Bluestand Time (Project Duet Kailliant x Zoya x WinterSeoul)

page

Title : Bluestand Time | Rating: G | Genre: Forever Fluff | Casts: SHINee Minho & f(x) Sulli ; EXO Baekyun & IU ; SJ Siwon & T-ara Jiyeon

© KAILLIANT

Welcome to the Bluestand.

Sulli – Minho

Sulli duduk di sebelah kaca, di balik tulisan “Bluestand Café” yang besar. Sebenarnya kafe ini bukanlah tempat favoritnya. Daripada tempat ini, ia lebih suka toko roti perancis yang ada di perempatan jalan. Tapi yang aneh, hujan selalu turun tepat saat ia melewati kafe ini sepulang dari sekolah. Jadi jangan salahkan dia kalau selalu menumpang berteduh di sini tanpa membeli makanan atau minuman apapun.

Ia merogoh saku saat merasakan ada sesuatu yang bergetar, ponselnya. Tanpa melihat siapa si penelpon, ia menerima panggilan itu.

Yeoboseyo? Sulli-ah, apa yang sedang kau lakukan?”

Mata Sulli melebar mendengarnya. Buru-buru ia melihat layar ponsel dan semakin terkejut saat mendapati nama ‘Choi Minho’ tertera di sana. Yang ia tahu, sudah berminggu-minggu Minho drop out dari sekolah karena penyakitnya. Orang tua Minho mengajaknya ke Jepang untuk mendapat pengobatan yang lebih khusus dan private. Hal itu tidak berlebihan mengingat penyakit yang diderita Minho adalah kanker otak. Semua sangat sedih saat pertama kali mendengar kabar buruk tentang Minho itu.
“Aku sedang melihat hujan. Bagaimana denganmu, Sulli?” ucap Minho lagi dengan suara lemah dan hampir berbisik untuk mematahkan lamunan Sulli.
Ya Tuhan, padahal baru beberapa minggu Minho tidak lagi muncul di depannya. Tetapi saat ia bercanda dengan Minho, saling menraktir ubi bakar di depan sekolah, juga saat mengusilinya, rasanya seperti ratusan tahun yang lalu. Ia merindukan saat-saat itu. Tak terasa ia menangis.

“Yaa! Min-ah! Aku sangat merindukanmu!” ucap Sulli ditengah isakannya. Ia mendengar Minho tertawa kecil di seberang sana, lalu terbatuk pelan.

“Terkadang aku berpikir, apakah aku bisa sekolah lagi? Apa suatu hari nanti aku masih bisa mewakili kelas dalam pertandingan marathon, membolos di kelas Guru Hong, menarik kuncir kudamu… ?” Minho tertawa lagi.

“Aku sangat merindukanmu!” Sulli tak bisa berkata-kata lagi hingga hanya itu kalimat yang bisa diucapkannya sedari tadi.

Andai Sulli diberi keempatan untuk bertemu dan bernegoisasi dengan Tuhan, satu-satunya kalimat yang akan dikatakannya adalah, ‘jangan ada penyakit kanker’. Karena Sulli benci bagaimana penyakit itu bisa menyita kehidupan Minho seluruhnya.Choi Minho yang terakhir dilihatnya adalah lelaki dengan tubuh lemah dan suka batuk. Bahkan sebelum drop out dari sekolah, Minho adalah penghuni tetap ruang kesehatan selama dua minggu berturut-turut.

Sulli mengalihkan matanya dari langit-langit kafe ke kaca di depannya. Dan saat itu juga, matanya bertubrukan dengan sepasang mata tajam di balik kaca. Ia terkesiap, mata itu milik Choi Minho. Lelaki itu kini sedang berdiri di depannya, menempelkan sebuah ponsel ke telinga, hanya kaca yang membatasi mereka. Tak ketinggalan senyumnya yang hangat.

Ia membalas senyuman Minho, ikut mengukurkan tangan ke permukaan kaca seperti yang Minho lakukan pada detik sebelumnya. Jalan Sulli masih panjang, dan Minho masih punya harapan. Melalui kaca itu, mereka menyalurkan apa yang ada di pikiran masing-masing: perasaan, impian, dan masih banyak lagi. Kaca itu akan mereka ubah menjadi udara, agar tidak ada satupun medium yang memisahkan impian mereka yang saling melengkapi. Minho ingin sembuh, dan Sulli ingin menjadi tenaga medis yang menyembuhkannya.

“Tepati janjimu, ya… Belajarlah yang rajin, dan sembuhkanlah aku…”

Klik!

Bruk!

IU – Baekhyun

Wajah Ji Eun menegang. Ia menyaksikan Song Joongki menampar Lee Taeyeon secara langsung. Itu bukan hal yang menyakitkan kalau kedua nama tadi bukanlah nama orangtuanya.
Prang!!!
Suara vas pecah mengiringi derap kaki Ji Eun. Ia berlari ke manapun kakinya mau.
Beberapa saat kemudian, ia telah meringkuk di bawah meja sebuah kafe. Yang Ji Euningat, setelah melihat tulisan ”Bluestand Café”, ia langsung memasuki sebuah tempat makan yang ramai.

