Kitchen-ing !

Casts : Byun Baekhyun, Sulli | IU as cameo | Genre : Fluff |

Read Sweet Chocolate Ice Cream and A Cup of Hot Chocolate first 🙂

copyright KAILLIANT

“Now what else? You’ll hurt your cheeks by this oil? Or you’ll drop the knife to hurt your legs? THERE IS NO SUCH SILLY THINGS IN COOKING.”

B

Seorang wanita paruh baya tengah memutar tubuh di depan kaca, mencari titik apa saja yang mengganggu penampilannya kali ini. Nyonya Choi hampir sempurna, kalau saja tidak ada cincin berlian besar yang bertengger di jari manisnya, dengan model yang ketinggalan zaman.

Sulli- putrinya- malah asyik berkutat dengan mangsa barunya, semut. Ya, semut. Mungkin ia terlalu lelah dengan tugas fisikanya yang tak kunjung selesai. Jadi perempuan enam belas tahun itu memutuskan untuk mengamati ratusan semut yang berbaris rapi di bawah anak tangga. Sesekali ia mengusapkan jari telunjuknya ke dinding saat ada celah diantara hewan tersebut. Menghapus jejak semut atau yang biasa disebut pheromone, yang merupakan tanda bagi bangsa semut agar tidak tersesat dari rombongannya. Akhirnya ia berhasil membuktikan apa yang dikatakan Kwon-saem minggu lalu, tentang yang bisa membuat semut berjejer rapi.

Moodnya tidak terlalu baik hari ini. Sudah tiga kali Baekhyun, teman sebangkunya di kelas astronomi, tidak hadir. Tanpa surat izin. Meskipun anak lelaki itu hanya memasang wajah serius saat di kelas, menghemat berbicara, dan bahkan tidak tersenyum lebih dari dua kali− saat Sulli memberinya es krim cokelat dan cokelat hangat dulu tanpanya sepanjang pelajaran terasa sepi.

“Kau dengar apa yang tadi kukatakan?” Nyonya Choi berkacak pinggang, bukan sekali dua kali putri pertamanya itu suka mengacuhkan apa yang diucapkannya.

“Ne, eomma, aku dengar. Kau menghadiri seminar di Busan dan baru bisa pulang besok siang, kan? Eomma mengatakannya ratusan kali kemarin!” Sulli merangkak keluar dari celah di bawah tangga, kemudian menyambar tasnya untuk dibawa ke dalam kamar. Lihat saja, seragamnya masih menempel beserta atribut lengkap, termasuk sepatu. Padahal ia sudah pulang sekolah dari setengah jam yang lalu.

Perempuan itu memeluk pundak Nyonya Choi sambil merengek, “bagaimana kalau lampunya padam? Aku benci gelap! Lalu kalau aku lapar? Eomma~ aku menginap di rumah Ji Eun saja, ya, ya?”

“Tidak boleh! Kau sudah besar, masa tidak bisa menjaga apartemen sendiri?” tolak Nyonya Choi tegas, menyebabkan cekungan di bibir putrinya. “Eomma berangkat. Jangan nakal, ne?”

Nyonya Choi mencium dahi putrinya sebelum mengambil sebuah kontak mobil yang tersimpan di atas meja, tidak sempat melihat Sulli menghentakkan kaki terhadap sikapnya yang masih berpendirian tetap dan tidak mudah terbujuk rayuan apapun.

Sulli berdecak. Membujuk ibunya sendiri memang sesulit membujuk seorang teman sekelas terjutek yang pernah ada, Byun Baekhyun, untuk tersenyum.

“…Kris oppa jinjja daebak! Dia sehebat O’neill! Lay up, memasukkan bola, bergelantungan di ring…” Ji Eun berteriak dari seberang telepon, sebelum Sulli benar-benar menjauhkan gagang itu dari telinganya sambil tertawa senang mendengar ekspresi kekaguman sahabatnya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam, sebentar lagi waktunya untuk makan malam− itu kalau Nyonya Choi sedang ada di rumah. Tetapi Sulli tidak peduli meskipun perutnya sudah berbunyi dari tadi. Bergosip dengan Ji Eun di telepon cukup mengganjal rasa laparnya.

