2nd Winner : Peterella (and My Self Note)

brilTitle : Peterella | Author : Kailliant| Casts : Lee Hi as Hayi, SHINee Taemin as Taemin | Theme : Requiem for a Tower | Rating : almost PG-17 | Genre : Mystery, Fluffy | Length : 2298 words | Link Video Teaser : http://www.youtube.com/watch?v=i8XsvB5PUts&feature=youtu.be

I’ve made the cover but forget where the folder is 😦

 

Author’s note : Jangan lupa baca note di akhir cerita ya 🙂

 

 

Seoul, 2013

 

“Dia diadopsi.”

 

“Dia bukan anak kandung kita.”

Namanya Taemin. Ia memiliki telinga yang dengan senang hati mendengungkan kenangan di masa lalunya. Meskipun sudah milyaran detik berlalu, rasa sakitnya masih saja sama. Mungkin tidak akan sesakit ini jika ia seperti Luhan, temannya yang juga anak adopsi. Luhan pernah bercerita, setiap pagi ia akan dibangunkan dengan sebuah kecupan hangat dari orang tuanya, disusul segelas susu yang tak kalah hangat.

Anak berparas manis itu berhenti di bawah kanopi halte. Cipratan air hujan membasahi tas hijau dan seragam sekolahnya, bersamaan dengan berhentinya sebuah limosin hitam di depannya. Hitamnya yang kilap mampu menciptakan lirikan kagum dengan agumen bahwa nilainya bukan main-main. Beberapa tatapan lantas berpusat pada diri Taemin saat lelaki itu memasuki jok penumpang.

Tepat di belakang posisi Taemin berdiri tadi, sepasang mata misterius menilik limosin itu tanpa henti. Sekilas dari penampilannya, ia terlihat seperti remaja biasa. Tapi tidak dengan sepatunya. Ia hanya memakai sepatu pink sebelah kanan. Lusuh dan warnanya pun tampak luntur.

Akhirnya ketemu juga.

Namanya Taemin, wajahnya angkuh ketika duduk di balik kemudi. Namun sosok ibu yang terlihat jauh dari balik kaca mobil membuatnya urung menyalakan mesin mobil.

Ah, sudah lama Taemin tidak melihat ibunya sebahagia itu. Bahagia yang salah. Karena di sana, wanita itu tersenyum lebar dengan menggamit tangan lelaki yang asing baginya. Lucunya setelah itu, sang ayah juga turun dari mobil lain dengan menggandeng seorang wanita yang juga tidak dikenal Taemin. Ibu dan ayahnya terlihat bahagia dengan pasangan masing-masing, tetapi saat mata mereka beradu, mereka malah pura-pura tidak melihat. Adu lirik dalam sekejap itu seolah meneriakkan kalimat, ‘selingkuhanku lebih baik darimu.’

Mereka lucu, begitu pikirnya. Taemin harusnya tertawa pada kelucuan yang terjadi di keluarganya, bukannya menatap nanar seperti ini. Kalau uhan memberinya karunia berupa keberanian, ia justru ingin mengambil kertas yang menandakan kalau ibu dan ayahnya masih berstatus sebagai suami istri yang sah. Dan jika bisa, ia akan menempelkan kertas itu di dahi orang tuanya.

Mereka berempat memasuki halaman rumah. Taemin buru-buru menunduk untuk bersembunyi. Dengan susah payah, ia lantas merangkak menuju jok penumpang, mendorong joknya agar bisa meringkuk dengan leluasa; enggan bertatap muka dengan mereka.

 

Tuk… Tuk… Tuk…

Taemin tersentak dan lekas mendongak. Sebuah jemari kecil yang mengetuk kaca mobilnya sedang menuntut Taemin untuk keluar.

Seorang perempuan asing. Wajahnya polos dan rambutnya tidak terawat.

Siapa?

Ia merasa heran dengan keberadaan perempuan tersebut, mengingat tidak semua orang bisa masuk ke rumahnya sebelum melewati pagar besi dan seorang satpam. Tapi di sisi lain, ia juga merasa malu karena posisinya tadi. Maka ia berdehem untuk menyamarkannya.

