Beep… Beep… | The Second Calling

Title : Beep… Beep… (The 2nd Calling) | Another Beep… Beep… story

Casts : Lee Hi as Hayi, SHINee Taemin as Taemin, EXO member 😉 | Rating : PG-17 | Genre : Fluffy, Mystery

© KAILLIANT

 

 beepbeep2

“Selamat pagi, Hayi!”

Hayi menguap saat teman dekatnya sejak kecil terdengar bersemangat dari ponselnya, “ya, Taemin. Kau membangunkanku lagi. Ini masih jam 9… masih pagi…”

Terdengar suara Taemin yang bersin dari seberang telepon, “hatsyu!!! Ugh, aku alergi pada pemalas! Jangan lupa datang ke pestaku malam ini. Aku menyayangimu, Hayi! Bye!”

Hatsyu!

“Kau sakit flu, ya?”

“Tidak, aku alergi pada rayuan murahan.”

Pagi itu baru pukul 9 pagi, ketika Hayi menemukan sesuatu yang mengkilap di dalam kotak posnya. Benda persegi itu berwarna emas, terselip di antara koran pagi ayah dan brosur-brosur. Ia sempat mengernyit saat membacanya,

Taemin’s Party!

Bla… bla…

P.S: Hayi, pesta tidak akan kumulai sebelum kau datang!

Setelah diingat-ingat kembali, hari ini memang sudah memasuki bulan Mei. Dimana ulang tahun sahabatnya, Taemin, dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ugh, bagaimana ia bisa lupa hari penting seperti ini? Hayi sering disebut memiliki kemampuan lebih di otak kiri, inilah yang menyebabkannya memiliki short term memory alias tempo ingatan yang tidak lama. Bagaimana mau ingat ulang tahun Taemin, ulang tahunnya yang dua hari setelah Taemin saja ia sering lupa! Kemudian seperti ayam tanpa kepala, Hayi berlari panik ke sana kemari. Ketika ia sudah mencapai batas maksimal, hanya satu tempat yang ia tuju : lemari pakaian.

Hayi menyandarkan punggungnya pada pintu kamar, memandang lemari pakaiannya yang baru saja terbuka, “oh… no!”

Setelah melalui perjuangan panjang- mengobrak-abrik lemarinya sendiri hingga lemari ibunya- akhirnya malam itu Hayi mematut dirinya di kaca, berputar-putar untuk memastikan penampilannya. Sudah pukul 8 malam, satu jam lagi pesta Taemin dimulai dan ia masih tidak yakin dengan gaunnya ini.

Tiba-tiba jendela kamar Hayi terbuka. Gorden pinknya menyembul karena angin yang kencang. Susah payah Hayi menutupnya, tepat saat suara benda pecah terdengar dari belakang. Hayi menoleh kaget dan mendapati kaca di meja riasnya sudah pecah berkeping-keping.

“Siapa?” Hayi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamarnya yang sepi. Seingatnya, tadi kaca itu masih baik-baik saja. Ia bergidik ngeri dan benci situasi seperti ini. Tanpa menunggu lama, Hayi menyambar kadonya untuk Taemin dan memakai sepatu asal-asalan untuk segera meninggalkan rumahya. Membiarkan pecahan kaca berserakan di kamarnya.

Tidak ada siapapun di rumah. Sedang orang tuanya kini mengunjungi Festival Hi Seoul yang rutin diadakan oleh pemerintah Korea tiap tahunnya. Pengunjung membludak di tahun pertama penyelenggaraan, dan terus meningkat dari tahun ke tahun, mengingat Seoul kini adalah salah satu destinasi berlibur yang terkenal Asia. Dan setiap tahun juga, Hayi tidak bisa menemani orang tuanya untuk pergi ke sana gara-gara Taemin. Ya, lelaki itu selalu menyelenggarakan ulang tahun di hari kelima festival yang merupakan puncak acara.

Ia berjalan cepat menuju Sangil-dong untuk meraih Subway 5, sambil menimbang apakah ulang tahunnya yang berlangsung 2 hari lagi harus dirayakan seperti Taemin atau tidak. Keluarganya bukan tipe keluarga yang suka merayakan hari jadi dengan bersenang-senang, mengingat hari jadi adalah pengingat bahwa hidup kita semakin pendek- itu menurut orang tua Hayi, sih. Jangan bilang mereka kolot, mereka hanya tidak tahu bagaimana caranya bersenang-senang selain belanja dan piknik.

