The Queen of Punch

The Queen of Punch

An EXO Fanfiction by KAILLIANT

Cast : Choi Sulli and Park Chanyeol | Genre : Fluffy | Rating : PG

Note : My very-very-very old fanfic on 2012. I really do not have a time- even a second to write but edit. Hope you enjoy it!

© KAILLIANT

Pagiku tidak pernah sempurna sejak Chanyeol datang.

Ugh, bisa dibilang tidak pernah sempurna sama sekali, jika diingat Chanyeol datang ke kehidupanku sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hobinya adalah merayu, dan tangan yang terasah keras di bidang judo ini harus tertahan untuk tidak meninju wajah idiotnya, karena hobiku adalah meninju.

“Apakah hari ini kau ulang tahun ?” tanya Chanyeol suatu hari ketika aku baru duduk di kursiku.

“Tidak. Memang kenapa?”

“Nyonya Lee tidak memberimu hadiah?” Ngomong-ngomong, Lee adalah marga asli ibuku.

“Uh?” mataku membulat saat menjawabnya.

Lalu Chanyeol berjalan ke depan mejaku, mencondongkan wajahnya hingga aku bisa melihat warna cokelat di pupil matanya yang besar,  “Oh, kukira dia memberimu sebuah lip gloss baru karena pagi ini bibirmu indah sekali.”

Lima anak lelaki yang sedang bergerombol di meja terpojok pun terbahak-bahak. Tawa mereka lebih keras lagi ketika aku melemparkan seluruh barang di sekitarku ke wajah Chanyeol. Tapi dengan santainya Chanyeol malah menghampiri mereka, melakukan high five, dan… seperti biasa, teman-temannya yang berwajah masam akan menerima sentilan jari Chanyeol di dahinya. Pasti sakit, dan aku tidak peduli.

Oke, aku adalah objek taruhan mereka. Mungkin indikasi menang atau kalah dilihat dari aku akan melempar barang ke wajah Chanyeol atau tidak. Sungguh, aku akan benar-benar meninju  mereka jika kesabaranku sudah mencapai titik terendah.

Dan pagi ini, di saat tahun ajaran baru saja berlangsung, aku melihat nama ‘Park Chanyeol’ hampir di setiap kelas yang kuambil. God hates me.

Sejak bangku sekolah dasar, aku susah mendapatkan teman dekat. Mereka yang berteman denganku pergi satu-persatu karena aku kasar- ini kudengar langsung saat mereka membicarakanku di toilet.

Aku tidak pernah segan untuk berteriak bahkan memaki jika sesuatu tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Di saat anak-anak perempuan membawa peralatan make up untuk saling merias di jam istirahat, aku malah mengeluarkan dua kotak bekalku yang pasti habis sebelum bel masuk berbunyi.

Dan, tidak, berat badanku tidak pernah overweight. Kata ibu, sistim metabolismeku sungguh bagus. Sepertinya anak-anak perempuan tidak menyukaiku gara-gara hal ini juga.

Pagi ini dua anak perempuan yang duduk di depanku terdengar asyik mengobrol.

“Orang tuaku pergi ke luar kota, dan aku sudah menyulap ruang tengah untuk tempat pajama party!”

Eeei, ruang tengah? Pasti luas sekali!”

Uh-hum! Aku mengundang semua perempuan di kelas. Oh ya, Sulli,“ salah satu dari mereka yang bernama Ji Eun tiba-tiba meloncat ke depanku sambil tersenyum, “aku juga mengundangmu. Kau harus datang, ne?”

Percaya atau tidak, ini kali pertama ada seseorang yang mau mengundangku. Saat Ji Eun kembali ke mejanya, aku pura-pura sedang serius dengan bukuku, berusaha keras untuk tidak berteriak bahagia. Ini lebih hebat daripada headline di koran pagi. Kukira saja aku tidak pernah bisa masuk dalam lingkaran mereka!

Seperti apa ya, pajama party?

Lalu tiba-tiba wajah Chanyeol sudah ada di depanku hingga aku hampir terjengkang. Sialan.

“Sulli, kusarankan kau tidak keluar besok pagi!” dia menatap dengan serius. Tidak ada senyum lebar andalannya sejak kecil.

“Ada apa?”

“Aku hanya takut, matahari akan marah karena kau akan mengalahkan sinarnnya!”