“Siapa kau?”

“Aku Hayi.”

Ha-Yi? Taemin punya tumpukan album foto yang tersimpan di Cerebrum-nya [1], tapi tidak ada wajah polos dengan kombinasi kulit putih pucat bernama Hayi di sana. Taemin yakin tidak pernah bertemu Hayi sebelumnya.

Secara mengejutkan, tangan Hayi meraih pipi Taemin dan menghapus sesuatu di sana. Tunggu, apa tadi Taemin menangis? Ia sendiri tidak tahu kalau saja Hayi tidak menghapusnya. Segera ditepisnya tangan itu, ”apa maumu?!”

“Kau mau menukar sepatu hijaumu dengan sepatuku?”

“Nde?!”

Gila. Perempuan yang bernama Hayi kemarin pasti tidak waras.

Namanya Taemin. Dan ia tidak pernah bosan mengulang kalimat itu sambil berlari mengitari lapangan bersama teman sekelasnya. Diulang terus seperti menghapal rumus. Biasanya lari Taemin yang paling lambat. Tapi siang ini larinya secepat cahaya. Bahkan Kris dan Chanyeol yang berkaki panjang pun rela mempersembahkan waktu lima detik tanpa kedip demi mengagumi kecepatannya.

Langit yang mendung mulai mengeluarkan elektronnya untuk membentuk bunyi guntur kecil-kecil. Ketika Taemin asyik tenggelam dengan pikirannya tentang Hayi, tiba-tiba langit menggelegar kencang disertai dengan rintik hujan. Semua murid tergesa-gesa berteduh, dan pengajar olahraga pun menggiring mereka masuk ke gedung olahraga.

Bruk!

Pagi ini Taemin memang tidak sarapan. Tetapi bukan itu yang membuatnya tiba-tiba terjatuh di tengah lapangan yang becek. Sesuatu turun dari langit. Menindih tubuhnya hingga terjatuh. Taemin yang merintih lekas membuka mata dimulai sebelah kiri, lalu sebelah kanan. Oh-oh. Wajah perempuan yang tadi disebutnya gila sudah ada di depannya.

“K-kau?! Kau jatuh dari langit, ya?” dilirknya langit yang gelap dengan heran, lalu mengamati pakaiannya yang sudah dipenuhi lumpur. Tapi memar di lutut Hayi membuatnya lupa bahwa seragamnya kotor.

Hayi menyeringai sungkan, “eh, hai, kita bertemu lagi. Sebenarnya ini tentang…”

“Ikut aku!”

Taemin tidak mengizinkan kalimat itu berlanjut dengan menarik tangan kecil Hayi ke ruang kesehatan. Sedikit suasana canggung mengekori langkah mereka. Perempuan mana yang mukanya tidak memerah saat bergandengan tangan dengan lelaki semanis Taemin? Setelah gagal menemukan kunci kotak P3K, Taemin terpaksa membalut luka Hayi dengan kassa seadanya.

“Sekarang katakan, kau berasal dari planet mana?”

Nde? Aku dari-”

“Bagaimana caranya turun dari langit?”

“Caranya -”

“Kenapa yang kau temui harus aku?”

“Karena -”

“Dan kenapa harus sepatu hijauku?”

“Arrghhh! Bisakah kau mengantri pertanyaanmu? Karena kau adalah Peter Pan! Itu jawaban utamanya!” jawaban Hayi yang cepat membuat Taemin hampir menjatuhkan rahang bawahnya.

Busan, 2002

Di ruangan yang penuh dengan asap rokok, dua orang wanita terlihat saling membenturkan gelasnya pelan. Setelahnya, terdengar bunyi ‘ting’ yang indah. Namun suara ketukan pintu sedikit mengganggu Quality Time mereka− yang bisa dikatakan nyaris sempurna.

“Aku membawa anaknya, Yoona-ssi.”

“Bawa dia masuk.”

