Flying Deaths 2 (End)

Title: Flying Deaths Part 1 (ex- The Chosen 😀 ) | Casts :

IU as Aerin

SHINee Taemin as Taemin

EXO Kai as Kai

Genre : Fantasy, Romance | Rating: General | Disclaimer :

Do not take the post without full credit and permission

Previous Part

© KAILLIANT

IU

Aerin mendorong sosok itu agar menjauh darinya. Di tengah keributan para pejalan kaki dan penumpang kendaraan yang ingin melihat korban kecelakaan baru saja, ia mundur selangkah demi selangkah.

“Siapa kau?” tanyanya kepada Taemin. Efek pelukan Taemin lumayan besar, ia merasa disengat listrik dengan voltage tinggi, dan saat ia melepaskan diri, seketika ia tidak memiliki kekuatan lagi.

“Apa maksudmu? Aku Taemin. Lee Taemin, teman sebangkumu.”

“Maksudku…” Aerin seperti tersadar di tengah kalimatnya, “maksudku apa yang baru kau lakukan?”

Taemin malah menariknya menjauh dari tempat itu. Menggandengnya sambil berjalan, “kau tidak tahu, tadi truk itu hampir menabrakmu? Kalau kau terus berjalan, kau yang mati sekarang, bukan lelaki itu!”

Aerin merenungi kata-kata Taemin. Mati? Sudah tak terhitung berapa kali Aerin memikirkan kata itu. Tapi ia tidak memahaminya. Bicara soal mati, bagaimana kalau ia yang mati saat menyelamatkan orang lain? Bagaimana kalau malaikat maut yang selama ini dilihatnya dalam diam malah mengincarnya?

“Terima kasih,” hanya itu yang bisa Aerin ucapkan. Pada Taemin yang sulit ditebak. Pada ibu yang menuntutnya untuk tidak tinggal diam saat ia memiliki kemampuan khusus. Pada Tuhan yang memberinya kemampuan khusus yang memuakkan ini.

Mereka melangkah semakin jauh, hingga punggung mereka tak dapat lagi dilihat oleh Kai.

“Jangan lupa membawa botol air minum!” seru bibi ketika Aerin beranjak dari posisinya. Ia berbalik arah menuju dapur untuk mengambil botol minum berwarna putih transparan. Sejak kecil, ibu dan bibinya membiasakan Aerin untuk membawa sendiri botol dari rumah. Sama seperti kedua wanita itu, jalan Aerin cepat dan gerakannya cekatan. Hal itu membuatnya mudah terserang dehidrasi.

Aerin terlonjak saat menemukan Taemin sedang bersandar di pintu mobil di balik pagar. Ia tidak terlatih untuk mengucapkan ‘oh’ saat kaget, ‘wah’ saat kagum, atau ‘yah’ saat bersedih. Kosakatanya sangat minim. Sekarang saja ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Taemin.

“Hai! Kita berangkat ke sekolah bersama, ya.”

Tidak adanya reaksi penolakan dari Aerin membuat senyum Taemin melebar dan segera menarik anak perempuan itu masuk ke mobilnya.

Aerin tidak mau munafik kalau ia tidak suka perlakuan Teemin ini. Bagaimanapun ia adalah anak perempuan normal. Ia sedikit- sangat sedikit– merasa senang, disaat ada anak baru berwajah tampan dan sangat dingin kepada orang lain, memperlakukannya secara khusus. Tetapi perasaan murahan ini bukanlah hal yang akan dipikirkannya setiap waktu, setidaknya itu komitmennya.

“Hei… menurutmu mana yang lebih enak, menyimpan rahasia atau membaginya kepada orang lain?” pertanyaan Taemin itu menohok hati Aerin. Ia tidak pernah membagi rahasia pada orang lain.

“Mungkin sesekali kau perlu berbagi rahasia pada orang lain, agar hatimu tidak terbebani…” seperti aku.

Taemin menurunkan kecepatan mobilnya karena ada lampu merah di depan, “kalau begitu aku akan membagikan rahasiaku padamu. Dengarkan baik-baik.”

Meskipun Aerin kelihatan acuh, nyatanya ia sedang resah menunggu Taemin yang tak kunjung mengatakan apapun. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu.

Ini rahasiaku.

Suara itu terasa sangat jauh di sana, sangat dalam, tetapi terdengar sangat jelas.

Bagaimana, keren kan?

Aerin mendongak dan menatap anak lelaki di sebelah kirinya yang tersenyum. Aku bisa telepati. Ini rahasiaku.

