Beep Beep

Author : Brilliant Givya/ KAILLIANT | Title : Beep… Beep… | Casts : Wu Yifan, IU as Minjung Myungsoo | Rating : NC17

©KAILLIANT

“Sekarang aku ingin bermain dengan kalian…sebelum kalian mendengar bunyi beep… beep…”

beep-beep

Pukul 9 malam adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa tingkat akhir sekolah menengah atas Hannyoung. Tes kelulusan sebentar lagi, dan itu artinya belajar di sekolah hingga malam. Belum lagi status sekolah sebagai Foreign School, mewajibkan mereka untuk mengikuti test 2 bahasa asing yang mereka pilih di awal tahun pelajaran.

Dua orang siswa terlihat saling membalap untuk meraih pintu kelas, padahal bel belum berbunyi. Mereka Wu Yifan dan Kim Minjung- dikenal sebagai partner in crime–  menubruk apapun yang ada di depan mereka: Taeyeon yang membereskan bangku, bahkan kepala Chanyeol yang sedang mengambil bolpoin dari lantai. Dalam waktu beberapa detik, kelas itu sudah ramai dengan ucapan sumpah serapah. Meskipun bukan pemandangan baru lagi, aksi balapan sebelum guru keluar itu cukup menghibur setelah penat berkutat dengan buku.

“Wu Yifan! Kim Minjung! Kalian lagi!” teriakan guru Hong hanya digubris satu kalimat sederhana, “kan pelajaannya sudah selesai!” teriak si anak perempuan, Minjung, di ambang pintu. Lalu bagaikan seorang maling di kantor polisi, ia melesat begitu saja.
Minjung sudah sampai di gerbang. Ia melompat-lompat penuh kemenangan karena sampai lebih awal. Sahabatnya, si Wufan, masih jauh di belakang. Sepertinya Wufan terhalang arus siswa yang juga ingin cepat pulang.
“Aku menang! Aku menang!” seru Minjung senang, tepat saat Wufan berhenti di pinggirnya dengan napas berantakan.

Arra, arra! partner in crime, kau menang kali ini!” jawab Wufan kemudian.

Jangan salah menilai Wufan. Jika ditilik dari penampilannya yang atletis, semua orang tidak akan percaya kalau anak lelaki tersebut lemah dalam urusan olahraga. Lebih-lebih berlari. Dalam bungkusan wajah menarik dan tinggi tubuh yang proporsional, tak jarang Wufan membuat kesalahan di jam olahraga. Wufan tidak pernah gagal membuat guru olahraga mengomel setiap minggu, karena ia tidak mampu menyelesaikan  sprint sampai garis finish, kakinya tidak bisa mengapung di permukaan saat berenang, hingga lemparan bola yang selalu mengenai murid lain saat pelajaran olah raga.

Kalau saja tidak bagus di bidang fisika dan matematika, Minjung bersumpah, Wufan adalah lelaki terpayah yang pernah ditemuinya.

Minjung menyodorkan sebotol air mineral yang disambut gembira oleh Wufan. Dilihatnya Wufan diam-diam, lalu seperti orang bodoh, ia tersenyum kecil. Semua tindakan Wufan adalah hiburan khusus baginya.

“Minjung-ah…” Wufan membuka suara, sambil melepas kebosanan sebelum meraih halte bus yang masih cukup jauh. Halte bus terdekat berjarak sekitar 250 meter dari gerbang sekolah.  Tetapi sekitar seminggu yang lalu terjadi kecelakaan beruntun yang menyebabkan halte itu rusak dan harus diperbaiki. Minjung sempat melihatnya kemarin, dan ia bergidik ngeri. Halte itu lebih terlihat seperti habis diserang ratusan shinobi (pasukan ninja di anime Naruto) daripada ditubruk sebuah mobil. Jadi untuk beberapa hari ke depan, terpaksa ia dan Wufan harus berjalan lebih jauh untuk mencapai halte darurat.