Beberapa saat kemudian, pengawas rumah yang tadi mengetuk pintu memasuki ruangan bersama seorang bocah. Anehnya, bocah yang dibawanya memakai sepatu yang berbeda. Digiringnya bocah itu ke hadapan sang majikan, lalu pergi setelah membungkuk hormat.

“Kau yang kemarin mencuri di butikku, Lee Hayi?” salah satu wanita di ruangan itu− Yoona− menyelimuti bocah tadi dengan tatapan dinginnya.

“Ini sepatumu ‘kan?” wanita lain bernama Hyuna mengangkat sepatu oranye kusam yang yang kemarin ditemukannya di butik saat terjadi kasus pencurian.

Objek pencuriannya tidak besar, hanya sekotak sepatu pink yang disebut sebagai benda keramat. Yoona dan Hyuna berkeras mencari tahu si pencuri− yang ternyata bocah di depannya− karena banyak orang yang mengincar sepatu itu. Such a magic shoes, buatan tangan biksu Klenteng Mohwan dengan sentuhan sihir yang membuatnya berbanderol mahal.

“Sekarang, kembalikan sepatu kami.”

Bocah itu mendongak, akhirnya. Matanya bening, seperti tersusun dari Chromium Hexavalent [2] saat mengatakan, “ini milik keluargaku. Aku mengambil kembali apa yang menjadi hak kami−”

Sepatu oranye sebelah kiri pun dilemparkan ke wajahnya. Ia hanya bisa merintih lalu menangis. Akhirnya, ia terpaksa mengeluarkan kotak kardus curian dari ranselnya, ‘mengembalikan’ pada wanita terdekat.

Bocah itu lantas mengganti sepatu kanannya dengan sepatu lain dari ransel dengan cekatan dan-

Wush! Tubuhnya menghilang dalam sepersekian detik.

“Hyun- di-dia menghilang?!”

“SIALAN!”

Hyuna, yang baru saja mengumpat, membuka isi kardus di tangannya. Memang isinya adalah dua buah sepatu. Tapi dua sepatu itu berbeda model, satu berwarna pink pastel- sepatu keramat yang dicarinya- dan satunya lagi merupakan sepatu hitam biasa.

“Bocah itu sudah menukar isi sepatunya! Ia tahu, sepatu ini baru bisa berfungsi jika hanya dipakai sebelah! Little bit**!”

“Ke-kemana perginya bocah itu?”

Hyuna baru menjawab setelah satu menit mengumpat, “… sepatu itu akan membawa pemakainya pergi setiap pukul 12 siang, kemanapun yang pemakainya mau. That shoe wont go away from the leg, until finds it’s couple [3].

Seoul, 2013

Namanya Taemin. Seseorang yang kini tengah menatap kosong air hujan yang menubruk kaca kamarnya. Disentuhnya kaca berembun itu, bergerak ke sana ke mari membentuk gambar sepatu.

Ia kemudian berbalik demi mendapati sosok Hayi yang sedang tidur di ranjangnya. Seorang pelayan baru saja meletakkan kompresan dan sebungkus es balok ke atas dahi perempuan tersebut, “tuan muda Taemin, panggil saya jika butuh bantuan.”

Anggukan Taemin membuat pelayan itu keluar dari kamarnya. Kakinya mendekat ke pinggir ranjang, menghasilkan suara ber-desible [4] terminim agar Hayi tidak terganggu. Dipelajarinya wajah Hayi, menebak ada perasaan apa saja yang tersimpan di dalamnya.

Ah, membayangkan saja Taemin tidak ingin. Hayi bercerita sedikit siang tadi. Tentang perjalannya dengan sepatu sebelah sejak berumur sembilan tahun. Meskipun Hayi bisa pergi ke manapun semaunya, ia tidak pernah bertemu keluarganya lagi. Entah mengapa sepatu itu membawa Hayi ke tempat yang ayah dan ibunya tidak ada. Ia pasti sangat merindukan keluarganya.