Kini senyuman Taemin terlihat berbeda di mata Aerin. Ada hal lain dalam senyumnya. Anak itu memang salah satu pecahan langit, menyimpan banyak rahasia yang mustahil untuk dikuak.

Kau juga bisa mengirim telepati padaku.

Ehm, ya.

Nah, apa kubilang. Kau bisa mengirim telepati karena kau memiliki kemampuan khusus. Tapi itu hanya bisa dilakukan dengan manusia yang sama seperti kita.

Seketika Aerin terbelalak, “kau tahu aku memiliki kemampuan khusus?” tanyanya panik.

Taemin tersenyum lembut, “aku bisa merasakan aura manusia yang ‘khusus’. Kau sudah tahu dua kemampuanku, telepati dan membaca aura. Jadi, apa kemampuan khususmu?”

Aerin menimang sebentar, tersenyum hambar. Ia tidak tahu harus jujur atau tidak. Kalau ia membongkar identitasnya, ia khawatir nyawa Taemin tidak lagi aman. Tetapi bukannya Taemin juga khusus sepertinya?

“Kemampuanku…” Aerin memberi jeda dua detik, “… hanya telepati.”

Lelaki itu datang secara tiba-tiba sambil mengatakan, “kau sudah mengerjakan tugasmu?”

“Masih dalam proses. Aku tidak ingin anak itu langsung mengetahui tujuan kita. Aku harus membuatnya mengerti dulu.”

Jangan jatuh cinta padanya” ucap lelaki itu lagi. Orang di depannya malah mendengu dan membuang muka.

“Memang kenapa?” dengusnya.

Tugasmu hanya memperingatkannya. Dan mengawasinya. Bukan membuatnya terlihat menarik di matamu!”

Salah satu dari mereka terlihat acuh dan memilih untuk menjauh, “baiklah. Aku tidak akan jatuh cinta pada anak kurang ajar itu!”

Syukurlah kau ingat, kalau dia terlalu kurang ajar untuk menjadi orang yang kau sukai!” kemudian lelaki berpakaian serba putih itu menghilang dalam sepersekian detik.

Kelas Aerin memiliki jadwal olahraga di jam ke- enam. Sebelum keluar dari gedung renang, Kai tidak sengaja berbapapasan dengannya. Ia baru ingat kalau kemarin pulang bersamanya. Tetapi ia malah meninggalkan Kai dengan pulang bersama Taemin. Ia merasa sanga bersalah, karena tidak pernah berniatan seburuk itu pada Kai. Tetapi kejadian kemarin cukup membuat otaknya kalut. Pertama kalinya ia gagal menyelamatkan manusia.

“Kemarin kau pergi duluan, padahal aku tidak tahu bis warna apa yang bisa membawaku pulang” sindir Kai. Ia berusaha mengingatkan Aerin pada fakta bahwa ia tidak pernah naik bus. Ia juga tidak tahu sistem transportasi di Seoul karena tinggal di Osaka sejak kecil. Sambil menggosokkan handuk di rambutnya yang masih basah setelah renang, ia menunggu pembelaan dari Aerin.

“Kemarin kepalaku sangat pusing…”

Sayangnya Kai tidak bisa mendengar permintaan maaf yang akan dilontarkan Aerin. Lagi-lagi anak perempuan itu melesat pergi seperti sedang mengejar-ngejar sesuatu. Ia memecah kerumunan siswa yang baru keluar dari gedung, meninggalkan berbagai makian dan sumpah serampah.

Kai memandang punggung Aerin lirih, “Aerin-ah… sampai kapan kau melakukan hal itu?”

Sementara itu Aerin sudah berdiri di depan laboraturium kimia. Ia mendapat firasat, malaikat maut akan memasuki ruangan itu. Baru kali ini ia melihat malaikat maut terbang lambat di atas sekolahnya. Biasanya mereka sering terlihat di area sekolah, tetapi mereka hanya sekedar lewat untuk menuju destinasi lain. Belajar dari pengalamannya selama empat hari ini, juga cerita dari ibu dan bibinya, kecepatan terbang malaikat maut akan melambat saat hampir mendekati manusia incarannya.

Maka dengan perlahan Aerin melangkahkan kakinya masuk. Ditengoknya salah satu ruangan penyimpan berbagai senyawa dan larutan yang digunakan untuk praktikum. Seorang laboran berama Kim Eunjung melambaikan tangan padanya.

“Hai! Kau membutuhkan sesuatu?” tanya wanita yang sedang menata botol-botol di rak.