“Hmmm?” jawab Minjung dalam beberapa saat.
“Kau tahu tidak, kenapa halte itu hancur lebur?”
Minjung mengiyakan pertanyaan Wufan, “kudengar ada kecelakaan beruntun yang melibatkan truk semen dan SUV…”
“Tidakkah kau merasa ada yang ganjal dengan kecelakaan itu?” pertanyaan Wufan itu cukup membuat alis Minjung terangkat.

“Janggal?”
“Begini, apa itu masuk akal, sebuah mobil SUV yang kecil dapat merobohkan bangunan halte, light banner, sampai pilarnya?”
Mendengarnya, Minjung seperti menyadari sesuatu, dan ia pun mengangguk. Ia cukup mengakui berapa digit IQ Wufan walaupun baru mengenalnya saat kenaikan kelas tahun lalu. Benar juga, halte bus di Seoul umumnya terbuat dari pilar besi yang kokoh, bahkan untuk membuat pelapis atapnya, pemerintah membutuhkan waktu lebih dari dua bulan agar tetap kokoh. Cukup janggal jika mobil SUV yang terbilang kecil dapat merubuhkan halte berpilar tersebut.
Untuk beberapa saat, mereka kembali diam. Ketika melewati banner yang sedang memutar sponsor sebuah handphone merk terbaru, Wufan lagi lagi tidak bisa menahan mulutnya untuk mengoceh. Setahu Minjung, Wufan memang sangat cerewet.

“Minjung-ah! Kau pernah dengar teror beep beep? Kau percaya dengan teror beep beep?”

Tawa Minjung pecah dalam sedetik. Perempuan itu memegangi perutnya, seolah mengejek Wufan yang cemberut. Apa yang salah dengan ucapannya?
“Hei, jangan cemberut! Oke, oke! Aku berhenti tertawa!” Minjung merangkul bahu Wufan sebagai permintaan maaf, “lucu saja, kau bisa tau teror bbeep beep. Biasanya ‘kan anak lelaki tidak percaya dengan hal mistis!” ucap Minjung.

Tetapi mendadak ia sedikit takut. Siapa yang tidak tahu teror beep beep? Sebuah panggilan akan masuk ke handphonemu, dan kau harus mau melakukan apa yang diperintahkan oleh si penelpon misterius. Kalau tidak, si penelpon akan mengirimkan berbagai kesialan yang akan menimpa si korban. Dan jika nasibmu sial, telepon itu akan terputus sehingga terdengar bunyi beep… beep… maka saat itulah nyawamu akan melayang sia-sia.

Setidaknya itu yang Minjung tahu dari cerita yang beredar di kalangan netizen. Korban hanya selamat kalau tidak ada bunyi beep beep di handphonenya.
Tring… Tring…
Handphone Wufan tiba-tiba berbunyi. Minjung terkesiap, wajah Wufan pun terkejut. Minjung semakin bergidik, setelah membayangkan tentang teror beep beep barusan, anehnyasuara panggila masuk itu terdengar menyeramkan.
Wufan hendak mengeluarkan ponsel dari satu hoodienya, tapi ditahan oleh Minjung, “Jangan, Wufan. Bagaimana kalau itu teror beep beep?”
Glek! Satu telan saliva yang pahit baginya, melihat layar ponsel Wufan menampilkan sebuah private number.
“Lihat, private number! I said, dont pick it up, Wufan!” tanpa sadar Minjung membentak.
“Minjung-ah… ada apa denganmu, eoh? Kenapa kau jadi ketakutan seperti ini” Wufan terkekeh geli sambil menyentuh puncak kepala Minjung yang sedikit lebih pendek darinya, menepuknya dengan sayang.
“Tadi aku hanya bertanya sedikit tentang terror beep beep, mengapa kau jadi ketakutan setengah mati, eh? Haha.. lucu sekali”
“Wufan. Kubilang. Jangan. Diangkat.”
Wufan tersenyum jahil. Sengaja mengangkat layar ponsel di depan matanya dan memencet tombol accept.
Yeoboseyo?” ucap Wufan.
Hening. Tak ada jawaban sama sekali, itu yang bisa ditangkap oleh Minjung karena memang itu kenyataannya. Meski bukan psikolog, ia tahu Wufan juga tengah ketakutan seperti dirinya. Semua orang juga akan ketakutan kalau tidak ada satupun suara saat sudah mengangkat panggilan masuk. Segera direbutnya handphone itu dan memencet tombol merah.

