Flying Deaths 1

Title: The Choosen Part 1 | Casts :

IU as Aerin

SHINee Taemin as Taemin

EXO Kai as Kai

Genre : Fantasy, Romance | Rating: General | Disclaimer :

Do not take the post without full credit and permission

This fic is spesial for my beloved reader, Rayuha ^^

© KAILLIANT

IU

Siang itu berjalan seperti biasanya. pukul dua siang, dimana tangan kekar Amber  telah berada di leher Aerin. Di gang sempit becek di sebelah timur sekolah Hannyoung. Biasanya Aerin tidak memberontak, cukup menyadari kalau tindakannya yang suka melaporkan kenakalan Amber membolos kelas kepada guru konseling adalah cukup menyakiti hati Amber.

Tiba-tiba Aerin yang selalu terlihat tenang itu berteriak, “Amber, lepaskan aku! Cepat! Kumohon, Amber!”

Mendengarnya, Amber dan dua ‘pasukan’ di belakangnya tertawa konyol, sejak kapan kasus pembullyan bisa berakhir begitu mudahnya?

“Ya, kau pikir sebegitu mudahnya aku membiarkanmu bebas kali ini? Kau sudah keterlaluan!” ucap Ah Jung, seseorang dengan tinggi badan yang menjulang.

Tak disangka-sangka, Aerin menggigit lengan Amber, dan mendorongnya hingga terjembab. masa bodoh Amber akan marah, toh pada akhirnya ia akan disiksa kembali keesokan harinya. Aerin berlari, meninggalkan gang sempit itu untuk menyusuri zebra cross yang masih bertanda merah. Lalu hal yang terjadi beberapa kali akhir-akhir ini kembali disaksikan Amber dan kedua temannya.

Aerin menyelamatkan nyawa manusia, lagi. Kalau Aerin menyelamatkan hal berharga bagi manusia itu hanya sekali, Amber tidak akan sekaget ini. Masalahnya ini adalah ketiga kalinya Amber menyaksikan aksi Aerin.  Jika kemarin Amber melihat anak perempuan bertubuh kurus itu menyelamatkan orang lain yang hendak bunuh diri di atap gedung, kali ini Aerin menyelamatkan pejalan kaki yang hendak ditabrak sepeda motor. Amber hanya bisa menganga, sementara Aerin merintih kesakitan karena sikunya yang tergores aspal setelah mendorong seorang wanita, di seberang jalan.

“Tidakkah kalian merasa Aerin aneh? Ia seakan memiliki jadwal kematian orang lain.” Sulli yang mematung di sebelah Amber bergidik.

Amber langsung memungut tasnya yang tergeletak, “ayo kita pergi! Aerin cukup berbahaya!”

Di belakang mereka, seorang anak lelaki yang memakai seragam serupa tengah bersanding di pinggir tiang lampu. Kulitnya gelap, tatapannya tajam. Ia memandang Aerin dengan sedikit takut, juga penasaran.

“Aerin… kau lagi?”

Aerin menyunggingkan senyum tipis saat menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Langit mulai menunjukkan tanda-tanda matahari akan kembali bersembunyi, dan ia suka hal ini. 17 nyawa. Ya, ia berhasil menyelamatkan 17 nyawa hanya dalam tiga hari. Meskipun perasaan takut ketika melihat malaikat maut yang terbang menuju sasarannya itu ada, Aerin mencoba untuk menguatkan mentalnya. Ia merasa menjadi berguna untuk pertama kali selama 17 tahun hidup. Sejak kecil ia hanya bisa menangis diam-diam saat melihat malaikat maut mencabut nyawa manusia, kemampuan aneh yang dimilikinya secara turun temurun di keluarganya. Namun tiga hari yang lalu ia memutuskan untuk mengubah takdirnya- dan orang lain. Menyelamatkan manusia tidak sesulit bayangannya.

Tanpa mengetuk pintu, ia menerobos masuk ke dalam rumah yang sudah dikenalnya sejak bayi. Ada wanita yang meringkuk di pojokan ruang tamu. Wanita itu ibunya. Aerin berusaha menahan hasrat untuk menghambur memeluk ibunya, memilih untuk melepas sepatu terlebih dahulu.

“Umma, aku pulang…” ucap Aetrin lirih. Tersirat nada yang kecewa, karena sosok ibu yang tengah dihadapinya kali ini sedang menangis sambil memeluk lututnya. Apakah ibunya gila? Tidak, tidak. tidak. Aerin meneguhkan hatinya.