“Yah, Sulli! Jangan tertawa saja! Sekarang, beritahu aku caranya menghilangkan wajah dingin si jutek itu!”

Wajah dingin? Sulli menenggak salivanya, Baekhyun. “Mmm, itu…”

“Baekhyun mengunjungimu di UKS, bukan?“ potong Ji Eun, yang membuat Sulli langsung mendelik karena ia rasa tidak ada satupun orang yang melihat kejadian tersebut “itu keren sekali! Tahu tidak, saat itu aku sedang mengambil kotak plaster luka untuk Rin yang tersandung di taman…”

Oh, pantas aku tidak menemukan plaster luka sama sekali. Dasar! Gumam Sulli ditengah cerita Ji Eun.

“…saat kau masuk, aku sedang mengambil bolpoinku yang terjatuh di kolong tempat tidur UKS. Tapi aku tidak berani keluar saat tiba-tiba Baekhyun datang – Hei, senyumnya manis!- lalu mengobati dahimu… Ya Tuhan, hal itu manis sekali, kau tahu?”

Tring!

Sulli tidak mau lagi mendengar kelanjutan cerita Ji Eun. Selain karena suara bell pintu yang baru saja berbunyi, ia juga bisa menebak dengan mudah endingnya – Ji Eun pasti sudah menyebarkan ceritanya ke seluruh anak perempuan di kelas.

“Ji Eun, sepertinya aku kedatangan tamu. Kita lanjutkan besok! Bye!”

Ia buru-buru beranjak dari posisinya. Mengecek layar intercom untuk melihat siapa tamunya, lalu membuka pintu saat ia merasa wanita asing di balik pintu bukanlah orang yang berbahaya, “selamat malam… anda mencari siapa?”

“Sulli-ah. Kau pasti belum makan, kan? Aku adalah teman dekat ibumu. Rumahku di sebelah timur apartemen. Ini, sup ayam untukmu! Oh ya, panggil saja aku Nyonya Byun. Margaku Park sih, tapi aku lebih suka dipanggil begitu.” wanita itu mengoceh gembira, kemudian menyerahkan sepanci sup ayam panas pada Sulli. Raut wajah Sulli berubah sumringah. Ia langsung membungkuk dan berterima kasih. Sulli hampir masuk kembali ke dalam rumah kalau saja tidak ada anak lelaki yang tiba-tiba muncul dan mengajak bibi itu mengobrol.

Eomma, kunci mobil ayah−”

“Byun Baekhun?!”

Sulli memekik senang, Baekhyun ada di depannya! Ia lupa tangannya semakin pegal karena menumpu panci sup yang lumayan berat, juga tidak peduli saat bibi itu bilang, ‘kau mengenal anakku?’. Yang ia rasakan hanyalah kepala yang berdenyut saking herannya.

“Oh, hai.” Jawab Baekhyun sederhana.

Ruang tamu itu sunyi. Baik Sulli maupun Baekhyun tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan sama sekali. Mereka berdua tidak mungkin terperangkap dalam situasi canggung begini kalau saja Nyonya Byun tidak meminta Baekhyun untuk menemani Sulli sebentar, sementara beliau kembali ke rumah untuk menemui tamunya.

“B-baekhyun-ah…” decit Sulli, suaranya kecil seperti suara tikus di got belakang gudang rumahnya saat malam hari. Baekhyun yang menjadi objek tatapannya itu menoleh.

“Ya?”

Uh, singkat sekali. Baiklah, Sulli tidak akan lagi mengharapkan Baekhyun akan bicara lebih dari lima kata−bahkan tersenyum padanya. Anak lelaki itu hanya bisa ditaklukkan dengan es krim cokelat atau cokelat hangat. Sementara ia tidak punya bahan cokelat apapun di kulkas.