Aerin hanya tersenyum sambil menelan salivanya. Sebentar lagi.

Tiba-tiba Kim Eunjung menahan napasnya sehingga mengeluarkan suara memekik. Aerin kira malaikat maut itu sudah datang, ini waktunya, sebelum melihat arah tatapan Kim Eunjung. Ternyata Eunjung hanya terkejut karena menyaksikan perkelahian dua orang siswa melalui pintu kaca. Aerin sendiri tidak akan kaget kalau dua orang yang berusaha saling meninju bukanlah Kai dan Taemin.

“Apa yang kalian lakukan? Yah, hentikan! Kai, kubilang hentikan!!!” susah payah Aerin melerai mereka. Kedua lelaki itu memiliki tenaga seperti kuda. Taemin membuang muka dan Kai memamerkan matanya yang setajam elang.

Aerin sedikit bersyukur, tidak ada siswa lain yang melihat kejadian ini. Kalau tidak, meeka bisa diseret ke ruang konseling dan tidak mustahil bisa dikeluarkan dari sekolah. “kalian gila?”

Kai membentak, “dia dulu yang menghajarku!”

Suara berisik yang panjang datang dari laboraturium. Aerin menyadari sesuatu hingga ia tidak bisa bernapas. Ia bergegas memasuki laboraturium, dalam keadaan masih menahan napas. Kim Eunjung sudah tergeletak di lantai dengan berbagai botol kaca menimpanya. Kedua tangan wanita itu menekan mata kirinya kuat-kuat sambil merintih, “mataku… mataku…”

Saat Aerin hendak maju, Kim Eunjung malah meringkuk dan tanpa sengaja pecahan beling menusuk perutnya.

Arin menangis saat itu juga.

Seisi kelas sibuk menenangkan Aerin. Tetapi sosok itu memang selalu terlihat kuat dan seolah tidak memiliki kelemahan. Meskipun matanya memerah, Aerin seolah tidak peduli dan mengikuti pelajaran dengan baik. Saat salah satu teman sekelasnya menanyakan kondisinya, Aerin malah mengernyit dan bilang, “memangnya kau kira aku kenapa?” dengar wajah dinginnya.

Dirinya memang harus menanggung konsekuensi dari pilihannya. Empat hari yang lalu ia yang memutuskan untuk mendahului malaikat maut dengan yakin, dan kini juga ia harus konsisten. Harus membiasakan diri melihat kematian seseorang tidak sulit, asalkan makhluk-makhluk itu tidak balas dendam dengan mengganggunya atau yang lebih parah mengincar nyawanya.

Tubuhnya berdiri lebih cepat satu detik dari bunyi bel pulang. Layaknya salah satu scene di Film Twilight. Seorang vampire- yang punya banyak kekuatan khusus- juga berdiri sedetik lebih cepat sebelum bel berbunyi. Bedanya, ia bukanlah Edward yang menikmati kemampuan khususnya dengan anggota keluarga lain. Ia bukan Edward yang terlihat seratus kali lebih menawan dari manusia biasa.

“Taemin, kita butuh sedikit bantuanmu untuk mendesain ini… rencanaku…” dari pintu kelas, ia mendengar Choi Sulli mengobrol dengan Taemin. Tumben sekali anak itu mau membantu orang lain, dan membiarkannya pergi dengan tenang. Aerin merasa sedikit lega. Kepalanya pusing karena menyaksikan kematian secara langsung kedua kalinya. Ia ingin cepat sampai di rumah, mencemplungkan dirinya di air hangat dan berendam berjam-jam hingga kepalanya tidak sepanas ini.

Akhir minggu biasa digunakan Aerin untuk berguru pada bibinya. Tidak seberti ibu, bibinya ini cukup berpengalaman dalam hal mengurusi malaikat maut. Bibi tidak takut pada makhluk itu, bahkan dengan gilanya menyapa malaikat maut yang berpapasan dengannya. Hal itu tentu membuatnya seperti orang sinting karena selalu meneriakkan kata ‘hai’ tiap beberapa detik sekali. Aerin baru tahu itu adalah metode Bibi Jung untuk menghilangkan rasa takutnya. Terbukti bibi tidak pernah mimpi buruk di setiap malam- tidak seperti Aerin dan ibunya. Sepertinya rasa takut bibi sudah hilang.

“…lalu saat kau melihat malaikat maut berada tak jauh dari manusia, tetapi dia malah pergi begitu saja, itu artinya nyawanya manusia itu akan dicabut dalam waktu dekat.” Terang bibi.

