Escape! – Two

Title: Escape! – Two

Author KAILLIANT | Genre: Life-learning, Friendship, Fluffy romance |

Rating: PG-15 | Casts: EXO K Kim Jongin as Kim Jongin, IU as Shin Ji Eun F(x) Krystal as Jung Soo Jung |

Disclaimer:

Plot is mine. Do not take the picture or plot without my permission and full credit.

 

 

-Escape!-

© KAILLIANT

 

 

ESCAPE1

Being seventeen is when you couldn’t face your problem and start to try something new: escaping.

 

Tujuh belas tahun adalah saat kau tidak bisa mengatasi masalah dan mulai mencoba hal yang baru: pergi dari rumah.

 

-Escape!-

 

Langit Busan masih belia, berwarna biru gelap di saat jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Ada beberapa manusia masih terlelap di atas pembaringan masing-masing, meringkuk di bawah selimut yang tebal dan hangat, seolah dunia adalah hal yang mudah untuk dihadapi. Tetapi tidak sedikit yang kembali ke realita, seperti seorang wanita paruh baya di salah satu lantai apartemen sederhana. Namanya Bibi Jung.

Ia beruntung bisa menyewa di lantai empat agar bisa menjemur pakaian dengan mudah di atap- meskipun kadang baju-bajunya tidak kunjung kering karena sinar matahari terhalang oleh gedung-gedung pencakar langit.

Semalam, saat menutup warung kecilnya, ia menemukan seorang lelaki dan perempuan sedang duduk di seberang tokonya sambil menatap langit. Wajah mereka semanis permen, berjaket tebal dan… membawa koper. Tentu saja Bibi Jung bisa menebak bahwa kedua remaja tersebut sedang melarikan diri, karena ia juga pernah melakukan itu di masa mudanya. Setelah melalui beberapa paksaan, Bibi Jung pun berhasil mengajak mereka untuk tinggal di rumahnya. Tidak ada niat buruk sama sekali, ia hanya ingin menolong sekaligus memberi putri tunggalnya, Jung Soo Jung, seorang teman baru. Oh, sepertinya mereka seumuran.

Shin Ji Eun dan Kim Jongin, nama mereka bagus, pikir Bibi Jung sambil mengaduk bumbu Jap Che untuk bekal Soo Jung, sekaligus sarapan anggota baru di rumahnya. Bibi kembali terkenang saat dulu pernah menjadi bagian dari kota asal Ji Eun dan Jongin, Seoul.

 

Ji Eun mengaktifkan ponsel dan sedikit cemberut saat tidak menemukan pesan baru di inbox. Tetapi kemudian ia merasa sangat bodoh, karena ini ponsel baru- otomatis nomornya juga baru- untuk menghilangkan jejak dari ibunya. Tidak ada seorangpun yang tahu nomornya kini.

“Morning, eonni Ji Eun!” ucap seorang anak perempuan berseragam sekolah yang berdiri di depan cermin. Ji Eun mengenalnya sebagai Jung Soo Jung, anak manis itu adalah putri tunggal seorang bibi yang sudah berbaik hati memberinya tempat untuk tinggal- sementara. Walau hanya sempat berkenalan tadi malam sebelum tidur di kasur yang sama, Soo Jung sangatlah ramah. Di awal pertemuan, ia tidak menyangka bahwa Soo Jung lebih muda setahun darinya, padahal tubuh tingginya sangat memenuhi tipe ideal remaja tujuh belas tahun. Baiklah, dirinya memang pendek- jauh lebih pendek dari Soo Jung bahkan Kim Jongin. Tetapi, apa pedulinya?

Setelah Ji Eun mengucapkan kalimat selamat pagi, sosok Soo Jung menghilang di balik pintu, Ji Eun membuntuti dan hanya bisa menyaksikan cara Soo Jung membantu Bibi Jung menyiapkan sarapan. Mereka ibu dan anak yang sempurna. Rasa iri itu kembali muncul, membuatnya hanya bisa terdiam di atas kursi meja makan.