“Kau tidak makan?” tanya Baekhyun saat mendapati Sulli melirik panci sup dari ibunya. Baekhyun banyak belajar dari lingkungan di sekitarnya, gelagat yang ditunjukkan Sulli menunjukkan kalau perempuan itu benar-benar kelaparan.

“Aku tidak…” krauuuk. Ups, cacing-cacing di usus Sulli sangat tidak mendukung niatnya untuk berbohong. “Oh baiklah. Aku lapar! Aish, memalukan sekali, kenapa bisa bunyi disaat seperti ini? Aish…” Sulli menggeleng berkali-kali untuk menghilangkan rasa gugupnya di depan Baekhyun, “kau mau, Baek?”

“Tidak, kau saja. Aku tidak begitu suka daging.”

Perempuan itu menyambar pancinya. Dari kecil Nyonya Choi memang sering mengajarkan tata krama makan, dimana seorang wanita tidak boleh terlihat antusias terhadap makanan di hadapan pria, tidak makan langsung di panci, dan daftar table manner yang lain. Namun khusus kali ini, Sulli ingin menghapus semua pengetahuan tata krama itu. Ia sedang dalam tahap klimaks dari rasa laparnya.

Tangannya bergerak cepat mengambil peralatan makan yang dibungkus rapi di serbet.

Bruk…

“Aaaa, sup-nya! Sup-nya!!! SUP-NYAAA!!!”

“Yak! Jangan menyentuhnya! Tanganmu bisa melepuh!”

“Tapi Baekhyun, lihat-lihat, supnya tumpah. Daging ayamnya, sayurnya, hueeee! Aku kan lapar! Hueeeee….”

“Isssssh!!!”

Baekhyun selesai dengan urusan apron di bagian depan tubuhnya. Ia tetap memakainya meskipun sedikit risih karena warnanya pink- huh!. Kalau tidak, Sulli akan menangis terus karena lapar. Baekhyun telah mencoba menghubungi nomor telepon Nyonya Byun, barangkali ibunya itu bersedia mengantar sup ayam lagi ke apartemenSulli. Sayangnya beliau tidak menjawab, kemungkinan besar masih sibuk dengan para kliennya. Walaupun ibunya yang lulusan arsitektur di Boston itu sudah mengundurkan diri dari posisi konsultan, masih banyak orang yang mengatasnamakan pelanggan setia datang untuk berkonsultasi.

Sementara itu, di sampingnya Sulli sudah siap memegang wajan penggorengan. Perempuan itu terlihat takjub dengan apa yang dipegangnya, padahal itu hanyalah sebuah wajan. Baekhyun terlihat sedikit menghela napasnya, seperti bersiap untuk permulaan yang baru.

“Baiklah, kau ingin masak apa?” tanya Baekhyun. Sulli terlihat berpikir keras, “makanan yang enak tapi tidak sulit dibuat.”

“Telur dadar.” jawab Baekhyun cepat, membuat Sulli terbelalak kagum. Ternyata, lelaki di sebelahnya itu tidak hanya jago di bidang astronomi.

“Baiklah! Telur dadar, fighting!”

“Hentikan kekonyolanmu. Bantu aku mengiris bawang ini!”

Sulli mengerjap, karena saat menoleh tahu-tahu ia mendapati Baekhyun berkutat dengan seledri dan bawang. Ia menyimpan wajannya sementara, mengambil pisau untuk membantu Baekhyun mengiris bawang. Suara pisau yang berbenturan dengan kayu itu memenuhi ruang dapur, mengalahkan suara televisi yang sengaja dinyalakan untuk menambah keramaian. Ini bukan pertama kalinya Sulli menggeluti kegiatan bernama ‘memasak’ di dapur. Tapi setelah ia ingat-ingat, ternyata selama ini yang ia lakukan selama membantu Nyonya Choi memasak hanyalah mencicipi rasa makanan, dan mengambilkan peralatan yang dibutuhkan ibunya itu.