“Aneh, kok tidak ada suara sama sekali, ya?” tanya Wufan.
“Kubilang apa, hah? Mempercayai teror beep beep memang terdengar bodoh. Tapi kalau teror itu benar benar ada dan kita adalah korban selanjutnya, bagaimana?!”

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Sedikit shock dengan kejadian barusan. Mereka kira ada hubungannya dengan teror beep beep. Udara malam semakin dingin. Wufan pun melepas jaketnya dan memberikan pada Minjung yang terus bersin sedari tadi. Tiba-tiba sebuah dering telepon kembali membuat perjalanan mereka terhenti.
Bersama-sama, Wufan dan Minjung melihat layar ponsel. Napas mereka tertahan. Lagi lagi private number… Tanpa meminta keputusan Minjung, Wufan menekan tombol accept serta tombol loudspeaker. Tangannya bergetar.
Yeoboseyo…” ucap Wufan.
Keduanya saling menatap. Ketakutan jelas-jelas ada.
Yeoboseyo?” Wufan mengulang sekali lagi. Sementara disampingnya, Minjung merasa lututnya berubah mejadi pasir, hampir tidak kuat menopang tubuh karena ketakutan. Yang ada dipikirannya adalah, bagaimana kalau mereka adalah korban teror beep beep yang selanjutnya?
“Yah! Mian, Wufan-ah! Ponselku dipakai mainan oleh keponakanku yang masih kecil. Sedari tadi ia menelpon semua nomor yang ada di kontak! Aish, saldoku menipis! Sudah ya, kututup!!!”

Itu suara si cempreng Myungsoo. Biasanya Minjung malas saat mendengar suara cempreng yang secepat kereta itu. Namun untuk kali ini Minjung sangat berterimakasih, setidaknya bukan suara si peneror misterius. Wufan pun menepuk bahu Minjung.
“Minjung-ah! Kita memang terlalu parno. Lagipula mana ada terror semacam itu? Ayo kita pulang!” ia sedikit tertawa saat menggeret leher Minjung dengan lengan kanannya. Tapi lagi-lagi ponsel Wufan berdering, membuat Minjung kesal dan langsung merebutnya. Ia mengangkat panggilan itu dan bersumpah akan memarahi keponakan Myungsoo habis-habisan.
“Yah! Anak kecil, jangan bermain dengan handphone paman Myungsoo! Kembalikan handphonenya ke pamanmu, sasar bocah!”
Yeoboseyo… Bagaimana kalau bermain-main sebentar denganmu, Minjung-ssi?”

Napas Minjung tercekat. Suara di ponsel itu berat, tidak mungkin kalau itu suara Myungsoo, apalagi keponakannya. Lagipula bagaimana bisa orang diseberang mengetahui kalau namanya Minjung? Padahal ini ponsel milik Wufan. Dilihatnya ponsel, tertera tulisan private number di sana. Seolah mengerti apa yang terjadi, Wufan menekan tombol loudspeaker.
“Siapa ini?” tanya Wufan pelan.