Ih. Harusnya aku tahu bahwa setiap ucapan Chanyeol tidak pernah serius. Waktuku akan terbuang percuma untuk menjawabnya. Aku memutuskan untuk kembali berkonsentrasi pada bukuku. Kudengar dia mendesah kesal dan melambaikan tangannya ke depan wajahku, “hei, kau tidak dengar aku?”

“Aku dengar.”

“Lalu kenapa tidak menjawab? Setidaknya melempar barang seperti biasanya!” tanpa melihatpun, aku bisa menebak bagaimana ekspresi kekanakan Chanyeol saat ini. Baiklah, dia punya garis wajah sempurna−tapi aku tidak tertarik! − sayangnya Tuhan pasti menyesal telah memberinya. Karena Chanyeol bersikap seperti orang idiot.

“Apa kau sedang mengalami mengalami perdarahan hebat alias datang bulan−”

Buagh!

Berani-beraninya si bodoh ini membicarakan tentang hal wanita sekeras itu?! Aku tersenyum setelah mendaratkan tinjuku tepat ke wajah Chanyeol. Don’t blame me, dia berhak mendapatkannya bukan? Ini saatnya untuk balas dendam, satu tinju saja cukup− errr mungkin.

Sambil memegangi dahinya yang sepertinya memar, Chanyeol mundur selangkah sambil menunjukku, “kenapa malah meninju dahiku?”

“Yaaah… Sayang sekali, kupikir tadi aku meninju hidungmu.” ucapku dengan nada tak acuh. Kulihat Chanyeol pergi ke luar kelas. Suasana sedikit tegang sejak kepergiannya.

What?” tanyaku kepada gerombolan lelaki di meja terpojok. Mereka yang biasanya tertawa kini hanya diam sambil menatapku. Mereka terlihat… kecewa. Dan memangnya aku peduli?

Chanyeol tidak masuk sekolah hari ini.

Sedikit rasa bersalah merayapiku. Chanyeol berhak mendapatkan permintaan maafku karena dia orang yang baik. Dia baik pada seluruh orang dan aku adalah sebuah pengecualian.

Selama satu jam, yang kulakukan hanyalah mondar-mandir di halte bus. Saat bus berwarna hijau datang, aku berniat naik untuk pergi ke rumah Chanyeol. Namun aku kembali duduk di kursi halte, membiarkan bus di depanku pergi begitu saja.

Begitu seterusnya selama satu jam. Aku sudah melewatkan empat bus.

Oh, baru saja lima bus.

Aku seperti orang bodoh saat tahu-tahu sudah sampai di depan apartemen keluarga Park. Bingung, apa yang akan kukatakan kalau bertemu Chanyeol nanti? Kebetulan, lima teman lelaki Chanyeol kini sedang berdiri di sekelilingku, berniat menjenguk Chanyeol juga. Tidak ada satupun dari mereka yang berniatan untuk memencet bel apartemen. Sesekali pandangan mata mereka berpindah ke sana ke mari saat aku menatap mereka dengan garang.

“Maaf ya, selama ini kami menjadikanmu bahan tertawaan.” Kyungsoo yang membuka suara pertama kali.

“Hei perempuan brutal! Dia hanya ingin menjadi sahabatmu lagi, by the way.” Aku hampir meninju Tao kalau kalimat keduanya tidak membuatku membeku. Udara semakin dingin dan suasana terasa sepi saat Tao mengatakannya.

Pffft! Chanyeol ingin bersahabat denganku lagi?

“Chanyol ingin berteman baik lagi denganmu seperti sebelum kau membantingnya saat kelas lima dulu, masih ingat? Menggodamu adalah caranya untuk meminta maaf. Oke, jangan salahkan dia. Dia memang aneh, kau tau.” Sahut Kyungsoo lagi.

Hidungku mengernyit saat Kyungsoo memancing kejadian beberapa tahun silam. Aku memang pernah membanting Chanyeol saat kelas lima SD.

Saat itu Kris sedang menyatakan cinta padaku, lalu Chanyeol si kuping lebar tiba-tiba datang meninjunya. Karena emosi, aku meninju dan membanting Chanyeol di hadapan Kris. Sejak saat itu Kris jadi takut padaku dan aku tidak berteman baik lagi dengan Chanyeol.

It was a nightmare.

Ditakuti oleh idola sekolah adalah sebuah mimpi yang paling menakutkan.

“Kalian pasti sedang taruhan untuk membohongiku, kan?” Aku memutar mata.