“Mengerikan sekali!” ucap seorang anak perempuan asing kepada temannya ditengah kegiatan Hayi mencari kartu bus. Mereka berdiri tepat di depan Hayi. Mau tidak mau Hayi terpaksa mendengarkan percakapan mereka.

“Orang tuaku jadi takut memakai ponsel. Mereka bahkan berniatan menyita ponselku!”

Jinjja? Ugh, ada baiknya juga. Daripada menjadi korban terror beep beep, lebih baik aku tidak memakai ponsel untuk selamanya!”

Tak ayal satu dengusan panjang keluar dari hidung Hayi. Ia tidak peduli kalau orang menganggapnya aneh karena suka mendengus, Taemin saja sampai memanggilnya kerbau. Tapi siapa sih, yang tidak kesal kalau topik terror beep beep selalu terdengar ratusan kali dalam seminggu? Hayi sudah sering mendengar tentang terror itu di sekolah dan di rumah: siapapun yang mengangkat panggilan dari si peneror beep beep harus menuruti semua permintaannya. Kalau tidak, si peneror akan melukai korban dengan cara yang tidak masuk akal sama sekali. Dan terakhir, kalau si penerror sudah muak sampai-sampai menutup telepon, siap-siaplah meregang nyawa ketika bunyi beep beep terdengar. Sebuah panggilan bodoh dari penerror bodoh juga, begitu pikir Hayi. Ini era millennium, bukan zamannya untuk percaya hal mistis seperti itu, bukan?

Di detik yang sama saat bis berwarna hijau berhenti di depannya, ponsel pink Hayi berbunyi. Perempuan berambut panjang itu baru mengangkatnya saat sudah menemukan kursi di dalam bus. Selain karena takut tertinggal bus, ia tidak segera menjawab karena panggilan tersebut berasal dari nomor tidak dikenal.

“Yeoboseyo?”

“Bajumu manis sekali, Hayi-ssi.”

Kening Hayi menjadi berlipat saat mendengarnya, pasti telepon iseng lagi. Tak jarang Hayi mengalaminya. Mengedarkan pandang ke seluruh isi bus, ia tidak terlihat tanda-tanda seseorang yang memegang ponsel ataupun mengintainya diam-diam.

“Siapa kau?”

“Aku? Hm, aku tidak bisa bilang. Pokoknya jangan tutup teleponnya.”

“Dasar gila. Kalau begitu aku tutup-”

PRANG!!!

Kaca bus di sebelah Hayi tiba-tiba pecah. Hayi memekik dan melindungi kepalanya dari pecahan kaca. Ia cukup shock atas kejadian barusan, lampu di dalam bus pun tiba-tiba berkedip tak teratur dan semua terjadi dalam hitungan detik. Seluruh penumpang pun tak kalah kaget, memandang Hayi dengan tatapan prihatin. Bus terpaksa berhenti karena si supir ingin memeriksa jendela yang pecah tanpa sebab yang jelas. Hayi sendiri bersumpah, ia akan membunuh siapa saja yang iseng melempar kaca itu sampai pipi mulusnya tergores.

Hayi teringat pada ponsel di genggamannya, dan ia sadar belum sempat memencet tombol end. Firasatnya semakin buruk seiring mendekatnya ponsel itu ke telinganya.

“Sudah tahu apa resikonya kalau kau menutup teleponnya, Hayi-ssi? Ini baru kaca, masih ada yang lebih hebat.”

“SIAPA KAU?!” seluruh penumpang terlonjak saat Hayi berteriak.

“Siapa lagi? Aku yang punya beep-beep…”

Mendadak Hayi merasa paru-parunya mengerut.

Sebuah bus hijau melaju kencang seiring berjalannya jarum detik di jam digital umum Family Mart. Sudah pukul 9, lumayan banyak orang yang berlalu lalang di sekitar supermarket favorit warga kelas menengah Seoul tersebut. Tak jauh dari sana, lampu jalan tengah berkedip-kedip, menandakan sisa umur yang tidak lagi lama. Dan seorang perempuan di bawahnya hanya bisa mematung.