Mungkin karena lengah, Bibi Jung tidak sengaja menjatuhkan pancinya. Bumbu pedas yang panas langsung menyeruak di atas lantai, sebagian mengenaik kaki bibi Jung dan Soo Jung.

“Bibi! Menjauh sebentar, biar aku yang membersihkan!” tiba-tiba sosok Kim Jongin menyeruak di antara Bibi Jung dan Soo Jung. Ia menerima kain pel yang disodorkan Soo Jung dan mulai membersihkan lantai. Bibi Jung tidak peduli lagi pada tangannya yang melepuh, pemandangan di depannya sangat manis. Kim Jongin memang anak yang baik.

Melihat betapa cekatannya Jongin, tidak ada yang tahu bahwa ini pertama kalinya seorang Kim Jongin memegang kain pel. Mendiang neneknya pernah memintanya mengepel lantai yang dikotorinya dulu, tetapi Jongin benar-benar tidak mau, sampai menangis. Pasti mendiang neneknya bangga jika menyaksikan apa yang dilakukannya sekarang, pikirnya.

Mengalihkan perhatian dari Jongin yang terlihat luar biasa di matanya, Soo Jung segera menuntun Bibi Jung untuk duduk. “eonni Ji Eun, tolong jaga ibu sebentar, aku akan mengambil kompres.”

Ji Eun mengangguk. Ia yang terlihat paling tenang di ruangan ini, tidak berniat untuk mengecek kondisi Bibi bahkan mengobatinya. Hal itu yang membuat Kim Jongin sangat geram di tengah kegiatan mengepelnya. Ia pun menyampirkan serbet kotor ke atas kepala Ji Eun, lalu menekannya agar rambut Ji Eun semakin kotor. Meskipun Ji Eun menggeram marah, maaf saja, ia tidak mau disalahkan, rasa kesal yang mendorongnya.

 

-Escape!-

 

Yeoboseyo? Baik-baik! Aku akan ke sana secepatnya!”

Lelaki berumur empat puluh tahun itu menutup ponsel dan memandang calon istri di sebelahnya. Ia menimang-nimang, bagaimana cara ia bisa pergi ke kantor di tengah prosesi memilih cincin untuk pernikahannya ini.

“Kim Kibum, kau mau ke kantor, lagi?” tanya wanita itu, Shin Ahra.

“Maafkan aku, aku tidak berniat mengacaukan pernikahan kita nanti. Tapi aku janji, aku akan segera menemanimu memilih cincin begitu aku selesai dengan urusanku di kantor.”

Kepergian lelaki itu meninggalkan rasa kecewa yang sangat dalam di hati Ahra. Ahra ingin mengomel dan menangis, tapi ia tidak boleh egois.

Lagipula ia sudah sering menangis akhir-akhir ini. Ia merasa telah berubah menjadi seorang ibu yang kejam setelah putrinya, Shin Ji Eun, menghilang tanpa izin. Ia tahu Ji Eun sangat menentang pernikahannya dengan Kibum, tetapi tidak pernah menyangka akan serumit ini jadinya. Ji Eun adalah orang pertama di daftar orang yang dicintainya, mengalahkan mendiang suami dan orang tuanya. Tentu ia terpukul saat putrinya kabur dari rumah hanya karena pernikahan keduanya.

Kibum dan Ji Eun, padahal ia menyayangi keduanya, tapi kenapa seolah-olah keadaan memaksanya untuk memilih? Ia pun melangkah pelan di sepanjang butik dan toko perhiasan. Salah satu toko itu ingin dimasukinya, tetapi merasa minder saat ternyata semua pengunjung datang bersama pasangan. Sementara pasangannya baru saja menghilang untuk bekerja.

 

 

-Escape!-

 

 

Jalan itu terlihat sangat lengang saat Ji Eun, Jongin, dan Soo Jung melewatinya. Di sepanjang perjalanan, Soo Jung tak hentinya menceritakan tentang sekolahnya yang seru. Ia bahkan sempat memberi garansi, bahwa Ji Eun dan Jongin pasti ingin memasuki sekolahnya jika mereka sampai nanti.