What? Stupid.” Sahut Tao. Tanganku kembali melayang, tetapi mereka langsung meneriakkan kata ‘WOAAAAAA!’ dan ‘EOMMAAA!’ sambil melindungi kepala masing-masing dengan kedua tangan.

Dasar chicken.

Mereka juga sempat menggumam ‘berbahaya sekali’ sebelum Kai memutuskan untuk memencet bel apartemen. Tak lama, pintu apartemen terbuka, menampilkan wajah Chanyeol yang tidak seceria biasanya.

Kali ini tidak ada rambut pendek semi keritingnya. Chanyeol memangkas rambutnya menjadi lebih tipis dengan model spike hingga dahinya terlihat. Dan−uhm baiklah− he looks better.

Kelima anak yang tadi berdiri di sekelilingku kini memutuskan untuk memasuki ruangan terlebih dahulu, meninggalkan aku dan Chanyeol di ambang pintu. Mataku melotot saat beberapa dari mereka- yang kini berada di belakang Chanyeol− mengedipkan mata padaku dan membisikkan kata ‘fighting’. Lihat, wajah mereka sama bodohnya seperti wajah Chanyeol yang biasanya.

Aku membersihkan tenggorokanku sebentar, “hai.“ apa-apaan ini? Sejak kapan aku mengucapkan hai pada si kuping lebar?

“Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol kemudian.

“Aku baik-baik sa- HEI! Harusnya aku yang menanyakan itu!” Aku memandang perban di dahinya dengan heran. Mungkin tinjuku terlalu kuat sehingga membuatnya bertingkah seaneh ini. Yah, meskipun dia memang aneh sejak dulu.

Sebentar, sepertinya mulai saat ini aku harus berhenti mengatai Chanyeol bodoh, aneh, dan sebagainya. And he isn’t that stupid. Dahinya terluka karena tonjokanku dan ini saatnya untuk meminta maaf.

Chanyeol tertawa kecil. Bukan tawa riang seperti biasanya, kali ini suaranya lebih berat seperti lelaki pada umumnya. Selain itu tatapan matanya sangat dalam. Wajahku seketika memanas, sepertinya pipiku memerah dan pasti terlihat memalukan.

“Maaf.”

“Maaf.”

Ia kembali tertawa, “kau dulu.”

“Maaf atas kejadian kemarin, aku menyesal telah meninjumu. Kau tahu kan, aku kesal sekali karena kau tidak berhenti menggodaku dan menjadikanku bahan tertawaan. Apalagi semenjak insiden bersama Kris dulu, semua orang seperti membenciku karena aku yang menyebabkan kapten sekolah terluka. Kau tahu, aku ingin sekali meninju hidungmu, menendang kepalamu, lalu membanting tubuhmu dari atas gedung balai kota… bla… bla…” dia harus tahu bagaimana kesalnya aku sejak bertahun-tahun yang lalu.

Chanyeol tersenyum lebar saat aku selesai berbicara, “kau ingin meminta maaf atau melabrakku, sih?”

Both.

Terdengar teriakan dari dalam apartemen Chanyeol, pasti keluarga Chanyeol sedang tidak ada di dalam karena mereka tertawa dengan hebatnya. Aku tidak kaget lagi dengan tingkah mereka, sepertinya Chanyeol menularkan kebiasaan tertawa lantang ke semua orang terdekatnya.

“Ayolah Sulli, itu sudah bertahun-tahun yang lalu! Baiklah, maaf kalau aku meninju Kris tepat di depanmu. I was… uhm… I was…”

Aku baru sadar kalau matanya tidak berhenti mengawasiku sejak tadi, membuatku menelan ludah dan sedikit gugup. Setelah sekian lama terlihat sibuk menggaruk pelipisnya, Chanyeol melanjutkan,

“…I was jealous.”

Aku tidak akan bilang kalau dunia berhenti berputar setelah mendengar pengakuan Chanyeol, aku juga tidak bilang kalau jantungku berhenti berdetak.

Karena kenyataannya bumi sedang baik-baik saja dan aku masih merasa jantungku terus berdetak. Hanya saja aku merasa ini sungguh mengejutkan, Chanyeol cemburu.

“Kupikir aku tidak suka kalau… ada lelaki lain yang dekat dengamu. Ya… Seperti itu, mungkin. Tapi lupakan saja!”