Dia Hayi. Ia berdiri sendiri, ditemani segenggam ponsel di telinganya.

Taemin, tolong aku…

Jika benar-benar diteliti, terdapat luka gores kecil di pelipisnya. Luka tersebut didapatnya saat menganggap penelpon misterius di ponselnya adalah seorang penipu. Anehnya, bis yang ditumpanginya berhenti mendadak – lagi– sehingga tas salah satu penumpang terlepar mengenai kepalanya. Pilihan yang dibuatnya adalah turun dari bis, saat itu juga.

“Kau bisa melihat Fun Machine di sebelah timurmu?” terdengar suara berat dan menuntut dari ponselnya.

Ia pun menoleh dan memang benar, ada area bermain bernama Fun Machine di timur.

Tubuh Hayi bergetar takut saat mendengar suara peneror itu. Tidak selamanya dirinya adalah Hayi Si Pemberani, ia juga memiliki batas keberanian. Ternyata seperti ini rasanya hidup diambang kematian, Hayi cukup takut harus kehilangan nyawa malam ini hanya karena terror beep beep yang bodoh baginya. Ralat, ini bukan terror bodoh, karena terror ini benar-benar ada dan sedang mengancam nyawanya.

 “Menangkan satu round saja game Music Space. Kalau kalah, nasibmu berhenti di sana. Ah, dan satu lagi. Aktifkan loudspeakernya.”

Hayi menuruti perintah itu. Ia melangkah pelan menuju Fun Machine yang letaknya tak jauh dari Family Mart. Semudah ini kah tantangannya? Hayi menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya sambil memasuki area bermain yang cukup ramai. Menurut denah di pintu masuk, game Music Space terdapat di lantai dua. Dimasukinya salah satu tirai, dan layar mesin game sudah menyambutnya. Ada gambar tuts berwarna hitam dan putih di bagian layar, sementara di bagian mejanya terdapat navigator touch screen. Ia duduk di kursi dan baru sadar kalau dirinya belum membeli kartu bermain.

“Ambil kartunya di depanmu,” Hayi tersentak saat suara itu kembali terdengar dari ponselnya, bahkan ia sempat mengira kalau si penelpon itu adalah Tuhan karena bisa mengetahui apapun yang sedang dipikirkannya dari tadi, “Peraturannya hanya satu. Kau tidak boleh memainkan gamenya dengan jarimu.” Lanjut penerror tersebut dengan santai.

Hayi tertawa kecut, “bagaimana aku bisa main kalau tidak dengan sentuhan jari?” Gila.

Kau tertawa dalam waktu yang tepat, Hayi-ssi. Hahaha… cukup pakai benda berdaya hantar listrik rendah saja. Seperti kuku jarimu…”

“Kuku?” Hayi membeo.

Nah, kan ada pemotong kuku manual di depanmu.” Hayi akhirnya mengerti kenapa ada pemotong kuku bergambar hello kitty yang sedari tadi tergeletak di depannya. Tapi sejauh ini, ia masih belum mengerti apa yang diinginkan oleh si penerror.

Tunggu apa lagi? Cepat jatuhkan kuku-kukumu ke touchscreennya dan mulai gamenya! Bermain dengan kuku, bukan dengan jari, kau paham?”

Sebelumnya, Hayi tidak pernah menangis sekeras ini. Orang gila mana yang menggunakan kuku untuk bermain game? Hayi mencoba menekan touch screen di depannya. Ia merasa disengat listrik ribuan volt detik itu juga. Tentu nyawanya sudah melayang kalau tidak segera mengendalikan jarinya untuk menjauh. Mesin game bertajuk Music Space itu baru mau berfungsi saat Hayi menjatuhkan potongan pertama kukunya.

Sheet music Fur Elise ada di urutan pertama, Hayi tidak mau mengulur waktu untuk memilih-milih yang lain. Beberapa not balok berjatuhan saat game dimulai, tugas Hayi hanyalah memencet tuts yang sesuai di meja touchscreen. Dengan kukunya.