Aerin yang tengah mengayunkan kakinya diujung jembatan sungai mengernyit heran, “kenapa harus begitu? Biasanya mereka langsung mencabut nyawa manusia jika sudah dekat dengan tujuan, kan?”

“Itu pengecualian. Hanya berlaku untuk manusia yang memiliki kemampuan khusus layaknya kita. Aku tidak tahu sebabnya. Mungkin Tuhan memberi mereka waktu untuk rela melepas hal duniawi yang mereka miliki.”

Memang bibinya itu memiliki banyak pengalaman. Tetapi Aerin ingat, ia pernah ditipu bibi saat kecil dulu. Bibi bilang, malaikat maut sedang menjelma menjadi penjual permen, saat Aerin menginginkan permen hingga menangis.

“Dari mana bibi tahu?”

“Yaaah!” bibi menonjok kepala Aerin pelan, “kau masih tidak percaya padaku? Kejadian paman penjual permen itu sudah tujuh tahun yang lalu, kan? Waktu itu aku membohongimu karena gigimu sedang berlubang! Dasar, kau ini!”

“Baik-baik. Tapi aku serius, dari mana kau tahu?”

“Seorang biksu di klenteng Mohwan yang memberitahuku. Banyak orang khusus seperti kita, yang sudah menyaksikan teori itu secara langsug.”

“Bibi pernah menyaksikannya?”

“Ya, hanya sekali…” suaranya melemah, “saat ayahmu meninggal.”

Aerin tidak mau bertanya apa-apa lagi. Air matanya memang tidak pernah keluar saat mengingat kenangan tentang ayahnya. Tetapi hatinya seperti tercabik-cabik menjadi bagian kecil. Desiran angin sore membuat mereka berdua semakin nyaman. Beberapa makhluk berkeliaran sedikit jauh dari mereka. Satu-satunya hal yang mampu mereka berikan hanyalah doa agar manusia sasaran mereka meninggal dengan tentram.

Tak lama berselang, bibi mengajaknya pulang. Seseorang mencegatnya di depan, dan Aerin kembali dibuat terbelalak karena orang itu adalah Taemin. Anak itu memiliki senyum yang lebih cerah dari biasanya. Ia menyodorkan masing-masing sekotak ubi bakar pada Aerin dan bibi.

“Aku tidak pernah tahu Aerin punya namja chingu.” Bibi Jung menyahut setelah melihat tatapan Taemin yang berbeda pada keponakannya,

Aerin tersedak di tengah kunyahannya, “tidak! Dia hanya temanku! Dia yang kemarin kuceritakan memiliki kebutuhan khusus.”

“Kau bercerita pada bibimu, Aerin?”

Ups. Ia bersumpah ia benar-benar lupa, bahwa kemampuan Taemin adalah rahasia. Dan rahasia tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Kau bodoh, Aerin! Umpatnya.

“Taemin, begini…”

“Aku lupa bilang kalau kau juga boleh bercerita kepada anggota keluargamu mengenai rahasiaku. Kita lahir dari keluarga yang memiliki kemampuan khusus, kan? Tidak ada salahnya jika kita saling berbagi untuk menambah pengetahuan. Apalagi bibi memiliki banyak pengalaman!” Taemin mengucapkannya dengan santai. Bahkan ia langsung melahap ubi bakarnya denga raut tertawa.

“Kau tidak marah?”

“Aku tidak akan bisa marah padamu.”

Aerin senang, tapi ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk paham dan kembali berjalan di antara bibi dan Taemin. Langit sore Seoul terdengar lebih indah pukul 5 sore. Kepadatan kendaraan bisa dilihat dengan jelas di jembatan sebelah timur, dimana lokasi tersebut adalah kawasan showroom besar seperti Samsung dan Chevrolet. Satu persatu lampu jalan menyala otomatis saat mendeteksi minimnya sinar matahari.

Bibi berbisik di telinga kiri Aerin, “firasatku tidak enak.”

Dan benar saja, sesaat setelah membisikkan kalimat itu, tabi pembatas jembatan yang digunakan bibi bersandar mengendur seketika. Taeriakan bibi teredam oleh teriakan milik Aerin yang lebih lantang. Rasanya seluruh air mata yang ia miliki akan melesak dari matanya. Ditambah lagi malaikat maut sudah berada tak jauh dari tempatnya berdiri,. Beruntung bibi masih bisa meraih tali pembatas. Sayangnya tali itu terputus karena tidak sanggp menahan beban badan bibi. Kini nyawa bibi bergantung pada uluran tali tipis itu.