Ekspresi wajah Chanyeol lucu sekali. Di saat tawaku hampir meledak, Kyungsoo meneriakkan nama kami berdua dari dalam. Chanyeol segera menarik leherku untuk masuk.

“Sulli, kau tidak pernah mencuci rambut ya? Ckck!”

Sejenak aku bisa merasakan puncak kepalaku yang sedikit berat karena Chanyeol menciumnya sebentar.

He. Kissed. It.

Lalu ia memukul kepalaku dengan pelan.

Let me take a breath

Saat aku berusaha menarik diri darinya karena gugup, dia malah mengeratkan lengannya hingga leherku terasa sakit sambil bilang, “mati kau, Sulli!!! Hoi, siapa yang juga ingin membunuh orang ini?” Chanyeol berteriak dengan lantang. Ia tersenyum hangat padaku ketika beberapa temannya beranjak dan ikut mencekikku.

Kami menghabiskan waktu dua jam untuk saling mengolok dan bercanda. Sesekali aku melempar persediaan majalah di ruang tamu ketika mereka mulai menyebalkan. Aku juga hampir melempar Chanyeol dengan vas bunga antic di atas meja kalau saja teman-temannya tidak mencegahku dengan tumpukan bantal sofa.

 

It was perfect.

Aku tidak menyesal meskipun tidak hadir ke pesta Ji Eun. Mungkin saat ini Ji Eun sedang bersenang-senang, aku tidak yakin karena belum tahu seperti apa pajama party.

Bagaikan kembali ke masa-masa lampau, ketika kami bertujuh sering bermain di masa kecil. Kami bermain petak umpet di dalam rumah Chanyeol dan pulang pukul 9 malam. Ketika sudah di depan, aku berbalik dan menemukannya masih berdiri di belakangku sambil tersenyum.

“Maaf aku tidak bisa mengantar. Jaga diri baik-baik, ya?” ia menepuk kepalaku. Aku segera menepisnya dan berkacak pinggang.

“Kenapa sekarang kau sangat berbeda? Mencium rambutku, menepuk kepalaku… kau masih menyukaiku, ya?” aku bertanya dengan nada menggoda. Chanyeol terkejut. Karena matanya yang besar semakin membesar, dan pipinya yang merah semakin mirip tomat.

“Aku…”

“Jawab saja, kau masih menyukaiku atau tidak?”

Chanyeol membentakku, “dasar, bagaimana bisa seorang perempuan menanyakan hal sensitive seperti itu? A- aku sebenarnya… sudahlah, selamat malam!”

Brak!

Chanyeol tak terlihat lagi karena tiba-tiba ia menutup pintunya. Tetapi aku memang sengaja, sih.

“Kalau Chanyeol mengatakan bahwa dia masih menyukaimu, apa kau juga akan membalasnya?”

Aku terlonjak saat mendengar sebuah suara, disusul dengan beberapa kikikan kecil. Kyungsoo, Kai, Sehun, Luhan, dan Tao, mereka sedang berdiri di depan apartemen sebelah. Kukira mereka sudah pulang sedari tadi.

“Um, mungkin saja. Aku juga menyukai Chanyeol, hanya saja aku tidak menyadarinya karena dia menyebalkan.” Jawabku enteng.

God, what the hell answer is that?!

Sedetik kemudian pipiku memerah. Kenapa aku malah mengatakannya di depan kelima anak ini? Semua orang tahu kalau mulut mereka lebih banyak daripada pembawa acara gossip dan pekerjaan utama mereka adalah membuat onar. Bodoh, bodoh…

Jha! Videonya sampai di sini saja.” Aku melotot saat baru menyadari Tao sedang mengarahkan lensa handphonenya padaku.

“Kalian merekamya? Sejak kapan?” tanpa sadar kakiku sudah berjalan cepat untuk menghampiri mereka. Rekaman itu tidak boleh tersebar luas. Entah sudah semerah apa wajahku sekarang dan sungguh tanganku sudah gatal untuk meninju wajah mereka.

“Sejak Chanyeol dan kau berhenti di pintu- WAAAAAA! LARI!!!”

Kkeut~

Sorry for typos and weird things… Dari cerita pendek jadi fanfic, harap maklum ya ^^

Please give me spirit by comment and review 🙂

-Bril

Advertisements

38 thoughts on “The Queen of Punch

  1. wahh chanyeolnya lucu..ceritanya mudah dimengerti soalnya school life n friendship hehe
    gatau knp aku agak susah bayangin sullinya disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s