Ia menanggalkan kuku panjangnya sedikit demi sedikit. Saat meja sudah kotor dengan kuku-kukunya, Hayi meniup kuku tersebut dan mulai memotong kembali. Begitu seterusnya. Game itu baru berlangsung selama setengah menit, sementara ujung jari-jari Hayi sudah terasa panas karena kukunya yang semakin pendek. Kini jemarinya tak lagi indah. Padahal Hayi mengorbankan banyak hal demi merawatnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah konsentrasi pada tempo yang semakin bergerak cepat dan buram karena pandangannya terhalang air mata.

Tidak, ia tidak boleh berakhir di bilik ini.

Suara teriakan anak-anak yang memenuhi gedung seakan menjadi lagu Fur Elise di tengah malam, mencekam. Tangan Hayi masih bergetar, seiring dengan mengalirnya darah di setiap jarinya dan countdown yang menunjukkan waktu Hayi tinggal sebentar lagi. Dua kesalahan lagi, game over. Ia enggan membayangkan hukuman apa yang didapatnya jika tulisan itu muncul di layar. Tanpa sengaja satu tetes darahnya mengenai tombol kunci F, lalu terdengar nada F. Ya Tuhan, satu kesalahan lagi membawanya ke ambang kematian.

Kukunya sudah hampir habis, dan game masih berakhir 10 detik lagi. Tanpa pikir panjang, Hayi menjatuhkan tetes-tetes darahnya ke atas touchscreen. Ia sampai  menekan jarinya agar darah yang keluar semakin cepat mengikuti tempo.

“Selamat, kau menang!” Itu kalimat pertama yang didengar Hayi setelah tergeletak lemas di lantai. Ia menang. Bau anyir darahnya seperti menjadi hadiah utama, perih yang menjalar di setiap ujung jarinya adalah hadiah tambahannya. Memang tidak ada alasan lagi untuk Hayi agar tidak menangis. Jemarinya terasa sangat perih.

“Sebenarnya apa tujuanmu, uh?” tanya Hayi lemah. Suara penelpon itu tidak terdengar sampai Hayi keluar dari area bermain. Beberapa anak kecil memekik saat melihat tangan Hayi dipenuhi darah. Tidak ada seorangpun yang berani mendekat. Hayi segera memeriksa ponsel, dan ternyata panggilan tersebut sudah berakhir.

Ia tersenyum di tengah tangisannya. Tidak perlu mendengar bunyi beep-beep, itu artinya ia selamat. Ia selamat. Selamat.

Hayi berlari menuju rumah Taemin, masih menggenggam tas berisi ponsel dan kado yang dibungkus dengan rapi. Beberapa kali tas tersebut jatuh di tengah perjalanan, Hayi terlalu lemah untuk sekadar menggenggam sesuatu.

Bruk!

Ini jatuhnya yang ke-empat.

Ia hendak bangun saat mesin eskalator di jembatan penyebrangan menyedot ujung rambutnya dengan murka. Membuat seluruh tubuhnya terseret sementara rambutnya sudah menghilang di balik mesin yang terus berjalan. Eskalator itu menyedot rambutnya seperti anjing kelaparan. Hayi meronta, meminta siapa saja untuk melongnya. Sungguh, ia masih ingin hidup- matipun tidak dengan cara seperti ini.

“Kumohon… tolong aku…” Hayi terus memohon sambil memegangi rambut panjangnya.

Tiba-tiba eskalator itu berhenti. Sepi. Jembatan penyebrangan itu tak lagi dipenuhi oleh suara Hayi yang meronta minta tolong. Hayi sendiri terdiam kaku. Tak lama kemudian Hayi membuka mata dan menangis haru karena ia masih diberi kesempatan untuk hidup.

Klontang!

Sebuah gunting dan topi pantai berwarna pink jatuh tepat di samping tangannya. Perihal siapa yang memberi dua benda itu secara tiba-tiba, Hayi tidak mau tahu. Dengan berat hati ia menggunting rambutnya agar bisa terlepas dari eskalator, mengenakan topi untuk menutupi rambutnya yang tak berbentuk, lalu lekas pergi dari sana. Tidak ada ucapan selamat tinggal untuk ratusan helai rambutnya yang kini menghiasi ujung eskalator, Hayi sibuk menggigil karena diselimuti oleh rasa takut.