Ji Eun kini memeluk kedua lututnya. Tubuhnya dipayungi oleh meja kafe, dengan pemandangan berbagai macam kaki pengunjung yang berlalu-lalang.

Ia tidak pernah menyukai keributan. Setiap kali terjadi keributan antara kedua orang tuanya- yang akhir-akhir ini sering terjadi- ia pasti berusaha melarikan diri ke manapun yang kakinya mau. Ji Eun cukup tahu diri dengan status sebagai anak angkat di rumah tersebut.
Tiba-tiba sepasang tangan hangat menangkup pipinya, mengenai sisa air mata yang masih membekas.

“Hei!” ucap seorang anak lelaki yang tengah berjongkok di depannya. Ia memakai seragam sekolah yang bagus. Tertulis Byun Baekhyun sebagai name tag-nya.

Terkadang Ji Eun mengunjungi rumah anak lelaki itu untuk sekedar melihat koleksi seragam yang bagus. Ji Euningin memakai atau memiliki seragam-seragam seperti milik Baekhyun, sayangnya ia tidak pernah satu sekolah dengan Baekhyun. Ji Eun bersekolah di dekolah khusus.

“Ji Eun-ah… kenapa kau pergi begitu saja? Aku mengejarmu sampai lensa kameraku pecah.” Baekhyun menunjukkan sebuah kamera yang menggantung di leher. Tidak ada moncong seperti kebanyakan kamera. Melihatnya, Ji Eun merasa bersalah dan kembali menangis.

“Eeei, uljima! Aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Maaf…”

“…ibuku membeli cupcake lezat di toko Laduree tadi pagi! Kau suka, kan? Ayo ke rumahku, sebelum hujan turun lagi!” lanjut Baekhyun . Beberapa pengunjung mulai melihati mereka yang sedang meringkuk berdua di bawah meja, melempari mereka dengan tatapan aneh. Tapi Baekhyun tidak memedulikannya dan menarik lengan Ji Eun untuk beranjak.

Tapi sebelum keluar dari tempatnya, Ji Eun menggerak-gerakkan jarinya, membentuk berbagai simbol yang berbunyi, “aku lupa memakai alas kaki.

Baekhyun langsung melirik kaki Ji Eun dan terkikik, “aku akan menggendongmu. Otte?” jawabnya.

Jemari Ji Eun kembali bergerak untuk membentuk berbagai simbol di tangan, “besok aku membuatkan pencake untuk bekal sekolahmu sebagai imbalannya.

Baekhyun mengangguk senang sambil keluar dari kolong meja. Sementara Ji Eun, teman sebayanya yang sangat manis itu, keluar tak lama kemudian. Ia menyodorkan punggungnya untuk Ji Eun, lalu dengan santai pergi dari kafe dengan Ji Eun di punggungnya. Perempuan di punggungnya lumayan berat, tapi ia sama sekali tidak keberatan untuk menggendongnya.

“Mulai saat ini, kalau air matamu akan keluar, datang saja ke rumahku. Aku akan menghapusnya kapan saja.”

Jiyeon – Siwon

Buku menu bertuliskan Bluestand itu sudah tersaji rapi di atas meja begitu Jiyeon datang. Ia duduk untuk meraih buku itu. Perutnya sudah berbunyi sedari tadi, dan ia tidak sabar untuk mencicipi makanan-makanan khas kafe yang lezat.

Ketika ia mencatat daftar pesanan, tiba-tiba seorang pelayan – entah bagaimana bisa- menumpahkan segelas jus berwarna kemerahan di rok putihnya.

Jiyeon pun memekik, memenuhi seluruh kafe yang tentram dengan suara yang melengking tinggi. Padahal rok putihnya itu baru dibelinya tadi pagi. Ia tidak tahu harus dengan cara apa mendapatkan uang sepuluh ribu won-nya kembali.

Mianhamnida, agasshi.” pelayan di pinggirnya berkali-kali membungkuk. Kalau saja Jiyeon bukan perempuan yang bisa menahan kesabaran dan kelakuan di muka umum, pelayan itu pasti sudah habis dengan jurus taekwondonya. Asal tahu saja, bulan ini ia akan mendapat sabuk hitam sebagai wujud usahanya dari kecil berlatih.

Dont do it again.” Jiyeon menggembungkan pipi tanda kesal. Ia berdiri untuk membersihkan noda di roknya di westafel terdekat, namun…

Kraaak…

Jiyeon menoleh dan- mampus!– itu suara rok sobek! Rok barunya! Bagian belakangnya kini sudah berlubang sebesar piring, sementara sobekannya tengah menempel di kursi yang tadi didudukinya.

