Escape! – Three

ESCAPE1

Title: Escape! – Three

Escape! – One | Escape! – Two

Author: KAILLIANT | Genre: Life-learning, Friendship, Fluffy romance |

Rating: PG-15 | Casts: EXO K Kim Jongin as Kim Jongin, IU as Shin Ji Eun F(x) Krystal as Jung Soo Jung |

Disclaimer:

Plot is mine. Do not take the picture or plot without my permission and full credit.

© KAILLIANT

Previous Chapter :

Ayah, Ibu, bagaimana kalian? Kuharap kalian tetap sehat.

Pak Lee, apa kabarmu? Kuharap kau masih sehat dan bisa mengurus Monggu di rumah dengan baik. Jangan biarkan dia mengotori pianoku lagi!

Hari ketigaku pergi dari rumah, tidak begitu mulus. Aku dihukum melakukan pelayanan publik selama seminggu. Padahal aku hanya ingin menunjukkan pada ‘teman seperjuanganku’, bahwa menolong orang lain bukanlah hal yang sulit.

Aku membenci ‘teman seperjuangan’ itu hingga ingin memakannya hidup-hidup. Apakah aku salah? Karena dia sangat aneh, sikapnya selalu tidak peduli dan seperti alergi untuk menolong orang lain. Ah… tapi aku teringat pada pesan nenek dulu, aku harus menghargai seorang wanita. Hal itu membuatku ingin melindungi ‘teman seperjuangan’ itu agar tetap aman selama kabur dari rumah. Sayangnya ia SANGAT keras kepala!

Kim Jongin si Pekerja Layanan Masyarakat

Being seventeen is when you couldn’t face your problem and start to try something new: escaping.

Tujuh belas tahun adalah saat kau tidak bisa mengatasi masalah dan mulai mencoba hal yang baru: pergi dari rumah.

-Escape!-

Udara yang cukup dingin menusuk-nusuk kulit Jongin, sehingga ia seketika terbangun dengan mata yang masih merah. Kedua matanya terasa panas. Setelah lama mengucek matanya, Jongin memantulkan diri ke depan cermin dan mengernyit saat melihat betapa menyeramkannya matanya kini. Uh, ia tidak akan tidur selarut tadi malam kalau efeknya akan seperti ini.

Tiba-tiba seseorang menggebrak pintu kamarnya hingga terbuka…

…hingga selot pintunya rusak. Apa-apaan ini?

Kalau saja kamar ini bukan milik orang lain- ia hanya menumpang di rumah Bibi Jung- ia pasti sudah meneriaki orang tersebut dan meminta ganti rugi. Rasa kesal menyelimuti Jongin hingga rasanya ada panci panas di puncak kepalanya.

“Petugas keamanan sedang menunggu di depan.” Ji Eun memulai percakapan. Menatapnya dengan wajah dingin seolah merusakkan selot pintu Bibi Jung adalah hal yang wajar. Jongin pun menghela napas frustasi saat mengingat hari ini ia harus melakukan pelayanan masyarakat atas tindakan cerobohnya kemarin.

“Kau ingin kuajari cara menggunakan tangan dengan baik?” sindir Jongin. Ia pun melangkah untuk menggenggam tangan Ji Eun, lalu mengetukkannya ke permukaan pintu.

Tuk… Tuk… Tuk…

“Begini caranya mengetuk pintu. Kau mengerti sekarang?”

Ji Eun buru-buru menarik tangannya dari Jongin dan merunduk untuk mengambil spatula yang entah sejak kapan terjatuh dari genggamannya. Pipi Ji Eun bersemu merah dan ini bukan hal yang wajar. Jongin menatapnya kebingungan sebelum menyadari perubahan di wajah Ji Eun tersebut.

“O, wajahmu memerah!” andai saja Jongin tahu kalau tidak ada lelaki yang pernah menggenggam tangan Ji Eun sebelumnya.

“Diam, idiot.” Bentak Ji Eun, lalu pergi setelah lagi-lagi menatap dengan matanya yang tajam seperti elang. Sepertinya ia malu setelah ketahuan wajahnya memerah tanpa diminta.