Ini bahaya, Aerin! Jauhkan Taemin! Teriak bibi yang sudah berderai air mata melalui telepati.

Dilihatnya Taemin yang sedang mengulurkan tangan untuk membantu bibi. Naas, tali yang digunakan Taemin untuk seimbang terputus dengan sendirinya. Aerin menjerit untuk kedua kalinya.

Kini di depan Aerin, terbentang dua pilihan yang akan menentukan bagimana kelanjutan hidupnya. Taemin, dengan tiga jarinya yang mencengkeram ujung kayu jembatan, atau bibi, dengan satu tangan menggenggam tali yang semakin tipis.

Bibi adalah orang kedua yang disayanginya setelah ibu. Dulu saat ibunya mengalami depresi berat karena kemampuan turun-temurun itu, Aerin dititipkan di rumah bibi. Bibi bahkan rela menceraikan suaminya yang tidak mengharapkan kehadiran Aerin. Aerin dengar dari ibunya, bibi sangat mencintai suaminya dengan tulus. Dan bibi mengorbankan perasaannya demi merawat Aerin dengan lebih tulus lagi.

Tetapi Taemin juga tidak kalah berarti baginya. Ia merasa sudah mengenalnya ribuan tahun sebelum lahir, walau Taemin masuk ke kehidupannya beberapa hari lalu. Aerin tidak pernah diperlakukan se-spesial itu. Anak itu sangat hangat, bahkan terkadang membuat Aerin sempat melupakan posisinya sebagai si pemilik kekuatan memuakkan.

Dua orang itu sangat berarti baginya. Di saat buku-buku jari Taemin memutih, dan tali yang ditarik bibi semakin terkelupas, Aerin tahu kalau ia tidak punya waktu lagi.

Di saat semuanya terlambat, sosok Kai yang tinggi menjulang datang. Ia menunjuk para polisi berpakaian resmi putih berupaya menyelamatkan seseorang jauh di bawah jembatan. Tapi bagi Aerin semua itu percuma.

Malaikat itu menjemput bibi. Di saat Aerin merasa frustasi untuk menentukan siapa yang hendak diselamatkannya, tali di tangan kanan bibi terkelupas semakin cepat. Ia mengulurkan tangan dan hanya sempat menyentuh ujung jari manis bibi. Ditariknya Taemin yang berada sekitar setengah meter dari posisinya. Taemin selamat. Tapi bibinya tidak.

“Bersabarlah, pasti bibi bisa diselamatkan.” Taemin menyimpan kepala Aerin di depan dadanya. Aerin hanya mematung dengan sisa tangisan yang masih ada. Malaikat maut sudah mengambil nyawanya, bibi tidak mungkin selamat.

Tiba-tiba Kai melayangkan tinjunya. Membuat Taemin terhuyung seperti orang mabuk. Ia hampir mengalami kejadian serupa beberapa menit lalu kalau Aerin tidak menariknya segera.

“Jangan. Memeluk. Aerin.” Ucap Kai penuh penekanan. Anak perempuan di depannya malah menarik kerahnya dengan tatapan kosong, “kau hampir membunuhnya!”

Tindakan itu membuat Kai tersenyum lemah, “aku menyelamatkanmu, Aerin-ah…”

Mereka bertiga terjebak dalam keheningan panjang. Bunyi klakson mobil di jembatan seberang terdengar liar, mencermikan kerja jantung di dalam tulang dada mereka bertiga. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di langit yang sangat gelap, anginpun semakin mencengkeram mereka.

“Satu menit.” Aera memecah keheningan dengan kalimatnya yang susah dimengerti. “Satu menit, kita sudah berdiam  diri selama satu menit di sini. Dan otakku sudah tahu kau sangat busuk, Kai! Kau. Sangat. Busuk.”

Bukan hanya Kai, raut wajah Taemin pun ikut terkejut mendengar kalimat Aerin yang blak-blakan itu. Satu tusukan di dada Kai.

“Kau salah orang, Aerin!”

“Dengar penjelasanku dulu!” Aerin memotong kalimat Kai secepat cahaya, “kau semakin ingin dekat denganku akhir-akhir ini. Dan itu terjadi semenjak aku menyelamatkan manusia dari mereka. Sepertinya kau sudah tahu kemampuanku yang ini, kan? Dan untuk Taemin, maaf aku berbohong padamu kalau kemampuanku hanya telepati.” Aerin menoleh sebentar pada Taemin, kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Kai.