“Oppa, apa rencanamu hari ini?” tanya Soo Jung pada Jongin yang berjalan di sisi kirinya, yang bisa membuatnya bersyukur bisa melihat wajah itu dalam jarak yang lumayan dekat. Jongin manis, pikir Soo Jung sambil menahan senyum.

Jongin yang sedikit rindu pada sekolahnya pun menoleh, “Um, tidak tahu.” Jawab Jongin. Jawaban itu membuatnya terdengar seperti pengangguran murahan. Tetapi otaknya memang sedang buntu untuk sekedar menyusun ‘to-do list’ secara instan selama di Busan. Kaburnya dari rumah memang mendadak dan tidak disiapkan dengan matang.

Sekitar lima menit kemudian mereka sampai di depan sebuah gerbang sekolah umum. Gedung itu cukup tinggi, terlihat sejuk, dan memiliki lapangan olah raga yang luas. Soo Jung mendeklarasikan sekolah itu sebagai Senior High School terbaik di Jung-Gu, meskipun Ji Eun dan Kim Jongin sedikit ragu karena pagarnya sudah berkarat di beberapa bagian, cat di dinding pos satpamnya sudah luntur, juga banyak bunga layu di kebun depan.

 

 

“Hei, Ji Eun!”

Akhirnya Jongin membuka suara saat beberapa lama Ia dan Ji Eun meninggalkan sekolah Soo Jung. “Mwo?” jawab Ji Eun malas.

“Kurasa kita sudah berteman, jadi tidak apa-apa kalau aku mengingatkanmu dalam satu hal, kan? bersikaplah yang baik. Aku tidak suka sikapmu yang seolah-olah tidak butuh bantuan orang lain. Pasti ada waktu saat kita membutuhkan bantuan orang lain. Jadi, apa salahnya saling membantu? Saat Bibi Jung terluka tadi pagi, misalnya…” terang Jongin.

Anak perempuan di depannya terlihat lebih kesal, “begitukah? Kau ingin aku menjadi orang yang sepertimu, suka menolong? Maaf saja, aku tidak mau,” kau tidak tahu apa-apa tentangku, Kim Jongin.

“Aku hanya mengingatkan.”

“Kalau begitu terima kasih.” balas Ji Eun.

Sayangnya Jongin tidak sempat mendengar balasan Ji Eun itu, karena pada saat yang sama ia melihat seorang lelaki tua yang merogoh tas wanita di depannya diam-diam. Wow, Jongin cukup kagum dengan daerah ini, ada begitu banyak praktek pencopetan. Baru dua hari ia di sini, dan dua kali juga ia melihat kasus semacam ini.

 

 

-Escape!-

 

 

Kim Jongin tidak beruntung hari ini. Demi menangkap seorang pencopet di depan pasar ikan tadi, ia rela menembus keramaian, berlari, menyerempet seorang kakek bertongkat, menumpahkan es krim seorang bocah yang digandeng ibunya, bahkan mengacaukan ikan-ikan di atas meja yang disusun sedemikian rupa oleh para pedagang. Sialnya, yang ia tarik adalah kerah seorang rentenir pasar- bukannya pencopet sialan sudah kabur entah kemana- dan berujung pada pipinya bengkak karena tonjokan rentenir itu.

Sebagian Pasar Jagalchi yang dikenal tentram itu hancur karena ulahnya. Kini ia sedang diinterogasi oleh petugas keamanan di kantor polisi Jung-Gu, bersama Ji Eun yang terlihat sekali sangat menikmati kesialan Jongin.

“Ayolah! Aku tidak sepenuhnya salah, ‘kan? Aku berniat menolong orang lain. Dong-Gu memang penuh dengan pencopet!”

“Saudara Kim Jongin akan melakukan Pelayanan Masyarakat…”

“Tunggu seben-”

“… selama satu minggu penuh di Dong-Gu dengan pengawasan petugas setempat.”

Sialan. Kim Jongin tak henti-hentinya mengumpat.