“Ha-yi…” Taemin mengeja nama itu. Tanpa tujuan apapun, hanya ingin mengejanya. Ia tidak pernah mengira, ternyata Hayi sudah mencari dirinya sejak lama, sepuluh tahun. Hayi bilang sepatu pink miliknya adalah pasangan sepatu hijau Taemin. Tetapi mana mungkin? Sepatu hijau yang dimaksud Hayi baru dibelinya lima hari lalu. Ia harus menjelaskan kesalah pahaman ini nanti.

“Kenapa ada benda ini? Aku tidak sakit!”

Taemin tersentak saat tangan Hayi tiba-tiba menyingkirkan kompres dan bungkus es dari dahinya. Padahal sedetik yang lalu, Hayi masih tidur dengan sangat pulas. Wajahnya terlihat kesal saat bangun dari tidurnya, lantas menghujani Taemin dengan tatapan tajamnya.

“Jangan memperlakukan orang sehat seperti orang sakit. Itu tidak sopan!”

“Tapi suhu tubuhmu sangat tinggi. Sepulang sekolah tadi, aku menemukanmu sudah pingsan di ruang kesehatan.” Taemin berusaha menerangkan sejujurnya pada Hayi.

“Tadi, sambil menunggumu pulang, aku sengaja tidur di lantai agar tidak ketahuan orang. Aku tidak pingsan!”

Taemin pun memijit pelipis bersama wajah canggungnya. Sadar atau tidak, untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, ia tidak lagi memikirkan soal keluarganya.

Tak lama kemudian, sepasang sepatu hijau menjadi penengah antara Taemin dan Hayi di balkon. Angin bermain dengan rambut mereka. Kendaraan-kendaraan bermotor yang berebut mendapatkan posisi di jalan raya terlihat kecil dari sini.

“Kau adalah Peter Pan karena sepatumu hijau. Maka dari itu aku memilihmu.”

Itu adalah kalimat pertama yang terlontar dari bibir mungil Hayi semenjak tadi. Taemin perlu waktu beberapa detik untuk memahaminya, lalu ia baru ingat kalau itu adalah jawaban dari pertanyaannya kemarin.

“Kau yakin sepatu hijauku ini adalah pasangan sepatumu?”

“Selain itu, karena dua gigi depanmu besar.”

Taemin segera mengambil handphone untuk memantulkan bayangan giginya. Benar juga, dua gigi serinya sedikit lebih besar daripada gigi yang lain. Tapi, apa hubungannya?

“Dan juga badanmu pendek, Taemin…”

“Lalu kenapa kalau sepatuku hijau, gigiku besar, dan badanku pendek? Apa hubungannya?” jawab Taemin kesal. Ia mulai terganggu dengan penggambaran Hayi yang seakan meremehkan fisiknya. Meskipun ia pendek, setidaknya ia pernah disukai oleh seorang it-girl di sekolah. Ia memang tidak sepayah yang tersirat dalam ketiga kalimat Hayi tadi ‘kan?

“Ayolah, Taemin. Itu semua ciri fisik Peter Pan! Akan kujelaskan hubungannya. Sebenarnya, merk sepatu ajaib ini adalah Peterella,” Hayi menunjukkan tulisan Peterella di alas sepatunya, “dulu saat mencuri sepatu milik keluargaku dari butik itu- ah, lebih tepatnya mengambil- aku sengaja meninggalkan sebelah sepatuku. Jadi, aku mirip Cinderella, kan?

“Setelah bertahun-tahun aku berpikir, mengumpulkan fakta dari keluargaku yang kuingat sedikit-sedikit, aku akhirnya tahu bahwa Peterella tersusun dari Peter dan Rella. Peter dari Peter Pan dan Rella dari Cinderella. Jadi bisa disimpulkan, ini sepatu Cinderella, pasangannya adalah sepatu Peter Pan. Kau− maksudku lihatlah dirimu, seperti Peter Pan! Suka memakai warna hijau, gigi serimu besar, kau juga pendek…”

Sepanjang cerita Hayi, Taemin tidak pernah berhenti melihat mata Hayi yang bening.  Hanya ingin tahu, apakah Hayi yang pergi tanpa teman selama sepuluh tahun ini tidak pernah kesepian? Tentang Peterella, perempuan itu pasti benar-benar memutar otak untuk menguak rahasia dibalik nama unik tersebut. Mendadak Taemin merasa iba. Rasanya, ia tidak pantas mengeluh atas hubungan orang tua jadi-jadiannya. Hayi yang lebih pantas mengeluh.