“Kau ada saat kegagalanku yang pertama. Masih ingat? Lelaki berjas putih di zebra cross. Dan di kegagalan yang kedua, laboran Kim Eunjung. Kau berkelahi dengan Taemin untuk mengalihkan perhatianku.”

Tak terasa air mata Aerin kembali mengalir. Hatinya perih lagi, “dan sekarang, di kegagalanku yang ke-tiga. Kau datang dengan polisi-polisi itu tanpa kuminta. Ini suatu kebetulan, atau sengaja, aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu motifmu hingga berniat membunuhku sehalus ini.”

Ia merasakan air matanya terus menetes, dan Kai mengusapnya perlahan. Hal ini terlihat konyol, Kai mengusap air matanya di saat air matanya sendiri mengalir. Cengkraman tangan Aerin di kerah Kai mengendur, saat Kai mengucapkan, “terima kasih telah membuat hatiku sesakit ini.”

Taemin menariknya pergi dari tempat itu. lagipula tidak ada hal yang harus ditunggu lagi. Tim polisi sudah membawa jenazah bibi yang kaku di bawah sana. Aerin menunduk. Salahkah ia menuduh Kai dalang di balik semua ini? Tetapi ia sudah menaruh curiga pada Kai sejak dulu.

Kai melihat punggung Aerin yang menjauh. Lagi. Hal itu semakin terlhat ‘biasa’ di matanya. Setelah memastikan Aerin sudah sangat jauh, ia tersenyum.

“Aerin-ah…”

Awalnya Aerin berniat untuk membolos sekolah, bahkan ia juga ingin mengundurkan diri dari sekolahnya. Meskipun sedikit berat karena dulu ia masuk ke sekolah itu dengan susah payah, mengurung diri di kamar jauh lebih baik untuknya. Sayangnya ibu tidak mengizinkannya. Ia hanya diizinkan tidak masuk beberapa hari untuk menenangkan pikiran setelah kepergian bibi.

Selama dua hari, rumah duka untuk bibi sangat ramai, bahkan para petugas sampai mengusir orang-orang yang berdatangan karena sudah melampaui jam berkunjung. Hanya saudara yang diizinkan menginap. Mereka semua menangis, menyebut nama bibi dan berdoa sangat lama. Aerin tahu bibi adalah orang yang baik dan ceria, tetapi tidak pernah mengira bibi begitu berarti bagi banyak orang.

Perasaannya ditakdirkan untuk terombang-ambing di laut kecemasan. Di hari pertama masuk sekolah, makhluk it uterus berada di sekitarnya. Awalnya ia takut setengah mati dan mengira dirinya adalah sasaran selanjutnya. Tetapi perkiraan itu berkurang menjadi 33% saat menyadari ada Taemin dan Kai yang secara tidak sengaja selalu berada di sekitarnya saat makhluk itu ada.

Ia teringat perkataan bibi, malaikat maut hanya mendekat, lalu pergi pada calon sasaran yang memiliki kemampuan khusus.

Aerin memiliki kemampuan khusus. Dan dari beberapa fakta yang berhasil dikumpulkan selama satu menit setelah kematian bibi dulu, Kai kemungkinan juga memiliki kemampuan khusus. Bagaimanapun, ia harus konsisten pada tujuan awalnya: menyelamatkan manusia.

Ya, dia akan menyelamatkan Taemin atau Kai.

“Waktunya sudah dekat. Tugasmu hanya menyampaikan pesan padanya. Tapi kau tidak kunjung melaksanakannya”

“Sebentar lagi, sebentar lagi.”

“Sudah kuperingatkan, jangan jatuh cinta padanya!”

“Kau pikir aku seperti mereka, yang berjubah putih dan hanya bisa mencabut nyawa manusia? Jangan samakan, karena aku memiliki rasa cinta.”

Salah satu dari mereka tertawa sebelum mengeluarkan kalimatnya yang setajam belati, “kau adalah manusia yang terpilih. Jadi jangan jatuh cinta padanya.”

Entah bagaimana caranya, ia menemukan sebuah kalung berliontin ukiran bunga tulip di balik kaca sebuah butik. Liontin yang sama persis seperti milik bibi. Kenangan itu masih sangat kuat. Ekspresi wajah bibi yang dilanda ketakutan sebelum kematian, bahkan kalimat terakhir yang dkirimnya melalui telepati.

Firasatku tidak enak

Ini bahaya, Aerin! Jauhkan Taemin!