“Inikah yang kau maksud, Kim Jongin? Agar aku menjadi penolong sepertimu, lalu berakhir dengan satu pukulan telak di pipi dan ditangkap polisi karena telah merusak ketentraman pasar? Ha-ha, menarik!” itulah kalimat pertama yang Jongin dengar saat Ji Eun dan Bibi Jung menjemputnya di kantor polisi. Jongin membuang muka, mengutuk dirinya yang seolah memiliki radar superman untuk selalu menolong orang lain. Tunggu saja kalau sampai orang tuanya tahu ia direndahkan seperti ini… oh, Jongin baru ingat orang tuanya tidak akan peduli meskipun tahu hal ini.

Sebenarnya, Jongin ingin menunjukkan kepada Ji Eun bagaimana menolong orang lain- mengejar pencopet contohnya- bukanlah hal yang sulit. Tetapi ia gagal, juga harus mengalah kali ini, membiarkan Ji Eun berpikir bahwa menolong orang lain adalah hal yang sia-sia.

Sesampainya di rumah, Bibi Jung terlihat murung. Memandang Jongin yang sedang diobati oleh Soo Jung, kemudian beralih pada Ji Eun yang hanya diam melihat. Matanya tiba-tiba memanas, “anak muda, kapankah kau berencana untuk pulang ke rumah?”

Kim Jongin yang pertama menoleh, disusul Ji Eun. Seperti anak sekolah dasar yang sedang ditanyai kenapa belum mengerjakan PR, begitulah keduanya saat ini. Diam karena tidak memiliki jawaban yang tepat.

“Bagaimana kalau orang tua kalian sangat panic? Kalian pasti merindukan mereka…”

Kim Jongin tersenyum samar, berharap andai saja Bibi Jung mengetahui keadaannya. Serindu apapun pada ayah dan ibunya, mereka tidak akan pulang sebelum musim berganti. Layaknya tahun-tahun sebelumnya.

Dan bagi Ji Eun, ucapan Bibi Jung tidak akan mempan. Memang benar ia merindukan ibunya- juga ayahnya yang telah tiada- tetapi ia tidak memiliki niatan sama sekali untuk kembali ke rumah. Terlebih harus menyaksikan ibunya menikah dengan lelaki asing itu.

“Aku tidak merindukan ibuku, ia membuatku muak.” Ji Eun menyahut setelah beberapa saat, lebih terdengar seperti berbicara pada diri sendiri sambil menahan rasa kecewa pada keputusan ibunya. Tidak ada yang tahu sudah berapa banyak kepingan yang dihasilkan oleh hatinya yang keropos. Ia merasa dihianati oleh ibunya sendiri.

“Percayalah, anak muda… temui orang tuamu sebelum terlambat.”

Sosok ringkih Bibi Jung menghilang di balik pintu kamarnya yang gelap. Ia terisak. Pemandangan Bibi Jung menangis adalah hal yang sangat asing bagi Soo Jung. Anak itu tahu, pasti ibunya teringat pada masa mudanya dahulu, dimana ibunya memutuskan untuk pergi dari rumah karena kekangan orang tua, dan kembali disaat orang tuanya telah tiada. Kisah itu didengarnya beberapa tahun yang lalu, disaat Soo Jung bertanya tentang asal usul keluarga ibunya. Maka ia memutuskan untuk menghampiri ibunya di dalam kamar, mencoba menenangkan sebesar yang dia bisa.

“Kau senang sekarang? Membuat sedih orang-orang di sekitarmu. Kau memang hebat.” Kim Jongin menatap Ji Eun dengan tajam.

Ji Eun menanggapi, “Setidaknya aku masih bisa menjawab pertanyaan Bibi Jung, tidak pengecut sepertimu!”

Tiba-tiba Jongin bergerak secepat kilat. Ia mendorong bahu Ji Eun hingga menubruk tembok di belakangnya, menguncinya dengan kedua tangan dan matanya. Ji Eun yang kini terhimpit pun merintih, tapi ia balas menatapnya dengan tajam, menunjukkan bahwa seorang Ji Eun tidak akan luruh dalam situasi apapun.

Perlahan tapi pasti, Jongin mendekatkan wajahnya kepada Ji Eun. Setelah memastikan bahwa kulit wajah Ji Eun dapat merasakan hembusan napasnya, Jongin berkata penuh amarah, “kau-menyakiti-bibi-jung.”

