?)

  1. wah, aku yang pertama komen ya? *celingak celinguk*

    seonsaengnim annyeong haseyo. Aku reader baru di soff ~
    dan aku suka paper seonsaem yang disana! SUKA SEKALI!
    Sayangnya di soff, paper seonsaem hanya ada 2, jadi aku cari2 blog seonsaem. Dan ketemu!! Hahahah!

    Seonsaem, ffnya bnr2 gemesin! Aku suka semua bagian dari ff ini! Jadi jgn tnya ya suka bagian yg mana, karena aku suka semua!

    Bdw, itu Jae Jin sama kayak aku /gk sma2 amat sih/. Selalu tebar2 go green dmana2. Hehehe. Jae Jin, fighting!

    Oia. Crta perjodohan dan yg kyk gni kan udah biasa aku baca, ya seonsaem. Tapi gk tw knp ff ini beneran gemesin! Tau lah .. Pokoknya saya suka!
    Haha.

    Kailliant seonsaengnim fighting!!

    1. Hai snowpinkku, kamu yang dulu pernah mentionan di twitter kaan ^^
      thanks yaa, beneran dehh, Bril tersipu badai baca komen plus review kamu. Maklum, Bril udah kelas 2 jadi sibuk banget u.u tuh Bril barusan nge-post something new ^^

      Tunggu comebacknya Bril yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s