Suara bibi yang memiliki cirri khas tersendiri it uterus bergema di salah satu ruang di tubuhnya. Ia merasa ada yang janggal, lebih-lebih saat kemunculan Kai yang tiba-tiba. Tapi ia tidak bisa menemukan kejanggalan itu walaupun sudah berusaha berpikir sekeras mungkin. Yang pasti ada sesuatu, antara dirinya, Taemin, dan Kai.

Tidak mau berpikir terlalu larut, ia memutuskan untuk pergi dari kawasan pertokoan itu. Ponselnya membunyikan ringtone khusus untuk Taemin.

Sekarang kau ada di mana?

Kalau belum pulang, kutunggu di tempat kemarin.

Tempat kemarin yang Taemin maksud sudah pasti jembatan kecil di barat jembatan Banpo. Tempat di mana ia menyaksikan wajah bibi untuk terakhir kali. Tiba-tiba seseorang merebut ponselnya. Bukan maling, melainkan Kai. Aerin mendengus dan menemukan otaknya semakin kacau kalau Kai ada di sekitarnya. Peristiwa saat kematian bibi kembali mengganggunya.

“Kembalikan ponselku, Kai!”

Kai mundur selangkah, “tidak, asal kau menuruti permintaanku. Aku berjanji ini permintaan terakhirku padamu. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamanya.”

Aerin merasa sedikit kecewa pada kalimat Kai barusan. Apakah itu artinya Kai akan menghilang dari kehidupannya? Ia kira hubungannya dengan Kai adalah sesuatu yang khusus, ‘teman lumayan dekat’ mungkin. Anak lelaki itu orang pertama yang mau menyapanya di sekolah. Meskipun sikapnya tidak semanis Taemin, Kai lumayan sering mencekokinya dengan berbagai nasihat- yang sering diacuhkannya.

“Baiklah. Apa?”

“Pulanglah…” satu kata itu membuat Aerin mengernyit heran.

Taemin menyimpan kedua tangannya di saku celana. Wajahnya setenang aliran air di bawah jembatan yang sedang ditatapnya. Ia harus melakukan hal itu. Malam ini juga. Dan seluruh bebannya akan hilang selama-lamanya.

Maaf aku datang terlambat!

Taemin menoleh saat Aerin mengirimnya telepati. Dari kejauhan, ia melihat Aerin menopang tangan dengan lutunya dengan napas tidak beraturan. Sepertinya anak itu selesai berlari. Taemin tersenyum sedikit canggung.

“Ada satu hal yang harus diketahui oleh manusia. Dan itu mutlak”

Ungkap suatu suara di suatu malam yang beku. Lelaki yang diajaknya bicara melemparkan tatapan yang seolah berbunyi ‘apa itu?’.

“Ajal, kematian. Kematian itu pasti datang, dan tidak bisa ditunda.”

“Tetapi Shin Aerin bisa menundanya.”

“Karena itulah kau ada di sini. Kau harus bisa menghentikan anak itu. Shin Aerin terlalu berbeda.”

“Berhenti di situ, Shin Aerin.”

Taemin menghentikan Aerin yang berjarak beberapa langkah darinya. Anak lelaki itu kemudian berjalan sampai ke ujung jembatan, meninggalkan Aerin yang masih berdiri tenang di atas jembatan.

“Ada sesuatu yang belum kusampaikan.” Ucap Taemin lagi.

Kai meremas kaos yang menutupi dadanya, lebih terlihat seperti mencakar. Andai saja ia bisa mencakar dadanya, lalu mengambil jantungnya yang terasa perih untuk membuangnya jauh-jauh.

Kai sudah menggenggam tangan Aerin dengan erat, mencurahkan perasaannya di sana. Sayangnya Aerin tetap pergi menemui Taemin, meninggalkannya yang berdiri di trotoar seperti orang bodoh. Pada akhirnya ia tetap Kai yang sama; Kai yang selalu melihat punggung Aerin menjauh darinya.

Dilihatnya air sungai yang mengalir tenang jauh di bawah sana. Kemudian matanya beralih pada jemari tangannya yang terasa panas karena mencengkeram ujung kayu jembatan. Kalau Taemin tidak menyelamatkannya, ia akan mati dengan cara seperti kematian bibi. Di tempat yang sama.

Aerin sering menangis, tapi air matanya sekarang terasa lebih panas dari biasanya. Ternyata air mata di detik terakhir memang berbeda.

“Aku datang untuk memperingatkanmu, Shin Aerin.” Dengan santainya Taemin berbicara seperti itu. di saat nyawa Aerin sudah di ujung tanduk.

“Tolong… aku…” Aerin merintih.