“Lalu apa urusanmu? Dia bukan siapa-siapamu, kan? Dia bukan ibumu!”

Jongin menguatkan cengkramannya pada kedua bahu Ji Eun, mendekatkan wajahnya hingga dahi mereka bertemu. Jangan lupakan matanya yang penuh kilat kemarahan, “dia pengasuhku saat kecil dulu!”

Ji Eun menelan ludah saat menyadari sedekat apa jarak antara dia dan Jongin sekarang. Ia juga tersentak seiring munculnya berbagai tanda tanya di benaknya. Apakah ia tertinggal begitu jauh, sehingga tidak menyadari fakta besar tersebut? Setahunya, Jongin dan Bibi Jung baru bertemu dan berkenalan kemarin. Bibi Jung bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda ia pernah mengenal Jongin. Ah, lupakan semua itu. Sekarang yang terpenting, bagaimana caranya bernapas?

“Aku tidak sepertimu yang tidak menghargai sosok yang bernama ‘ibu’. Jangan sakiti dia, aku tidak segan-segan melukaimu meskipun kau seorang perempuan.”

 

Saat Jongin menaiki tangga menuju atap, ia tidak tahu Ji Eun menangis diam-diam.

 

Baik Ji Eun dan Jongin tidak mengerti, bagaimana bisa hubungan yang semula berjalan normal akan berubah menjadi seperti ini. Meskipun sempat ada kesalahpahaman di antara mereka karena insiden koper yang tertukar, mereka masih bisa mengobrol dengan akrab. Memandang langit Busan yang cantik bersama-sama di depan warung milik bibi Jung, bertukar cerita tentang bagaimana perjalanan mereka selama kabur… …

Ji Eun menangis di balik bantal milik Soo Jung, teringat pada wajah ibunya, juga Bibi Jung yang menangis karenanya,

Sementara tak jauh dari sana, Kim Jongin duduk di atap apartemen untuk melakukan ritualnya selama pergi dari rumah, melipat sebuah kertas menjadi berbentuk pesawat setelah menuliskan sesuatu di atasnya,

 

Ayah, Ibu, bagaimana kalian? Kuharap kalian tetap sehat.

Pak Lee, apa kabarmu? Kuharap kau masih sehat dan bisa mengurus Monggu di rumah dengan baik. Jangan biarkan dia mengotori pianoku lagi!

Hari ketigaku pergi dari rumah, tidak begitu mulus. Aku dihukum melakukan pelayanan publik selama seminggu. Padahal aku hanya ingin menunjukkan pada ‘teman seperjuanganku’, bahwa menolong orang lain bukanlah hal yang sulit.

Aku membenci ‘teman seperjuangan’ itu hingga ingin memakannya hidup-hidup. Apakah aku salah? Karena dia sangat aneh, sikapnya selalu tidak peduli dan seperti alergi untuk menolong orang lain. Ah… tapi aku teringat pada pesan nenek dulu, aku harus menghargai seorang wanita. Hal itu membuatku ingin melindungi ‘teman seperjuangan’ itu agar tetap aman selama kabur dari rumah. Sayangnya ia SANGAT keras kepala!

 

Kim Jongin si Pekerja Layanan Masyarakat

 

 

“Selamat tinggal…” ucap Jongin pada pesawat kertas yang sudah diterbangkannya. Pesawat itu meluncur kencang bersama angin, yang Jongin berharap masalahnya juga ikut terbawa.

“Kim Jongin…” Jongin menoleh saat namanya disebut.

 

-Escape!-

 

 

Kkeut~

 

I’ve finished this fic, but no confident to post ><

Please give Bril a spirit by review and comment ^^9

 

Advertisements

39 thoughts on “Escape! – Two

  1. sebenarnya ji eun itu kenapa orangnya gak pedulian banget sama orang lain? kasian bibi jung 😦 pas bagian jongin nubrukin/? tubuhnya ji eun ke tembok udah tahan napas duluan/? XD *loh?
    aku suka jalan ceritanya, yang mengalir gitu aja kayak air 😀 hehehe suka banget ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s