Ia sampai ketika musik berirama tinggi menghentak taman belakang rumah Taemin. Semua orang terlihat bersenang-senang, tak ada satupun yang melihat tangan serta gaun Hayi sudah ternodai oleh darah di beberapa titik. Hayi sendiri bisa melihat Taemin yang sedang dikerubungi oleh banyak wanita cantik, namun terlihat tidak tertarik dan malas.

Baru saat matanya menangkap sosok Hayi, ia terlihat bersemangat dan tersenyum cerah.

Hayi, dengan sisa tenaganya, mencoba memberi senyum terbaiknya. Meskipun ia cukup terpukul dengan macam-macam kejadian yang mengancam nyawanya hari ini. Bagaimanapun ini pesta ulang tahun Taemin, ia ingin memeriahkannya dengan senyuman.

Taemin datang dengan satu pelukan yang panjang, “Aku sangat merindukanmu. Ini aneh sekali, padahal baru kemarin kita bertemu, ya kan?” ucap Taemin diikuti tawa. Ia lalu membisikkan sesuatu pada Hayi, “kau tidak bersin, eoh?”

Hayi kebingungan, “bersin? Untuk apa aku bersin?”

“Siapa yang pagi ini bersin karena alergi rayuan murahanku?” canda Taemin. Beberapa saat kemudian seseorang menyerukan namanya, membuat lelaki itu terpaksa pergi meninggalkan Hayi sebentar. Ia tidak tahu bahwa sahabatnya itu meringis sedari tadi, merasakan perih yang menjalar dari jemari, kulit kepala, hingga ke seluruh tubuh- shock.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hayi dan menyodorkan ponsel kepadanya. Hayi sedikit heran karena ponsel itu seperti ponsel miliknya.

“Ini milikmu, nona.” Kata lelaki berambut emas tersebut. Hayi ragu menerimanya.

“Tadi berbunyi saat kau menjatuhkannya. Maaf aku lancang mengangkatnya, sepertinya dari ayahmu, dia sangat khawatir.”

Hayi bersyukur lelaki itu langsung pergi saat tangannya mengambil ponsel itu. Sepertinya lelaki itu tidak sempat mengamati keadaan jemarinya yang mengerikan. Didekatkannya ponsel itu ke telinga, sambil mencari-cari sosok Taemin yang terhalang oleh teman-temannya.

Yeoboseyo?”

“Selamat tinggal, Hayi-ssi!” beep… beep…

-oh, tidak!

Suara berat itu lagi. Dan, bunyi apa itu? Beep… beep?

Hayi tidak bernapas saat mendengar beep beep yang terasa dingin dan menusuk itu. Sempat dilihatnya Taemin yang tengah tersenyum padanya. Lelaki itu tersenyum bersama lelaki berambut emas tadi, saling merangkul bahu dengan akrab. Tangan Taemin yang sedang menggenggam ponsel melambai untuk Hayi.

Tapi… senyum mereka adalah senyum yang tidak pernah diharapkan oleh seorangpun di dunia ini. Dan Hayi, ia tidak mengenal Taemin di detik terakhir hidupnya.

Jangan, aku tidak mau mati sekarang-

ANDWAE!

Semua terpaku saat melihat kepala Hayi sudah hilang dibawah pohon yang tiba-tiba tumbang. Kepala yang dulunya ditumbuhi rambut panjang dan manis itu pasti sudah pecah. Darah Hayi merah dan segar- berhamburan kesana kemari. Ke jejeran gelas punch, bercampur dengan air mancur kecil di pusat halaman, hingga ke rerumputan hijau yang baru disiram tadi sore.