Jongin tertawa dengan matanya yang merah dan suaranya yang serak. Ji Eun malu! Pikirnya. Padahal Jongin kira skinship yang dilakukannya terbilang ringan. Sepertinya anak perempuan itu tidak terbiasa melakukan skinship. Setelah merasa perutnya kram karena terlalu lama tertawa, akhirnya Jongin sampai pada satu kesimpulan.

Ji Eun tetaplah Ji Eun yang suka bicara kasar. Uh, baru kali ini ada yang mengatainya idiot!

Escape!

Senyum Soojung merekah saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu dapur. Kim Jongin. Tentu saja, siapa lagi yang bisa membuatnya senang di pagi hari selain Jongin?

Obrolan ringan bersama Jongin semalam membuat paginya terasa sempurna. Meskipun baru tidur pukul 3 pagi, Soojung bersyukur tidak pernah memiliki kantung mata.

“Apa enak tinggal di Seoul? Aku tidak pernah ke sana.”

“Kau bercanda? Bibi Jung tidak pernah mengajakmu?”

“Tidak, aku serius. Ibu malah melarangku pergi. Ayah bekerja di sana setelah mereka bercerai. Eeei, jangan melihatku dengan wajah meremehkan seperti itu, Jongin-ssi!”

“Haha… tidak, aku tidak meremehkanmu. Aku akan mengajakmu mengelilingi Seoul lain waktu.”

Soojung tertawa sendiri saat mengingat kembali salah satu percakapannya dengan Jongin kemarin. Senyumnya melebar setiap beberapa detik sekali, dia mabuk karena Jongin. Tetapi senyumnya tiba-tiba berhenti karena merasa ada aura aneh di sampingnya. Ia sedikit terlonjak saat mendapati Ji Eun sedang menatapnya dari kejauhan, dengan wajah terdingin se-dunia.

“Ada apa denganmu, Soojung?” tanya Ji Eun.

“Uh, tidak ada, unnie.” jawab Soojung yang kemudian menahan tawanya menjadi sebuah senyuman lebar saat menyadari Jongin telah sampai di meja makan. Wangi parfumnya menguar tipis di udara dan senyum Soojung sudah tak terhitung berapa meter lebarnya.

Suara bising yang ditimbulkan dari penggorengan terdengar jelas karena tidak adanya sekat antara dapur dan meja makan. Kini Ji Eun tengah menggantikan posisi Bibi Jung di dapur. Kemampuan Ji Eun tentang memasak tidak begitu buruk, dilihat dari posisinya yang santai ketika membalik masakan di atas penggorengan.

Suara Paman Kim yang sedang mengobrol dengan Bibi Jung di ruang tamu juga terdengar hingga dapur. Apartemen Bibi Jung ini semakin terasa sempit dengan lima orang penghuni- ini tidak termasuk kucing liar yang tiduran di balik pintu depan. Tidak biasanya Paman Kim, yang terkenal dengan kegalakannya saat menjaga pos polisi Jong-gu, datang ke rumahnya. Apalagi ini masih pagi. Bibi Jung larut dalam obrolan sehingga lupa bahwa ada tiga bocah yang sedang menunggu di dapur.

Ia baru saja membuka mulut untuk menyapa Jongin, saat Ji Eun tiba-tiba menginterupsi, “uh berisik sekali. Idiot, kau lupa mematikan keran airnya!”

Siapa yang idiot? Pikir Soojung, sungguh tidak tahu kepada siapa Ji Eun berbicara. Ji Eun memang dingin, tetapi mustahil kalau ia membentak dirinya. Ia kemudian menoleh pada Jongin, tidak mungkin juga Ji Eun bicara sekasar itu pada lelaki setampan Jongin- uh baiklah konklusi Soojung sedikit tidak masuk akal.