“Umma, aku sudah menyelamatkan 17 nyawa…” ibunya mendongak saat Aerin memberi jeda, “Aku akan menyelamatkan lebih banyak nyawa lagi. Jangan merasa bersalah lagi, umma…”

“Berjanjilah padaku, selamatkan lebih banyak lagi. Umma tidak ingin beban itu semakin berat”
Aerin melemparkan senyuman, berharap orang yang menurunkan kemampuan khusus di depannya itu tidak dapat menangkap tatapan lelahnya.

Aerin memperhatikan keterangan guru Bahasa Inggris di muka kelas dengan seksama. Sebenarnya, ia lebih tertarik ke luar jendela, mengamati para pencabut nyawa itu berkeliaran di langit sepanjang jalan. Sayangnya ini Bahasa Inggris, pelajaran terlemahnya. Suasana kelas yang sedikit tenang mulai terganggu saat seseorang mengetuk pintu.

“Oh, kau anak baru dari Jepang yang tadi di kantor kepala sekolah, bukan?” suara guru Hong itu hanyalah angin lewat bagi Aerin. Peduli apa ia pada anak baru? Baiklah, anak baru itu cukup menarik. Bahkan salah satu anak berambut panjang  di bangku terpojok pun sempat memekik girang saat melihat betapa menariknya wajah si anak baru. Tetapi Aerin tidak cukup bodoh untuk bereaksi seperti itu.

“Silahkan perkenalkan dirimu.”

“Lee… Taemin imnida.” Selesai memperkenalkan diri, guru Hong menunjuk salah satu bangku di pinggir jendela untuknya. Namun anak baru itu terlihat keberatan.

Oh, sialan cepatlah duduk, bodoh! Gerutu Aerin dalam hati. Tatapannya kembali terpaku ke luar jendela. Seolah jendela itu akan menghilan kalau dia tidak melihatnya terus-menerus.

“Aku ingin duduk di sana.”

Ia masih belum mengerti apa yang sedang terjadi, sebelum jendela di depannya memantulkan situasi saat ini. Seisi kelas sedang menatapnya. Ia langsung berbalik dengan wajah ‘ada apa?’ dan mendapati telunjuk si anak baru itu terangkat ke arahnya. Semuanya heran, tak terkecuali Amber yang membenci semua hal yang berhubungan dengan Aerin. Setajam apapun mata Amber padanya, Aerin benar-benar tak peduli pada perempuan jadi-jadian itu.

Guru Hong memecah kesunyian, “tapi dia sudah memiliki teman sebangku. Bangkumu di sebelah sana, nak. Cepatlah duduk dan jangan buang waktuku.” ucapnya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Namun lagi-lagi telunjuk Taemin terulur pada Aerin, “aku ingin memiliki tempat duduk bersama Aerin.”

Ia menciptakan suasana yang sedikit canggung. Mungkin Aerin perlu membcaca seluruh kamus besar di dunia ini. Dan siapa tahu arti Taemin adalah langit. Ya, langit. Sesuatu yang menyimpan berjuta-juta rahasia di baliknya..

Alasan di balik Taemin lebih memilih Aerin dibandingkan 26 siswa lain di kelas ini, dan seperti stalker, anak baru itu mengetahui namanya. Tidak ada yang tahu.

Sejak Aerin terlahir, inilah hal pertama yang berhasil menyita pikirannya dari para malikat maut di luar sana. Tanpa mengindahkan perintah guru Hong, Taemin berjalan ke bangkunya dengan senyum hangat yang lebar.

Si anak baru itu menjadi sorotan di hari pertamanya berkat lekuk wajah yang sempurna. Tidak hanya itu, ia seperti memiliki aura yang gelap. Tapi ia akan tersenyum cerah saat Aerin di depannya. Hal yang membuat Amber tidak lagi berani memunculkan batang hidungnya di hadapan Aerin.

“Yaa!” tiba-tiba Taemin muncul, menegur Aerin di tengah ritual berebut makan siang di kantin sekolah yang sesak. Ia menyodorkan nampan yang berisi porsi makan siang lengkap pada Aerin. Nasi, sayur, daging, buah, pudding penutup, sekotak susu…

“Ini semua untukmu. Cepat cari tempat duduk.”