Taemin menyentuh puncak kepala Hayi perlahan, “sepatu itu bisa lepas dari kakimu kalau kau menukarkannya dengan sepatu pasangannya ‘kan? Arra, aku mau menukarnya! Setelah itu, kau bisa tinggal di rumahku. Aku akan membujuk orang tuaku.” Orang tua angkatku.

Hayi terbelalak mendengarnya, “Taemin…”

“Hei, kau juga harus menceritakan tempat yang pernah kau datangi! Mungkin kita bisa berkunjung saat berlibur.”

“Taemin… Bertukar sepatu artinya aku memakai sepatu hijaumu, dan kau memakai sepatuku…”

Senyum Taemin masih ada sebelum Hayi melanjutkan kalimatnya, “…aku akan hidup normal seperti sepuluh tahun lalu. Tetapi kau yang akan berpindah tempat setiap pukul 12 siang, Taemin…”

11.55.

Namanya Taemin. Ia yang memiliki jam digital dengan kombinasi angka tersebut.

Pukul 11:55 artinya taman kecil di dekat Subway 5 masih sepi pengunjung, matahari bersinar angkuh meskipun sedang musim hujan. Di sana, Taemin berjongkok untuk memasangkan sepatu hijau di kaki kiri Hayi. Secara ajaib, sepatu pink usang yang semula melekat di kaki kanan Hayi terlepas. Ada jeda sebelum Taemin memakai sepatu tersebut… apa semua ini nyata? Siapa yang bisa menjamin Hayi tidak berbohong?

Jika Hayi benar, artinya sebentar lagi ia akan menjalani hidup yang baru. Mengunjungi sudut dunia manapun yang ia mau. Tanpa repot mencari alasan untuk menghindari orang tua angkatnya lagi. Taemin merinding pada awalnya… tetapi, bukankah ini yang sudah lama dia inginkan? Di balik selimut di setiap dinginnya malam, bukankah ia berdoa untuk segera menghilang dari keluarga yang tidak pernah menganggapnya ada?

Ya, Taemin seorang lelaki. Ia harus yakin dengan keputusannya. Lagipula ia ingin sekali melihat senyum Hayi, sehingga sedetik kemudian, ia memakai sepatu pink itu di kakinya.

Sepatu itu berubah menjadi sepatu pantofel lelaki. Mata kecil Taemin berbinar pada keajaiban di kakinya.

“Sudah 11:58, ya? Terima kasih, Taemin.”

Hayi berdiri, wajahnya menyimpan banyak cerita yang tidak terbaca. Entah takut, atau justru terlalu senang karena penderitaannya akan segera berakhir. Hayi mengeliminasi jarak Taemin dengannya, centi demi centi.

Perlahan bibir Taemin menghangat seiring dengan sentuhan bibir merah yang lain. Bahasa yang dipelajari Taemin selama 16 tahun ini hilang seketika. Ia tidak pernah membayangkan adegan manis ini, tetapi ia enggan melepas kehangatan bibir Hayi. Ia mencurahkan seluruh beban yang selama ini ditumpunya, serta sepotong cerita bahwa dunia tak seindah yang dibayangkannya di masa kecil.

Sruk! Jleb!

 

Tetapi mata Taemin mendadak terbuka. Bukan, bukan karena jam digital yang akan menunjukkan angka 12:00 beberapa detik lagi, tetapi rasa nyeri di perutnya-lah yang membuatnya mengakhiri ciuman hangat di siang itu. Taemin menyentuh pipi Hayi dengan rasa tidak percaya, lalu pandangannya beralih ke kaosnya.