Tetapi semuanya terasa mungkin saat Jongin beranjak menuju kamar mandi dan mematikan keran air, lelaki tersebut kembali ke dapur dengan raut yang sulit ditebak. Soojung bergidik ngeri, ucapan Ji Eun kasar sekali tadi. Ia kembali membuka mulut untuk menyapa Jongin, tetapi lelaki itu malah menyentuh rambut Ji Eun yang lumayan panjang dengan kedua tangannya.

Apa Jongin kelewat kesal sampai berniat menjambak rambut Ji Eun?

“Seluruh koki di dunia mengikat dan merapikan rambut mereka ke belakang agar masakan tidak bercampur dengan rambut yang rontok.”

Rahang Soojung melorot ketika Jongin mengumpulkan rambut Ji Eun dengan telaten, lalu mengikatnya kencang dengan tali rumput laut. Hasil ikatan Jongin terlihat jelek meskipun Jongin sangat bersungguh-sungguh. Tangan Ji Eun yang sedang memegang spatula berhenti di udara, terpaku pada apa yang sedang dilakukan Jongin.

Manis sekali. Soojung tersenyum kecil saat melihatnya. Kini ia sudah cukup pintar untuk menyadari bahwa lelaki itu suka sekali menolong orang lain. Ia menebak bagaimana cara Jongin untuk tetap bersikap biasa saat Ji Eun mengatainya idiot. Ia sendiri tidak menyangka akan kedatangan dua orang yang sangat berbeda di rumahnya. Jongin baik sekali, dan Ji Eun sangat menyeramkan.

“Dasar bodoh, aku bukan koki.” Entah sadar atau tidak, Ji Eun menjawab sambil berteriak karena gugup.

“Ya Tuhan Jongin, berhenti menjambak rambutnya! Ji Eun, letakkan spatulamu sekarang! Ommo-ommo… jangan bertengkar di sini!”

Suasana manis itu berubah ketika Bibi Jung muncul dengan panik.

Escape!

Kim Kibum menenggelamkan seluruh wajahnya di antara tumpukan berkas yang belum selesai dibaca. Ia belum mencukur rambut yang tumbuh di dagunya, apalagi mencuci rambutnya. Akhir-akhir ini ia tidak punya banyak waktu untuk mengurus diri. Sang atasan memberi tugas untuk menyelidiki sebuah kasus pembocoran dokumen yang dilaporkan oleh klien, dan di saat yang sama ia juga harus mempersiapkan pernikahannya yang berlangsung bulan ini. Syukurlah Shin Ahra, calon istrinya, bukan tipe orang yang akan menendangnya karena tiba-tiba pergi kerja ketika memlih cincin pernikahan.

Satu lagi yang terlewat. Kibum juga harus mencari putri tunggal Ahra yang tiba-tiba kabur dari rumah. Wanita itu tidak pernah menjelaskan penyebab putri kandungnya kabur, hingga Kibum menemukan surat yang tersimpan di laci kamar Ahra.

Aku mengira posisi ayah di hati ibu tidak bisa disubtitusi oleh orang lain, tetapi aku salah. Besar. Silakan menikahi pria sialan itu, aku tidak akan mengganggu kalian.

Kibum meraup seluruh map di atas meja dengan kedua lengan dan semakin menenggelamkan wajah di antaranya. Jujur saja surat itu cukup membuatnya sakit hati. Memang seperti apa sosoknya di depan Shin Ji Eun itu? Baiklah, dia seorang detektif dan wajar kalau ekspresinya selalu kaku. Dirinya bukan seorang artis yang akan tersenyum sepanjang hari ‘kan? Tunggu sampai orang-orang dari departemen pencarian orang hilang menemukan anak tersebut, ia akan membuktikan kalau dirinya mampu menjadi ayah yang baik.

Drrttt… Drrrttt…

Ne?” Kibum menjawab telepon dengan lemah, bahkan hampir berbisik.

“Kasus pembocoran kali ini mengalami perkembangan. Aku berhasil menemukan satu tersangka baru!” ucap seseorang di seberang dengan nada senang.

“Tersangka baru?” Kibum bertanya dengan raut tidak percaya.