Gerakan tangan Sulli terhenti. Ia mengerjap, lalu…

Ommo, mataku! Yaaah, perihnya! Ommo…” ia melompat-lompat kecil sambil mengusap matanya yang perih akibat mengiris bawang. Matanya tak kunjung terasa nyaman meskipun dikucek berkali-kali. Baekhyun tak sengaja membanting pisaunya karena panik, kemudian terheran saat melihat tingkah Sulli yang terlihat sangat aneh, lalu menggeleng-geleng.

“Jangan berlebihan… itu hanya bawang merah.”

“Tapi ini perih sekali. Hueeeeomma…”

Baekhyun menarik satu tissue dari tempatnya, lalu buru-buru menempelkannya ke mata Sulli, “sudah, kau yang mengiris seledri saja. Aku yang mengupas bawangnya.”

“Lihat aku,” ujar Baekhyun sambil memegang sebuah pisau. Sulli segera memandang wajah Baekhyun. Pipinya sedikit bersemu, memandang wajah temannya yang imut dan…

Yah! Maksudku lihat gerakanku memotong bawang!” Baekhyun mendengus, “lihat ini, potong ujungnya sebelum mengirisnya tipis-tipis, agar zat yang membuat mata kita perih hilang. Arra?” mata anak lelaki itu sedikit menyelidik, memastikan Sulli menyimaknya dengan baik. Memang tugas Sulli bukan lagi mengiris bawang, tapi setidaknya pelajaran ini akan berguna.

Roger that, cheff!” Sulli mengangkat tangannya, melakukan gerakan hormat yang sayangnya Baekhyun tidak mau melirik barang sedikitpun.

Tidak sampai dua menit, Baekhyun sudah selesai dengan urusan mengiris bawangnya. Membersihkan tangan ke permukaan serbet di apron, ia kemudian beralih pada Sulli yang sedang terfokus pada seledrinya. Baekhyun hendak mengambil telur yang mungkin tersimpan di dalam lemari es, ketika Sulli menjatuhkan pisaunya dan kembali berteriak seperti bayi.

“Yah-yah-yah!!! Ommo, tanganku terluka. Hueee… perih sekali!!!”

Telunjuk kiri Sulli memang mengeluarkan tetesan berwarna merah segar, kembali membuat Baekhyun sedikit panik.

“Mana jarimu?” Baekhyun segera melilit jari telunjuk Sulli dengan berlembar-lembar tissue yang ditumpuk untuk menghambat pendarahan. Ia kemudian berdecak.

Ya!”

“A-apa?” jawab Sulli saat mendengar bentakan Baekhyun.

“Apa lagi setelah ini? Pipimu terkena minyak panas? Atau kau menjatuhkan pisau hingga melukai kakimu? Hal sebodoh itu tidak ada dalam memasak!”

Tidak biasanya Baekhyun berbicara pada nada tinggi. Meskipun auranya dingin, Sulli tidak pernah merasa seciut ini. Tetapi ia memang tidak begitu mengenal Baekhyun, bukan? Mana ia tahu baekhyun akan semarah itu saat menghadapi kecerobohannya yang kelewatan.

Sulli membungkuk kecil, “mianhe, Baekhyun-ah.”

Sulli menatap punggung itu membungkuk untuk meraih sebuah telur ayam dari dalam kulkas. Ia sendiri bergegas menyiapkan penggorengan ke atas kompor, akan menunjukkan bahwa dirinya bisa menjalankan tugas dengan baik.

“Kau pernah memasak telur sebelumnya?”

Sambil bertanya, tangan Baekhyun dengan fasihnya membenturkan ujung telur ke bibir mangkuk, menumpahkan seluruh isinya ke dalam mangkuk, lalu mengocoknya sebelum melempar cangkang tepat ke dalam tong sampah yang jauh di pojokan. Sulli, yang entah sejak kapan mulutnya ternganga, hanya bisa menepuk tangan pelan.

“Woah, kau hebat sekali, Cheff! Aku sering membantu eommaku memasak telur dadar, tapi dia tidak sehebat itu!

“Oh ya?” tangan Baekhyun terus mengocok telur dengan kecepatan tinggi, “pasti kau hanya mengacaukan semuanya!” cibirnya kemudian, sehingga Sulli menatapnya kesal.