Seingat Taemin, kaos putih yang kini dipakainya tidak memiliki corak kemerahan. Warna merah segar itupun melebar seiring nyeri yang semakin menyakitinya. Merah itu… da-rah-nya? Tiba-tiba tangan Hayi terulur, memperdalam tancapan pisaunya, mengorak-arik seluruh organ yang tersimpan di perut Taemin dengan gerakan memutar yang lihai.

Taemin beringsut mundur. Sekuat tenaga melepaskan tancapan pisau dari perutnya. Alih-alih berkurang, rasa sakit semakin menyakiti setiap organnya yang mungkin sudah tak berbentuk. Belum sempat ia berteriak minta tolong, Hayi menginterupsi semuanya dengan mengiris kaki Taemin, “bye, Taemin. Mian.”

Tubuh Taemin hilang; tak berbekas kecuali darahnya. Hayi memungut sepatunya yang kini berwarna pink segar sambil bersenandung.

“…Peterella kita juga butuh minum agar tidak kehausan. [5]

 

 

 

Kkeut~

 

[1] Otak besar; berfungsi untuk menyimpan ingatan/ memori

[2] Senyawa mematikan dengan struktur atom berbentuk segi enam

[3] Sepatu itu tidak bisa lepas dari kaki sebelum menemukan pasangannya

[4] Satuan yang menunjukkan frekuensi bunyi

[5] Beberapa dongeng Korea mengatakan, benda keramat membutuhkan tumbal agar kesaktiannya tetap terjaga

Note :

Halo ^^ bagaimana fanfic nya? Lagi-lagi miss typo ngerasa minder banget hihi 🙂

Pairing nya agak aneh ya, seperti dua orang yang beda dunia 😆 Tetapi aku sudah mikir mateng-mateng dan menurutku Taemin & Hayi yang cucok 🙂

Fanfic ini pernah di post di blog nya nana (myfishyworld.wordpress.com) yang saat itu lagi ngadain contest fanfic. Rada sedih cast nya nggak boleh anak EXO (ternyata gara-gara hadiah utamanya album XOXO 😀 ) Alhamdulillah, ini kedua kalinya fanfic Bril masuk nominasi di contest fanfic. Tapi baru kali ini dapet hadiah. Seneng banget (BADAI), tapi tetep punya rasa nggak pede untuk masuk dunia fanfiction, apalagi sampe seperti ini. Soalnya I am so abal (BADAI). Masih nobody kalau dijejerin sama penulis-penulis fanfic yang sampe punya buku sendiri (BADAI TORNADO).

Bril harap teman-teman pengunjung blog ini tetep setia mengunjungi blog & nggak segan ngasih saran kalau ada kekurangan. I really beg. Kalo nggak barbel melayang!

Sumber semangatnya cuma komentar kalian sih. Sumpah deh, setiap baca komentar, Bril selalu termotivasi untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Bahkan karena terlalu sering nulis fanfic, ada salah satu nilai mapel yang turun tahun kemarin. Orang tua ngomel karena turun jadi juara 2 di sekolah. It was bad, aku terpukul dan sempet nangis /kemudian kai jualan tissue/ eh -_-

Tapi setelah dipikir-pikir, ‘salah sendiri nulis!’ haha /banting/ Tapi aku nggak menyesal sama fanfic-fanfic yang kutulis kok, kan aku seneng saat nulis.

Aduh nggak tau harus sedih atau seneng -_- tuh kan labil banget maklum abis makan ayam. Nggak nyambung kan? Udah nyambung-nyambungin aja.

Pesanku (orang tua nih yang ngomong, dengerin), teman-teman harus bisa bagi waktu antara hobi dan kewajiban. Mungkin itu aja 🙂 /dikeroyok massa/

Spesial thanks untuk SARAH, NABICE, Havel, Vero, dan Erik. Mereka hebat dan buauiiiiik badai, for real. Temen-temen yang belum aku sebut, BIG THANKS! aku cinta kalian sampe kebelet pup tiap pagi. Rrr Blil -_-

Kalian luar biasa! Eh awas Ariel lewat.

Ps : jangan lupa vote EXO for Wold Music Awards di sini , sini dan sini

Advertisements

22 thoughts on “2nd Winner : Peterella (and My Self Note)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s