Di atasnya, Taemin malah tersenyum simpul. “Selama ini kau salah. Malaikat maut yang kau lihat di sekitarku kemarin, bukan datang untuk mengincarku,” ada jeda sebentar untuk memberi kesempatan pada klakson mobil-mobil yang mulai berbunyi di jembatan seberang. “malaikat itu mengincarmu, Aerin!”

“Manusia sudah memiliki waktu kematian yang sudah ditentukan. Malaikat maut bertugas untuk menarik nyawa di waktu yang sudah ditentukan itu. Lalu seorang manusia bodoh bernama Shin Aerin datang untuk mengacaukan segalanya. Kau. Kau mengacaukan jadwal mereka, Aerin.”

“Aku adalah orang yang terpilih sebagai perwakilan malaikat di bumi. Itu jawaban kalau kau ingin bertanya kenapa aku harus ikut campur masalah mereka.”

Kejadian saat Taemin tiba-tiba memeluknya di ujung zebra cross, saat Taemin berkelahi dengan Kai di depan laboraturium, dan saat Taemin hendak jatuh ke sungai seperti bibi. Kejadian it uterus berputar, teraduk bersama kejadian-kejadian manis yang pernah dilaluinya bersama ibu. Dan berhenti pada satu bayangan.

Bayangan Kai.

Ia menyesal telah menuduh Kai sejahat itu. Padahal Kai berusaha melindunginya.

Mungkin malaikat maut yang kini berada tidak jauh darinya itu adalah malaikat terakhir yang bisa dilihatnya sebelum meninggal.

Bagaimanapun, Taemin sudah cukup berjasa besar bagi hidupnya. Taemin adalah orang pertama yang bisa membuatnya terjaga sepanjang malam karena sibuk memikirkan perlakuan spesialnya. Taemin juga orang pertama yang membuatnyatidak merasa sendiri di sekolah.

“Terima kasih, Taemin.”

Jemari Aerin sudah tidak kuat menopng tubuhnya untuk melawan gravitasi. Ia akhirnya terjatuh, disambut oleh aliran sungai yang sangat deras. Ia bisa merasakan punggungnya yang sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Dirinya tidak bisa berenang, dan air sungai berlomba-lomba untuk memasuki paru-parunya.

Di saat yang sama, ibu memandang pintu kamar Aerin dari ujung tangga.

“Kenapa aku merasa ada yang hilang?”

Kai terpukul menyaksikan semua kejadian itu. Kemampuan khusus yang bisa berpindah tempat dalam hitungan detik tidak bisa menyelamatkan Aerin. Padahal ia belum mengatakan kalau ia sangat menyayangi Aerin.

Sementara itu, Taemin berbalik tepat setelah Aerin mengucapkan kata-kata terakhirnya. Mencintai Aerin bukan berarti menyelamatkannya dari maut. Ia tidak boleh melanggar jadwal. Taemin mendongak untuk menatap langit yang menggelap. Tugasnya sudah selesai sekarang.

Kkeut~

Hai, terima kasih untuk kalian yang udah tertarik sama ff gagal (total) ini.

Part awal ini diketik di hape. Dan syukurlah kompi sudah sembuh. Jadi part selanjutnya bisa diketik tanpa banyak rintangan.

FYI, aku ngetik ini dengan mengorbankan waktu, tenaga, juga pikiran. Jadi, tolong beri komentar meskipun ceritanya nggak menarik. Agar si penulis amatir ini lebih baik kedepannya. Inget motto Bril ya, “Nggak komen barbell melayang!”

Posted from WordPress for Android

Advertisements

36 thoughts on “Flying Deaths 2 (End)

  1. tuhkan bener taemin itu mencurigakan -_- kasian kai padahal dia gak punya niatan jahat ke aerin tapi aerin malah salah paham -_- kasian kai sama aerin :” taemin disini kok kamu jahat yah -_- *pelototin taemin XD

  2. wah taemin bagaikan devil inside angel wkwk
    si kainya kasian amat dituduh u.u
    sangkain mah kainya yg meninggal xD
    kesel banget pas bagian aerin malah nyelamatin taemin ketimbang bibinya hheeheh ._.v
    disini karakter taemin sangat memuaskan :p

  3. taemin… teganya ku… huhuhu T-T
    kai, kasihan kamu.. sini ama aku aja *plak
    nyesek jadi aerin, udah nyalahin kai.. bela2in taemin.. eh yang dibela ternyata malah kayak begitu …
    rasanya pengen dorong taemin ke sumur *dikeroyok
    nice ff… T-T
    aku izin singgah ke karya author yang lainnya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s