“Ya! Ternyata selain mengocok telur, Cheff juga hobi mengejek orang lain!” dipukulnya lengan Baekhyun dengan spatula sebagai bentuk kekesalan. Sedetik kemudian, Baekhyun malah tersenyum mendengar balasan Sulli itu.

Ooh. Sulli kini terpaku saat melihat senyum Baekhyun, yang buru-buru diganti dengan wajah angkuh khas Baekhyun seperti biasanya.

Anak lelaki itu berdehem sambil menyibukkan diri dengan kompor dan penggorengan, enggan melihat Sulli yang masih terpaku.

Padahal tidak ada apapun yang berhubungan dengan cokelat- hal yang biasanya membuat Baekhyun bisa tersenyum. Tapi beruntungnya, Baekhyun mau tersenyum tadi. Sudah cukup Sulli bermimpi untuk mengabadikan senyuman Baekhyun lewat kamera ponsel, karena tangannya sendiri terasa kaku untuk sekadar merogoh ponsel dari saku celana. Baginya, meski hanya beberapa detik, senyum Baekhyun manis seperti es krim dan sehangat minuman cokelat.

Kemudian saat merasa pipinya memerah, Sulli kembali menyibukkan diri dengan pisau dan seledri. Memotongnya tipis dan rapi. “Seledrinya dikocok dengan telur, kan?” tanya Sulli untuk memastikan, yang dijawab Baekhyun dengan sebuah anggukan kecil. Kakinya mengetuk pelan lantai dapur saat mendengar lagu Oneshoot yang sedang diputar di acara musik televisi.

“Apakah minyaknya sudah siap, Cheff?” tanya Sulli sambil menumpahkan seluruh isi mangkuk seledri beserta tambahan lainnya ke mangkuk kocokan telur, lantas tersenyum bangga saat tahu tidak ada lagi kesalahan yang dia lakukan.

“Atur apinya, jangan terlalu besar. Jika ingin memastikan apakah minyaknya sudah panas atau belum, cukup teteskan telur ke dalam penggorengan. Jika telurnya membentuk gelembung, berarti minyaknya sudah siap.”

Sulli mengagguk paham, lalu melakukan apa yang dikatakan Baekhyun. Gelembung-gelembung kecil terbentuk saat ia meneteskan sedikit kocokan telur. Dituangnya seluruh isi mangkok ke dalam penggorengan.

Tak lama kemudian, teriakan Sulli kembali memenuhi dapur, mengalahkan frekuensi yang dihasilkan televisi, tepat saat angin malam berhembus menyambar gorden-gorden di apartemen itu. Butir-butir minyak panas melompat tak karuan. Sulli mencoba menunduk, sayangnya terlambat. Mereka sudah melukai beberapa bagian kulitnya yang halus.

Yah, Sulli-ah!” menyaksikan hal itu, mata Baekhyun terbuka lebar dan napasnya berhenti sebentar. Ia segera melapisi permukaan penggorengan dengan serbet agar dirinya sendiri tidak terkena cipratan minyak, lalu baru mematikan kompor. Segera dihampirinya Sulli yang sedang berjongkok di bawah. Pundak perempuan itu bergetar, menahan rasa perih yang dihasilkan minyak panas tadi di permukaan kulitnya. Hah… bahkan pekerjaan termudah pun bisa rumit kalau ada Sulli.

“Pasti kau belum membuang air di mangkuk seledrinya, kan? Minyak tidak bisa bersatu dengan air karena sifat non-polarnya, bukannya Han-saem pernah bilang? Hah…” Baekhyun kembali mengomel, memegangi kedua pundak Sulli yang menangis semakin kencang.

Mianhe, aku… selalu merepotkan.”