“Ya, dan aku sedang melacaknya. Dia sedang menuju gedung Shinsegae menggunakan mobil pribadi dengan plat nomor xxx 76 xx, namanya Lee Kwang…”

“ARGH!” pria itu mengacak-acak rambutnya.

Escape!

Belum genap dua jam Jongin bertugas di bawah pengawasan Paman Kim, anak lelaki itu bisa menyimpulakan bahwa Paman Kim suka bercerita. Ia tidak berhenti bercerita (kecuali saat menegur pedagang ikan yang meletakkan barang sembarangan, atau saat membantu nenek tua menyebrang jalan, lalu setelahnya ia kembali bercerita dengan topik yang sama sekali berbeda). Jongin hanya bisa tersenyum karena tidak ingin mengecewakan Paman Kim.

Sejauh ini Jongin bertugas untuk mengawasi kenyamanan di pasar, seperti membantu para pembeli menyeberang jalan. Tugas yang satu ini cukup merepotkan karena jalan itu bukanlah jalan raya sehingga pemerintah tidak memasang lampu lalu lintas.

Psssttt…” Paman Kim menyikut bahu Jongin, “kau lihat wanita tua itu? Antar dia sampai ke rumahnya, ya!”

“Sebentar lagi pukul dua, aku harus pulang.”

“Lakukan atau jam bertugasmu kutambah…”

Segera setelah mendengar ancaman Paman Kim, Jongin melesat untuk membawakan berbagai kantong plastik dari wanita yang ditunjuk Paman Kim. Awalnya wanita tua itu sedikit kaget dan tersenyum saat Jongin bersedia membawakan barang-barangnya.

Wanita tua itu berjalan sangat lambat. Entah berniat menjebaknya atau memang lupa, wanita itu melewati jalan yang sama setelah berputar-putar. Jongin bahkan berkali-kali mengecek jam tangannya karena ia tidak sabar untuk makan siang. Kesabarannya hampir habis saat wanita itu (akhirnya) berhenti di depan sebuah pintu pagar.

“Kau lelah?” rasanya Jongin ingin merebahkan diri di atas tanah sekarang juga. Sepertinya wajah kemerahan, keringat di seluruh tubuh hingga bajunya basah di beberapa bagian belum bisa menunjukkan bahwa ia kelelahan.

Tetapi ia adalah Kim Jongin, yang sedetik kemudian tersenyum tulus pada wanita tua di depannya, “ini rumah nenek?”

Bukannya menjawab, wanita itu malah mengalihkan pandangan pada rumah kecil di balik pagar. Dengan berbagai tanaman sulur dan bunga warna-warni, rumah tersebut terlihat indah meskipun ukurannya tidak begitu kecil. Jongin mengira wanita tua ini suka berkebun.

“Maaf ya, nenek memang pelupa. Selain itu aku tidak bisa mendengar.”

“Eh?”

“Rumah ini milik putri tunggalku. Aku sangat menyayanginya.”

Jongin meneriakkan kata “aku lapar, nek!” tetapi nenek tetap meneliti rumah putrinya dalam diam. Jadi Jongin pun memakan bulat-bulat pengakuan nenek tadi, beliau memang tuli.

“Tolong letakkan kantong berisi baju baru di balik pagar, ya. Setelah itu antarkan aku kembali ke panti jompo. Kau bisa?”

Escape!

Ji Eun diliputi rasa tidak sabar saat berdiri di antrian kasir. Entah ia berdiri di urutan ke berapa puluh dari depan kasir. Ia melirik jam digital di pojok supermarket yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sekitar seperempat jam kemudian, Ji Eun akhirnya meletakkan belanjaannya di atas meja kasir. Diceknya kembali satu-persatu kelengkapan belanjaannya, pasta gigi, panci rebus, mi instan…

“H-hei, dompetku!!! TOLONG, DIA MENCURI DOMPETKU!!!” Ji Eun berteriak panik saat seseorang merebut dompetnya secara paksa. Ia tidak memiliki refleks yang bagus, sehingga dengan mudah dompetnya sudah berpindah tangan dan ia hanya bisa berdiam diri di tempatnya. Seluruh pengunjung melihatnya sebentar, kemudian kembali ke aktivitas masing-masing.