Melihat Aerin yang tak kunjung beranjak, ia terlihat sedikit gemas, “kubantu mencari tempat duduk, eoh?” tawarnya sambil menarik Aerin berkeliling kantin. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan meja kosong dan mendudukkan Aerin di sana.

‘terima kasih’ dan ‘Kau tidak makan?’. Sebenarnya Aerin ingin menanyakan kalimat itu pada Taemin. Tetapi urung saat sekelabat sosok mereka muncul di balik jendela. Oh, sampai kapan malaikat serba putih itu hadir di matanya? Sejak kecil ia dicekoki dengan pemandangan itu, dan kini ia merasa muak. Ingatan pada ibu di rumah yang menderita tekanan psikis karena kemampuan khusus itupun menyeruak. Ia tidak bisa menyalahkan keluarganya yang berada di dalam garis dengan kemampuan khusus.

Lalu matanya berpindah lagi ke Taemin. Anak itu… mata tajam dan menenangkan itu membuat Aerin ingin hidup seperti orang normal.

Memang langit itu terasa sangat terik, tapi tidak menghalangi Kai untuk menunggu Aerin di depan ruang kesehatan sama sekali. Ia menunggu cukup lama dan tidak tahu apa yang dilakukan Aerin di dalam. Supirnya sudah ia suruh pulang sedari tadi. Bagaimana cara untuk pulang ke rumah, itu urusan belakangan.

“Aerin! Tunggu sebentar!” Kai hampir terlewat kalau tidak menahan lengan Aerin. Anak perempuan itu keluar dengan tiba-tiba.

“Kai? Ada apa?”

Kai malah diam dan melepas tangannya.

“Aku hanya ingin pulang dengan jalan kaki… hei-hei! Aerin! Tunggu aku!” Kai tergesa-gesa mengejar Aerin yang mendahuluinya. “aku belum selesai bicara! Kenapa kau malah meninggalkanku!”

Ditariknya lengan Aerin sebelum memutar tbuhnya. Wajah Aerin seperti sedang panic sekarang, “maaf, Kai, aku sedang tergesa-gesa! Aku harus berlari!”

Satu helaan napas saat Kai mendengarnya. Setahunya Aerin memang sibuk. Sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi Kai tidak mau mengganggu dengan bertanya-tanya lagi. Ia hanya berjalan cepat di sisi Aerin. Kecepatan anak itu semakin tinggi, hingga ia kewalahan mengejarnya. Seluruh pejalan kaki minggir dengan sendirinya, tidak ingin menanggung resiko ditabrak oleh anak yang berlari secepat itu.

Yang menarik perhatiannya, adalah ketika seorang lelaki berjas hitam dengan santainya melengang di atas zebra cross sambil mengobrol lewat ponselnya. Lelaki itu tidak tahu lampu merah masih menyala. Kai tertegun saat mendapati Aerin sudah tak jauh lagi dari posisi lelaki itu.

Ayo Aerin! Kau bisa melakukannya…

Sayangnya Kai tidak bisa mengendalikan seluruh kerja otak dan doanya untuk Aerin, saat tiba-tiba seseorang memeluk Aerin dalam satu tubrukan. Lee Taemin. Di detik yang sama, sebuah truk pengangkut sampah menghantam tubuh seorang lelaki tepat di depan mata Aerin. Kai bisa melihat wajah syok anak itu dari balik bahu Taemin.

“Taemin…” bisik Aerin ketika air matanya keluar sedikit demi sedikit, “…kau… siapa kau sebenarnya?”

Kkeut~

Hoi, BRIL IS BACK!

Setelah melalui usaha keras (ngetik di hape gara-gara pas proses pembuatan fic ini kompi lagi ngadat), finally Bril bisa menyelesaikannya.

Tunggu part 2 nya yaa 😉 Comments are very welcome 🙂

Advertisements

47 thoughts on “Flying Deaths 1

  1. wah aku rada curiga kalau ada sesuatu yang aneh soal taemin? kenapa taemin malah ngehalangin aerin buat nyelamatin orang? tapi ngeri banget kalo misalnya punya kekuatan semacam kekuatan punya aerin sama keluarganya :v setiap detik ngeliat malaikat maut berkeliaran… hiiiiiiiiiiiii..!! tapi aku suka ide ceritanya ini yang belum pernah aku temuin dimana mana 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s