Kata maaf lagi. Ia tahu Sulli memang ceroboh. Selalu meminta maaf dan  itulah yang selalu terjadi di kelas astronomi yang mereka lalui selama ini. Hal itu secara tak langsung membuatnya tampak lemah. Baekhyun jadi sedikit merasa bersalah juga. Perempuan itu tidak salah, ia hanyalah putri tunggal yang sedang ditinggal ibunya untuk bekerja. Harusnya ia saja yang memasak, tidak perlu melibatkannya yang ceroboh itu.

“Yah… gwaenchana…” tangannya menepuk punggung Sulli, sementara tangan yang lainnya mengusap puncak kepala Sulli pelan.

“… jangan menangis lagi.”

Pada akhirnya kepala itu mendongak, menampilkan wajah murung yang sudah basah oleh air mata. Sulli tengah mengerjap untuk menjelaskan pandangannya. Ditengah rasa bersalah dan sakit di sekujur lengannya yang semakin parah, ia masih bersyukur dapat menyaksikan Baekhyun yang kembali tersenyum hangat. Senyum itu sangat berkesan karena bisa muncul tanpa Sulli berusaha memberi hal-hal yang berbau cokelat seperti sebelum-sebelumnya.

“Ayo obati lukamu dulu!”

Baekhyun menuntunnya menuju meja makan yang terletak di pusat dapur. Setelah Sulli menunjukkan dimana letak kotak P3K, ia bergerak cepat mengambilnya dan memilih obat apa saja yang ia perlukan untuk mengobati kulit Sulli yang memar karena luka bakar.

“Kau pernah mengobati orang yang terluka sebelumnya?” tanya Sulli. Meskipun ia sudah selesai menangis, tenggorokannya tidak berhenti berkontraksi sehingga menimbulkan suara aneh− khas manusia sehabis menangis.

Baekhyun mengangguk, “aku sering mengobati luka-luka ringan yang didapatkan keluargaku di rumah. Ayahku yang mengajarinya, dia dokter.”

Aaa… ne. Kau bagus di banyak hal,” puji Sulli, “kau bagus di pelajaran astronomi dan fisika, mengocok telur, mengobati luka…” lanjutnya.

“Apa aku sehebat itu?”

Perempuan itu mengangguk lemah, “iya! Tetapi kenapa hari ini kau tidak masuk sekolah lagi? Kau juga tidak izin sama sekali.”

“Um….” Baekhyun terlihat berpikir sebentar, “aku tidak enak badan. Hatsyu! Lihat, aku baru saja bersin!” Baekhyun menunjuk hidungnya sendiri. Hal itu membuat senyum Sulli merekah. Lihat-lihat, yang barusan itu Baekhyun sedang melucu, ya? Sulli tertawa saat menyaksikannya, membuat Baekhyun tersenyum tipis.

“Mungkin tidak apa-apa kalau aku kena minyak panas lagi lain kali, asalkan kau mau tersenyum seperti ini. Bukannya apa-apa, kau selalu berwajah murung dan angkuh, aku tidak begitu suka.” ucap Sulli jujur. Sesekali wajahnya meringis saat Baekhyun mengoleskan salep pada lengannya.

Deheman singkat keluar dari pita suara Baekhyun, “uhm, ya, terima kasih.”

Jja, selesai.”

Tangan dan pipi Sulli kini terlihat mengkilat setelah Baekhyun mengolesinya dengan salep pereda luka bakar. Kotak itu kembali di tempatnya, dan Baekhyun sudah siap dengan peralatan memasakanya lagi. Baekhyun menepuk puncak kepala Sulli, “kau lihat saja, ya.”

Dari tempatnya duduk, Sulli hanya bisa menumpukan kepala di atas tangannya yang terlipat di meja. Selain karena Baekhyun yang melarangnya kembali terlibat, ia juga terlalu lapar dan lelah untuk mengerjakan itu semua.

Baekhyun sudah hidup selama tujuh belas tahun. Mengerti bahasa manusia selama empat belas tahun, dan mengerti kehidupan remaja normal sejak masa pubertasnya lima tahun yang lalu. Tetapi sekalipun ia tidak pernah merasa sebebas ini.