“Oh, anyyeong, Wufan-ssi!” suara itu seolah memiliki kekuatan berbeda yang mampu membuat Minjung ketakutan.
“Kau siapa?” ulangnya.
Ah, itu rahasia! Sekarang aku ingin bermain dengan kalian…” orang itu tertawa sebentar, “...sebelum kalian mendengar bunyi beep… beep…”
Demi apapun juga, Minjung sudah kehilangan napasnya. Apa yang ditakutkannya sedari tadi akhirnya muncul juga. Teror beep beep… pantas saja tadi pagi ibunya melarangnya berangkat ke sekolah karena memiliki firasat yang buruk. Inikah arti firasat itu?
“Wufan, matikan handphonemu! Cepat matikan!!!” bentak Minjung tepat sebelum orang misterius itu berdehem,
Sekarang cepat matikan loudspeakermu dan jangan tutup teleponnya. Kalau kalian tidak menurutiku…”
Mereka berdua menunggu kalimat selanjutnya, dan dalam hitungan detik, tiba-tiba seekor kucing liar mengeong kasar dan meraih lengan Minjung. Tanpa menunggu waktu, kuku-kuku kasar kucing itu berhasil memberi bekas sayatan yang cukup dalam pada pergelangan tangan Minjung. Tepat di pembuluh darahnya.
Minjung berteriak. Air mata yang turun tidak kalah deras dengan darah merah yang keluar tiada henti. Walaupun hanya luka kecil, hal itu sangat-sangat perih.
“… aku akan membunuh kalian.
Tanpa pikir panjang, Wufan langsung menuruti penelpon misterius itu. Ia mematikan loudspeaker, menempelkan ponsel itu di telinga, serta menarik lengan Minjung untuk segera menjauh dari kucing itu.
Hei, santai, Wufan! Tidak perlu tergesa-gesa seperti itu!
“Kau mengawas kami?”
Tidak… hanya membuntuti kalian…” jawaban itu membuat Wufan menoleh kesana-kemari. Ia pun berhenti sebentar untuk merobek kaus basket dari dalam ransel, lalu membalutkannya pada pergelangan tangan Minjung agar pendarahannya cepat berhenti. Perempuan di depannya itu masih terisak sambil menggenggam lengan baju Wufan seerat yang dia bisa.
First play. Aku ingin kalian lari. Sekarang!!!
Wufan mengambil ponsel yang sempat diletakkan di atas tanah dan kebingungan saat mendengar perintah itu, “ne? lari? ”
Kubilang lari!”
Wufan langsung menyeret lengan Minjung dan berlari kencang. Minjung mengikutinya meskipun dengan langkah yang terseok-seok. Banyak pejalan kaki yang melihat mereka dengan tatapan aneh. Oh, bahkan di tempat seramai ini, mereka tetap merasa terpojok dan kesepian. Memang siapa yang bisa menolong mereka?
“Wufan-ah… aku lelah. Tidak bisakah kita berhenti sebentar saja?”
“Tidak, Minjung! Orang itu memerintahkan kita untuk terus berlari!”
Mereka belum melihat, semerah apa kain putih yang sedang membalut tangan Minjung. Berlari membuat jantung manusia berdetak lebih cepat dari keadaan normal, aliran darah pun mengalir sangat cepat. Menyebabkan darah terus mengalir dan tak kunjung membeku. Bahkan kain itu sudah mengeluarkan tetesan-tetesan darah yang merembes.
Entah sudah berapa menit mereka berlari tak karuan seperti ini. Saat Minjung berhenti berlari karena terjatuh, suara di seberang telepon langsung menggertak marah dan secara tiba-tiba sebuah baliho besar hampir menimpa Minjung kalau saja Wufan tidak menariknya.
“Sampai kapan kita seperti ini?” tanya Wufan pada hanphonenya. Dari cara bicaranya dengan intonasi rendah dan napas tersengal-sengal, orang bodoh pun tahu Wufan kelelahan.
Kalian sudah lelah?” tanya suara berat itu. “Oke, berhenti!”
Kaki jenjang Wufan langsung berhenti, walaupun sedikit sulit karena tadi larinya sangat kencang. Ditambah ia menggenggam tangan Minjung. Tubuhnya jatuh di atas aspal, disusul Minjung yang menindihnya sedetik kemudian.
Nice position, Wufan-ssi. Apa kau tahu, Minjung sangatlah manis,“
Wufan menepuk-bepuk dadanya sambil terbatuk, “bisakah kau membebaskan kami?”
Membebaskan kalian? Untuk apa?”
“Memang untuk apa kau menjadikan kami korban?”