Habis sudah. Seluruh harta Ji Eun selama kabur berada di dompet itu- pengecualian kalau ia menjual ponselnya dan ia tidak sudi melakukannya.

Biasanya Ji Eun tidak peduli pada orang lain. Sekarang tidak ada yang mau memedulikannya. Rasanya ada boomerang yang mengejeknya lalu menghantam kepalanya. Dipandangnya petugas kasir yang sedang melihatnya dengan wajah tidak mau tahu, lalu ia berteriak marah dan keluar dari supermarket itu secepat mungkin.

“Baiklah, tidak ada yang peduli padaku di sini. Kalian pikir aku peduli?” Ji Eun menghela napas. Sepertinya ini adalah semacam ‘karma’ untuknya.

Ji Eun terpaksa kembali ke apartemen Bibi Jung yang kecil dengan berjalan kaki. Bibir Ji Eun terlihat pucat karena ia melewatkan makan siang. Tidak ada makanan di rumah dan Bibi Jung masih menjaga tokonya.

Ji Eun tidak menyadari kehadiran sosok Jongin dari arah yang berbeda. Anak lelaki itu berniat memasuki rumah di saat yang bersamaan.

“Minggir!” bentak Ji Eun.

“Kau yang minggir!”

Perdebatan tidak berhenti sebelum tubuh Ji Eun tiba-tiba ambruk menimpa Jongin.

Escape!

“Ayolah unni, kau harus makan untuk memulihkan tenaga! Kau belum makan sehariani ini, bukan?”

Soojung menyerah. Puluhan kata sudah ia gunakan untuk merayu Ji Eun agar melahap bubur buatannya, tetapi anak perempuan itu menolaknya. Yang ia tahu Ji Eun memang keras kepala, dan kali ini sangat-sangat-keras-kepala lebih pas untuk Ji Eun.

Sementara itu, Ji Eun malah tidak menggubris Soojung sama sekali. Ia tidak suka terlihat lemah di depan orang lain. Apalagi di hadapan Jongin yang kini sedang berdiri di depan lemari sambil melipat tangan di dada.

“Aku tidak perlu disuapi. Aku bisa melakukannya sendiri.” Ujar Ji Eun dengan penuh penekanan. Mangkuk bubur kini berpindah tangan. Ji Eun berusaha keras untuk memegang sendok dengan baik, tetapi jemarinya masih bergetar. Sendoknya jatuh dan tumpahan bubur malah mengotori bajunya.

“Ugh!”

“Sini, biar aku saja.” Entah sejak kapan Jongin sudah duduk menggantikan posisi Soojung. Wajahnya terlihat lelah bercampur kesal. Mungkin sifat keras kepala Ji Eun yang tidak kunjung hilang menjadi salah satu penyebabnya.

“Baiklah, selera makanku sudah hilang. Aku ingin tidur.” Tangan Ji Eun meraih selimut untuk menutupi badannya yang terasa dingin, tetapi Jongin menghentikannya. Seperti petemuan awal mereka, tatapan Jongin sangat tajam.

“Kau harus makan.”

Entah kenapa kombinasi tatapan tajam dan suara menuntuk milik Jongin membuat Ji Eun merasa ciut. Perlahan, Jongin menyodorkan suapan bubur ke depan mulut Ji Eun.

Ji Eun menurut. Disuapi? Ini sangat bukan Ji Eun.

“Sekarang kau bisa pergi, Soojung. Biar aku yang mengurus anak nakal ini.” Jongin tidak tahu betapa cemburunya Soojung dan kesalnya Ji Eun saat mendengarnya. Terdengar suara pintu ditutup dan Jongin menyodorkan telapak tangannya ke dahi Ji Eun yang panas. Jongin menghela napas.

“Kau lebih egois meskipun dalam keadaan seperti ini. Kau harus ingat, kau tidak bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain.”

Here we go, Jongin Winfrey.”