Biasanya jika Baekhyun menemui orang yang membuat kesalahan di depan matanya, semua yang bisa dilakukannya hanyalah membantu dalam diam. Ia sudah terdidik seperti itu sejak kecil oleh keluarganya, bukan malah mengomel seperti apa yang dilakukannya tadi pada Sulli. Namun hari ini justru terasa berbeda karena Sulli.

Televisi masih setia menyala, menampilkan acara komedi Saturday Night Live yang menjadi favorit ayahnya di rumah. Ponselnya pun berkali-kali bergetar−mungkin dari Nyonya Byun. Sementara itu, sepiring telur dadar yang dibuatnya kini tergeletak begitu saja di atas meja, mendingin, karena si ‘calon pemakan’ malah tertidur.

Baekhyun berjongkok di depan Sulli yang sedang bersandar pada kaki meja makan, tidur dengan nyaman. Ia mengamati sosok pulas di depannya dengan seksama. Hatinya tidak mau munafik dengan mengatakan perempuan ceroboh itu sedikit mengubah alur hidupnya, “Sulli… Sulli-ah…” diguncangnya tubuh Sulli perlahan. Tak lama kemudian, sepasang mata di depannya terbuka separuh.

“Ada apa?” Sulli sedikit berdehem untuk membersihkan suara bangun tidurnya.

“Maaf mengganggu tidurmu. Kau tidak lapar? Telurnya sudah matang.”

Sulli menggeleng, “aku ingin tidur. Terima kasih sudah mau kurepotkan malam ini. Hoaaahm…” Sulli menguap tanpa mau menutup mulutnya, lupa bahwa di depannya seseorang yang selama ini dianggapnya sangat keren sedang berjongkok. Tepat di depannya.

Baekhyun mengangguk, “arra, kalau begitu tidurlah di kamarmu.”

Sulli balas mengangguk, kakinya melangkah menjauhi Baekhyun. Namun bukannya memasuki salah satu ruangan di apartemen itu, ia malah melangkah menuju ruang tengah dan… bug! Menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa tepat di depan televisi. Dari kejauhan, Baekhyun hanya bisa menghela napas melihat Sulli yang malah tidur di atas sofa.

Perempuan itu sudah terlelap saat Baekhyun menghampirinya lagi. Ada sedikit hasrat untuk memukul kepala Sulli, karena bisa-bisanya perempuan itu tidur dengan santai saat ada lelaki lain di apartemennya. Bagaimanapun Sulli adalah seorang perempuan yang harus selalu waspada.

Dipencetnya tombol merah pada remote control televisi, lalu dengan hati-hati menyelipkan tangannya di leher Sulli. Ia meletakkan bantal di bawah kepala Sulli sebelum menarik kedua tangannya. Baekhyun merasa ada hal lain yang kurang sehingga melihat sekeliling. Ah-selimut. Sebuah selimut tergeletak bigitu saja di kepala sofa, dan ia segera menarik selimut itu untuk melapisi tubuh Sulli yang sudah meringkuk.

Lagi-lagi pengalaman baru hari ini. Pertama kalinya ia ‘mengurus’ orang yang tertidur. Tidak buruk, pikirnya. Sulli terlihat nyaman sekarang. Baekhyun pun berdiri dan melipat tangan sambil melihat ‘hasil kerjanya’ dengan puas. Wajah dingin masih terlukis di sana, sebelum suara berisik di pintu depan membuatnya terlonjak.

“Sudah puas dengan kegiatanmu hari ini, Byun Baekhyun?” tanya sebuah suara misterius. Meskipun lampu di pintu masuk sedang padam dan Baekhyun hanya bisa melihat siluet orang misterius itu, tapi ia hafal dengan suaranya yang familier.

“Oh, hai. Kukira kau tidak tahu kalau Sulli juga tinggal di daerah ini.” jawab Baekhyun tenang.

Sosok misterius itu masih berdiri santai di ambang pintu, “Eomma meminta maaf tidak bisa kembali lagi ke sini karena ia terlalu lelah. Meskipun sebenarnya menjemputmu adalah hal yang sangat tidak berguna, tapi aku harus melakukannya saat tahu ternyata kau sedang berada di kediaman seorang Choi Sulli.”