Sementara itu Minjung kesusahan mengatur napasnya. Ia bangun dan mengamati wajah Wufan, memberi tatapan ‘apa yang sedang kau dengar?’. Ia merasa suhu tubuhnya semakin tinggi. Sakit yang sempat mendera pergelangan tangannya tadi sudah tidak terasa. Diamatinya keadaan sekitar. Mereka sedang berada di tepi jalan raya yang cukup sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Dimana ini? Sejauh itukah mereka berlari?
Andai saja Minjung menyadari bahwa bibirnya memucat. Ia sudah kehilangan banyak darah.
Tangan Minjung langsung mengambil alih handphone dari genggaman Wufan.
“Kau, apa maumu sekarang?” bentak Minjung.
Bertemu lagi, Minjung-ssi! Ngomong-ngomong, apa kau melihat sebuah bak sampah di sebelah kirimu?
Minjung segera menoleh dan memang ada sebuah bak sampah bertengger tak jauh dari sisi kirinya, “ya, ada bak sampah.”
“Ambillah salah satu tikus di sana. Bedah perutnya menggunakan bolpoin di ranselmu.”

Gila, ini gila!
Minjung tertawa masam sambil menangis saat itu juga. Di sampingnya, Wufan sedang menangkup pipinya erat, “Minjung-ah, jangan menangis! Dia bilang apa?”
Minjung berusaha menjawab dengan tenang, “Ia ingin aku membunuh tikus di bak sampah untuk mengambil cincinnya… Wufan-ah, bagimana ini?”
Mata Wufan berpindah-pindah, dari Minjung yang sedang menangis ke handphone secara bergantian. Ia melempar pandangan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun. “Mengambil cincin di perut tikus? A… atau aku saja yang melakukannya?” penawaran itu langsung dijawab gelengan oleh Minjung. Penelpon misterius itu menginginkan Minjung yang melakukannya, tentu ia tidak boleh melempar tugas nya pada Wufan semaunya.
Wufan segera menempelkan ponsel di telinga, seperti ingin bernegoisasi dengan peneror itu. Tetapi sayangnya, suara mencekam tersebut kembali menginterupsi sebelum ia sempat bicara apapun, “Kuhitung sampai tiga, kalau Minjung tidak melakukannya…
“Minjung, ia menghitung sampai tiga! Cepat ambil tikusnya!”
Minjung tidak pernah menyangka, nasibnya akan berakhir seperti ini. Minjung rindu ibunya. Ia ingin kepalanya dibelai oleh tangan ibu sebelum tidur. Ia juga merindukan ayahnya. Ia ingin pergi memancing bersama di waktu senggang. Ia rindu kamarnya…
Tanpa terasa setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk mata Minjung.
Tangan Minjung gemetaran ketika masuk ke bak sampah. Ia memejamkan mata dan merasakan sesuatu bergerak-gerak di sana. Tikus. Dalam jumlah banyak. Dan masih hidup.  Setelah memantapkan hati, ia mencengkeram salah satu benda yang bergerak tak karuan itu, lalu membantingnya ke tanah. Terus menerus, hingga hewan menjijikkan bernama tikus itu tak bernyawa.
Kemudian Wufan melempar sebuah bolpoin padanya, yang nantinya digunakan Minjung untuk membedah perut hewan di tangannya itu.
…ia sudah membedah 3 tikus… namun tidak ada satupun cincin di dalamnya…
Minjung terus menangis sambil membedah. Benar-benar muak pada pemandangan menjijikkan di depannya. Apa ini? Usus, darah, lendir…
Saat mengambil tikus ke-empat dari bak sampah, ia menjerit karena salah satu tikus telah menggigit jari telunjuknya.
“Cukup… cukup!!! AKu tidak mau melakukan ini!!!” teriak Minjung frustasi. Ia menendang bak sampah hingga seluruh tikus yang terkurung di dalamnya bisa kabur dengan bebas. Dihampirinya Wufan yang masih menempelkan handphone di telinga. “bilang padanya, aku tidak sanggup lagi membedah tikus-tikus itu!!! Bilang padanya, aku ingin pulang ke rumah, jangan bunuh aku!”
Wufan pun mengulangi kalimat yang diteriakkan sahabatnya itu dengan terbata-bata. Suasana mencekam hanya diisi oleh isak tangis Minjung. Tak lama kemudian Wufan menoleh.
“Ia bilang, ia marah… kau tidak menuruti permintaannya. Tikus yang membawa cincinnya sudah kabur. Ia benar-benar marah padamu…”
Minjung tertawa masam dan merebut handphone itu dalam sekali hentakan.
“DASAR GILA!”
Beep… beep… beep… beep…
Oh, tidak… suara beep beep.