Wajah Jiyeon sudah semerah buah ceri. Ia buru-buru merebut nampan yang sedang dibawa oleh pelayan tadi untuk menutupi roknya.

Jiyeon hampir berteriak saking kesalnya. Siapa sih, orang bodoh yang tega membubuhkan lem di kursi kafe? Apa motifnya sehingga Jiyeon harus menjadi korban? Ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Beberapa pengunjung menatapnya dengan pandangan kasihan, dan Jiyeon benci itu. Mereka hanya bisa mengasihani tanpa melakukan apapun.

Jiyeon membuat pilihan untuk pergi dari tempat itu, saat tiba-tiba sebuah petasan meledak tepat di atas mejanya. Ia pun melompat kaget sambil melindungi kepalanya. Ya Tuhan, apa lagi ini?

Seumur-umur ia tidak pernah tahu ada yang nekat menyalakan petasan di dalam kafe. Bentuk bibir Jiyeon pun melengkung ke bawah. Satu persatu masalah datang, seolah mereka membuntuti ke manapun langkah Jiyeon pergi. Dari tumpahan jus di roknya hingga petasan. Jiyeon memang jarang mendapat keberuntungan, tetapi tidak pernah sesial ini dalam hidupnya.

“Yaaa! Siapa orang bodoh yang menyalakan petasan di dalam kafe?!” teriak Jiyeon. Cukup aneh, padahal tidak ada seorangpun yang berdiri di dekat mejanya untuk menyalakan petasan. Pelayan yang tadi juga tidak mungkin, karena ia menunduk terus di pinggirnya. Di dorong rasa penasaran, ia mengamati keadaan mejanya.

Ternyata petasan tadi telah menimbulkan jejak gosong di atas meja.Tak jauh dari itu, ia menemukan abu bekas tali petasan yang dibakar.

Jiyeon menyusuri kemana sumbernya abu tersebut.

Ketika sampai di dapur, seseorang mengejutkannya dengan sebuket mawar biru yang sangat cantik.
Saengil chukkae hamnida… saengil chukkae uri Jiyeon…

Jiyeon mendengus dan malah memukul si pemilik suara yang sedang bernyanyi itu dengan nampannya. Lelaki yang sedang dipukulinya, Choi Siwon, mengaduh dan membalas dengan memukulkan buket bunga ke tangan Jiyeon.

“Yaaa! Ini-ini, pukul saja aku dengan bunga ini! Jangan dengan nampan, bahuku sakit sekali. YAAA!”

“Lihat ulahmu ini!” Jiyeon berbalik untuk menunjukkan roknya yang bolong. Untung saja ia sudah memakai legging hitam sebagai dalaman, “ini rok baru, bodoh! Dasar iseng! Aku tidak suka dikerjai seperti ini!”

“Hari ini kan ulang tahunmu! Jadi itu caramu mengucap terima kasih?”

“Iya! Wae?”

Teriakan yang bersahutan pun terus berlanjut. Para pegawai dan bartista kembali mengulum senyum melihat bos mereka dipukuli lagi oleh Jiyeon. Mereka sudah hapal, ketika seorang oerempuan bernama Jiyeon datang ke kafe, sikap wibawa dan dewasa Choi Siwon rehat sebentar. Berganti menjadi Choi Siwon yang kekanak-kanakan dan mudah ditindas.

“Bagaimana, ini? Katanya Choi Siwon-nim mau memberi benda ini pada Jiyeon?” salah satu pegawai menunjukkan kotak cincin cantik milik bosnya pada pegawai yang lain, “mereka tidak mau berhenti bertengkar. Apa lamarannya tidak jadi hari ini?”

Kkeut~

Kecuali Sulli-Minho, couple di atas itu couple ngasal bikinan Bril. Hehe.

Dan lewat fic ini Bril mengumumkan, untuk sementara nggak bisa bales komen lagi satu-persatu sampai minggu depan. Karena Senin Bril sudah UAS. Aih nggak nyangka time goes this fast :”)

Sudah tau kan, satu-satunya semangat Bril untuk nulis ya cuma komentar dari readers. Ditunggu kritiknya, mungkin ada yang bisa nemuin typo /as always/

Advertisements

26 thoughts on “Bluestand Time (Project Duet Kailliant x Zoya x WinterSeoul)

  1. BaekU shipper di sini^^
    Keren pas Bagian BaeKU couple hehe

    yaealah secara aq ngeship mereka bgt XD

    Kapan2 Bikin Ff EXoIU lg ya
    please,Jebal etc.
    hehe

    Semoga Dpt Ide ya buat bikin FF ExoIU
    #ngarep

    Hwaiting thor

  2. Waaaa!!!!!!!!!!….
    sumpah demi apa, cerita bagian IU-Baekhyun DAEBAK!!! BAK BAK BAK #lebay
    haiii aq reader baru juga loooh, baru ketemu blog ini siiih… ^^
    salam kenal ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s