Setelah memastikan Sulli masih tenang dalam tidurnya, Baekhyun melangkah ke arah pintu depan.

Sosok misterius itu kembali mengoceh, “bagaimana rasanya bertukar posisi, Byun Baekhyun? Menjadi partner Sulli di kelas astronomi, bersama dengannya selama lima jam dalam seminggu? Bahkan kudengar kemarin kau mengobatinya di UKS.”

“Begitulah, itu hanya insiden. Kau tahu sendiri, freaking chocholate, apa kau masih tertarik untuk bertukar posisi lagi denganku, Byun Baek… ho?” tanya Baekhyun langsung. Ia mengangkat tangan, memencet tombol sehingga lampu diatasnya langsung menyala terang. Kini ia bisa melihat dengan jelas siapa sosok di depannya.

Memakai jaket kuning menyala dan senyum yang cerah, siapa lagi kalau bukan Baekho. Sosok yang selalu membuatnya merasa sedang bercermin tiap saling berhadapan dengannya.

“Tentu saja, saudara kembar!”

Orang yang dipanggilnya Baekho itu tertawa ramah sambil merangkul pundaknya. Mereka berdua keluar dari apartemen itu sambil menceritakan pengalaman yang mereka lalui hari ini. Meskipun anak lelaki berwajah ceria dan memakai jaket kuning yang paling banyak bicara, anak lelaki lain yang berwajah angkuh di sampingnya tetap menyimak dengan baik.

Mereka melupakan sesuatu. Tentang suara mereka yang cukup mengusik tidur seorang perempuan di atas sofa. Ia sedikit membuka matanya, hanya sebentar, lalu kembali menutup mata karena rasa kantuk yang menyerangnya.

Kkeut~

[26/07/2013, UPDATE NOTE]

Sebenernya Bril berencana buat hiatus, tapi nggak tau kenapa ini sulit sekali /sujud/

Nah, untuk menghargai kamu semua, teman-teman yang mau meluangkan waktu untuk berkomentar, aku kasih kamu kesempatan untuk “kencan” bareng anak EXO 😀

Caranya? Silakan tinggalin nama korea kamu (boleh nama panggilan juga) di kolom komentar. Aku akan buatin fanfiction kamu dengan salah satu anak EXO. Hehe, semoga suka ya ^^

MUAHH!

Advertisements

28 thoughts on “Kitchen-ing !

  1. Nah lhooh ini baekhyun kembar? Apaaaaaa 😮
    Jangan jangan yang si sekolah sama eskrim hot chocolate itu orang yg beda? Aaaaaaa kepo nih sama lanjutan ceritanya

  2. Kok gue bingung bacanya .__. Wkwk tapi tak apalah, jadi ceritanya yang ngobatin Sulli, blablabla Sulli, itu siapa? Baekhyun atau Baekho? Next ya! 🙂

    1. haaai, makasih ya, komentar kamu banyak banget di notif. seneng deh nemu temen yang nggak males komen kayak gini XD XD XD
      oke ditunggu aja ya, aku masih sibuk hehe 🙂
      thankss

  3. muah muah kak bril… btw aku lupa ngucapin congrats untukmu :v congrats ya kak bril sehubungan fanfic peterella nya menang cieciye… selamet ya kak :3 emg aku akui fanfic buatanmu itu ajib banget, aku suka aj heheh :* lanjutin yang escape dong kak birl. dijamin makin ajib ! *modus-_-* heheh. pokoknya congrats buat kak bril^_^ kalo ad yg penting di reallife nya yaudah hiatus aj 😀 soalnya realife lbh penting 😀 sekian cuap cuap saya ! 🙂

  4. oh jd itu alasan knp sikap baekhyun berubah2 ya? dia bkn berkepribadian ganda tp mmg punya saudara kembar #manggutmanggut.. tp aq lbh suka baekhyun drpd baekho, lbh cool gmn gitu :-D..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s