Detik selanjutnya, sebuah truk menghantam tubuh Minjung dengan hebat. Truk itu terperosok ke sungai setelah menyeret tubuh Minjungdengan membabi buta di sepanjang aspal. Tubuh Minjung terlempar tepat di tengah jalan. Tidak bisa bergerak, ia juga kehilangan kaki kanannya. Kini tubuhnya seperti sebuah pipa air yang dilubangi di banyak tempat. Darah mengucur di mana-mana.
Sebelum kedua matanya benar-benar tertutup, ia dapat melihat Wufan yang berdiri mematung di pinggir jalan. Wufan… Seharusnya lelaki itu tidak menyaksikan ini semua. Sebelum mati. Ia ingin berterima kasih padanya yang telah menjadi salah satu sahabat terbaiknya.
Tapi… tiba-tiba Wufan tersenyum. Senyumnya berbeda.
Itu senyum kemenangan. Seolah puas menyaksikan tubuh Minjung yang kini tak berdaya.
Minjung pun ingat, tadi Wufan yang memberinya bolpoin untuk membunuh dan membedah perut tikus.
Padahal ia tidak pernah memberi tahu Wufan kalau ia harus membunuh tikus dengan bolpoin…

Di saat kelopak mata Minjung menyempit, senyum Wufan malah semakin lebar… Wufan tertawa.

Kkeut~

Butuh perjuangan berat untuk fic ini. Kompi lagi rusak, jadi terpaksa ngetik di handphone yang keypadnya gak selega keyboard kompi.
Ini bener-bener karya yang Bril buat dengan pemikiran yang matang. Lihat aja, tokoh Kris di sini adalah lelaki yang cerewet, lemah di bidang olah raga, dan psycho. Beda banget kan, sama tokoh-tokoh Kris yang biasa kamu jumpai di fanfiction lain. Lalu si Myungsoo… ini pertama kalinya Bril pakai karakter Myungsoo. Di sini Myungsoo dinistakan juga menjadi orang bersuara cempreng. Untuk kali ini, Bril bener-bener ingin meninggalkan ‘sisi Kris dan Myungsoo yang lain’ pada kalian. Nggak selamanya mereka berdua as cool as you tough. XD

Satu-satunya semangat Bril adalah komentar kalian. So, please give me spirit by review, critic, and comment ^^

Advertisements

40 thoughts on “Beep Beep

  1. salut banget deh buat perjuangan eonni nulis fanfic ini,, pokoknya keren banget fanfic nya ,,,, daebak !!! ^-^

  2. ah, jadi parno gini aku abis baca ff >.<
    tapi aku suka kris yang diam-diam mematikan(?) *smirk*
    maaf yaa di chapter sebelumnya aku ga comment u,u
    buat lagi thor ff yg model ginian, tapi castnya ganti, baekhyun ato dyo kalo bisa, hohoho *sekali-kali gapapalah ya anak kalem dinistakan xD

  3. Aaaa..baca ini bener2 gak biasa . Wufan psycho.. Kereeeen!!!
    Sekaligus menyeramkan. Kata2 yg menyeramkan bisa dibuat simpel sekaligus ngena. Keren, Kak!
    Anyway, aku pendatang baru. 🙂
    Salan kenal.. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s