Kkeut~

Maaf ya Bril jarang update. 3 Hari terakhir ini suhu tubuh 38 derajat dan terpaksa ndekem di kamar. Balik jadi bayi juga soalnya disuapin orang serumah. Hihihi *setengah sakit setengah modus

Kali ini Kris aku pakai sebagai ‘tersangka’. Khukhukhu :p

Semoga review dan komen kalian buat Bril cepet sehat ^^

Advertisements

31 thoughts on “Beep… Beep… | The Second Calling

  1. Lagi lagi kris terlibat teror beep beep -_- dia masih jadi tersangka/? Dan apa apaan lagi taemin sampe ikut ikutan neror dan ngebunuh sahabatnya sendiri kayak kris -_- kayaknya aku tahu suara siapa ditelepon yang waktu fanfic beep beep yang pertama yang waktu ngomong di telepon sama minjung itu pasti taemin/? XD *loh sotoy* tapi entah kenapa ya fanfic beep beep yang kedua ini adegan sadisnya lebih lebih ya XD tapi aku suka/? Uhuk!! *dasar orang aneh :v
    Ini orang berdua sadis ya sama sahabatnya -_- *pelototin taemin kris XD

  2. Oh daebak!! Kenapa sekarang kris terlihat smakin cocok jadi phsyco.. no no no no #alaGee

    itu.. Itu.. Yang rambut kesangkut eskalator, ngeri gw byanginnya, untung gw gak pernah nntn FD 4, katax ada adegan bgituan. Byangin yang di ff aja merinding, serasa rambut gw yang ketarik palg nnton beneran, bisa2 masuk UGD gw gr2 serangan jantung.

    Btw ntu taemin, unyu2 tapi sadis ya. Mungkin kelamaan b’gaul ma kris kali ye, doi kan mukanya dingin2 kece gmanaaa gtu jd sadisnya udah terbentuk secara alamiah *plakk!! #tenangKrisAkuMasihPadamu

    yah intinya ni ff daebak! Mengerikan! Horor! Banget malah coz gw anti adegan sadis jd yg ini aja udh bwt gw down. Untung gw bukan hayi *lagian hayi gak kenal kris jd yah gak rugilah kekeke

    Tapi ga pa2lah sekali2 bc ff thriler gni. Lumayanlah #setelah ini tepar -_-

    kata SBY sih, Lanjutkan!!
    Kalo kata gw mah, jangan kelamaan menistakan krisku jd psiko nde. Sekali2 munculin doi sbg sahruk khan ver. Korealah *apaan seh -_-

    pokoknya Keep writing thor! Fighty!!

  3. Kok aku ngeri bgt ya thor -_- taemin itu psikopat sama kayak kris jg ya thor? Apa alasannya sih ngebunuh gt yaampun tegaaaa. Nice ff thor ^^

  4. yatuhaan. nahan nafas asli aku bacanya. ndredek juga kak-_- yatuhaan jadi parno:(( kris kok bisa ya kayak gitu ? taemin kok ? penasaraaaaan kak!!!

  5. Wah wah wah daebak jinja jjang!!
    Aku gak ngerti kenapa Kris bisa se psycho itu, adakah seseorang yang bisa menghentikannya?
    Dan kenapa si beep beep bisa bertepatan dengan Truk datang terus pohon jatuh, bener bener membingungkan tapi rame banget, dan kebayang mukanya Taemin dan Kris yang lagi senyum sambil melambai lambai ketika HaYi lagi meregang nyawa di depan mereka, keren keren bikin The 3rd calling nya dong, tapi kali ini Kris nya ditangkep, aku jadi kasian sama korban korbannya sama penasaran juga kenapa Kris melakukan ini semua, keke gomawo

  6. bril ==” oh tidaaaak. rambut emas itu si kris? aku pikir siapa wkwk
    as always, ff mu luarrrrrr biasa wkwk. Oiya sebenernya motif taemin bunuh hayi kenapa yak? apa psikopat sama kaya kris?

    Btw, cepet sembuh :))

    1. jangan sampe kamu ngira rambut emas itu sule ==
      silahkan tebak di kolom komentar tentang motif pembunuhnya. Siapa tahu bener /tapi no hadiah ya kalau bener/ wkwk.
      By the way, setelah baca komentar temen-temen di ffku pasti aku cepet sembuhnya 🙂

      1. dohh berat ini -__- jadi bayangin rambut sule, tapi wajahnya kris.
        Yayaya~ aku nggak pinter tebak tebakan u_u minta hadiah aja deh gausah nebak wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s