“Hei, aku tidak bermaksud mengguruimu sama sekali! Ayo, buka mulutmu.”

Jongin menyuapkan sesendok bubur lagi dengan sabar.

“Jongin,” suara Ji Eun sedikit serak saat mengucapkannya, “terimakasihbanyak.” Ji Eun berusaha mengucapkannya secepat dan sesamar mungkin.

Ini cukup sederhana, tetapi Jongin tidak berkutik saat mendengarnya. Anak laki-laki itu berdecak kagum, ia kira Ji Eun tidak sudi berterimakasih pada orang lain. Ia justru sempat berpikir bahwa Ji Eun tidak tahu ada kata ‘terimakasih’ di dunia ini.

Jongin mengangguk kecil dan kembali menyuapkan bubur, “kau mau dengar ceritaku hari ini?” ia pun tidak menunggu anggukan Ji Eun saat memulai ceritanya.

“Siang ini aku bertemu wanita yang aneh. Dia pelupa dan tidak bisa mendengar dengan baik. Ia juga tinggal di panti jompo yang sederhana. Tetapi meskipun begitu, nenek tersebut selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah putrid tunggalnya. Kadang ia membawa baju untuk cucunya, makanan, permen, dan lain-lain. Tetapi ia langsung pulang sebelum anaknya tahu kalau ia yang memberi semua itu.

“Percaya tidak, aku tadi hampir menangis. Ia sangat menyayangi putrinya. Seorang ibu rela melakukan apapun untuk anaknya, meskipun itu artinya harus berjalan dua kilometer sambil membawa kantung belanjaan yang berat di bawah terik matahari. Aku… teringat pada ibuku,” Jongin membayangkan kembali pengalamannya hari ini. Karena tidak mendapat respon, ia melihat Ji Eun dan mendapati anak perempuan itu sedang berbalik memunggunginya.

“Yah! Kenapa kau malah tidur? Kau tidak mendengar ceritaku, ya?”

Jongin menghela napas. Ia memandang punggug Ji Eun lalu menarik selimut hingga sebatas dagu Ji Eun. “Setidaknya habiskan dulu buburmu.”

Mata Ji Eun terbuka perlahan saat terdengar suara Jongin membuka pintu dan menutup kembali. Ji Eun belum tidur, ia menangis. Meskipun sudah menggigit ujung selimut, tangis Ji Eun tidak kunjung berhenti. Bohong kalau Ji Eun tidak merindukan ibunya. Bohong kalau Ji Eun tidak merasa menjadi manusia terburuk di dunia karena membuat ibunya resah.

Ibunya adalah orang pertama yang tahu ketika ia merasa sedih, dan ibunya sekaligus menjadi orang pertama yang menghilangkan rasa sedihnya.

Ia tidak tahu Jongin masih ada di dalam ruangan itu. Bersandar diam di pojok ruang, menunggu hingga suara isakan Ji Eun tidak terdengar lagi.

Escape!

Ibu, apa yang sedang kau lakukan? Apa ibu sedang makan sop kentang kesukaan ibu? Menonton National Geographic? Atau ibu sedang memikirkanmku?

Aku hidup tenang di apartemen bibi Jung. Dia masih baik seperti dulu.

Oh ya, apa yang harus aku lakukan ketika melihat wanita menangis?

Kkeut~

Note

Udah kadaluwarsa ya, fanfic ini? Muehehe. Mian x_x

Bril menulis untuk kesenangan, bukan untuk nyari komen apalagi popularitas. So I don’t really care kalau yang komentar Cuma sedikit 😉

Yang penting temen-temen suka ^^ See youuu! ^^

Advertisements

53 thoughts on “Escape! – Three

  1. aku nyasar ke sini dan nemu ff ini, sumpah bagus banget!!!!!
    jadi jongin diem aja liat jieun nangis? ya klo aku jd jongin aku jg pasti bingung sih. abis jieun nya kan emng gak mau diliat org klo dia lg nangis huffft
    penasaran bgt sm masa lalunya jieun
    tolong dilanjutin ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s