4 Episodes of Prom (2 of 3)

4 episodes of prom

4 Episodes of Prom (2 of 3)

Author : Kailliant | Casts : Choi Sulli, Lime, Do Kyungsoo, Kang Minhyuk | Genre : Romance, Life learning, friendship

© KAILLIANT

 

Sulli

Ada tiga hal sepele di dunia ini yang bisa membuat seseorang panik: kartu bus tertinggal, uang pas-pasan, dan handphone terselip entah di mana. Apa yang akan kalian lakukan dengan semua itu?

Sulli punya cara tersendiri untuk mengatasnya. Jangan panggil Sulli kalau ia tidak mampu berjalan kaki sendiri ke China Town. Dalam waktu singkat Sulli sudah disambut dengan warna merah di sana sini.

Lalu apa hal sepele di dunia ini yang bisa membuat Sulli panik?

Kain.

Ka-in. Sulli pusing sendiri dengan nama itu sejak menerima undangan prom night dari panitia sekolah. Mengingat keuangannya yang menipis, ia tidak mungkin membeli gaun untuk prom night yang biasanya dipajang di toko-toko terkenal. Pilihannya hanya satu, membuat sendiri gaunnya. Tidak masalah mengingat ia bisa menjahit karena neneknya.

Ia berhenti di depan toko yang bernama Slice. Bagian luar toko tersebut didominasi oleh kaca, sehingga memudahkan siapa saja untuk melihat tampilan dalamnya yang kini ramai pengunjung.

Hmmm, bagus juga, pikirnya sambil memasuki Slice.

Interior toko tersebut lumayan unik dengan wallpaper pepohonan, deretan meja kayu (ada seorang pegawai yang sedang mengajari beberapa pengunjung untuk menjahit di sana), puluhan roll kain, serta gaun jadi wanita tertata rapi di setiap lemarinya.

Selain wangi lavender, banderol harga yang murah di setiap rak juga membuat Sulli semakin nyaman. Ini benar-benar destinasi yang tepat bagi kantong tipisnya. Ia bergegas membuka buku katalog yang berisi berbagai macam model gaun sederhana, namun tetap terlihat menarik.

Sssttt…” Sulli merasakan aliran darah di telinganya berdesir saat bisikan itu terdengar. Tanpa sempat menoleh, seseorang sudah membekap mulutnya dari belakang dan menariknya menuju ruangan sempit di pinggir rak. Sulli berteriak karena takut, tetapi suaranya teredam. Apa-apaan ini? Apa ini penculikan?!

“Jangan panik. Dengar aku baik-baik.” Itu suara orang lelaki. Sulli semakin cemas.

Perlahan, pegangan di mulut Sulli pun mengendur, mengizinkannya untuk melihat siapa lelaki di belakangnya. Namun Sulli malah semakin kehilangan napas saat melihat wajah di depannya.

Dia Do Kyungsoo, siswa satu angkatan dengannya di Hannyoung. Ia dan Kyungsoo memang tidak salling mengenal, tapi Sulli sudah sering mendengar nama Kyungsoo disebut karena ia adalah putra tunggal pemilik perusahaan Oracle. Ya, ya, yang dipuja Eun Ji pagi ini.

“Kyung… Kyung…”

Sssttt…” Kyungsoo membekap bibir Sulli, “Seseorang sedang mengejarku. Begini, aku ingin kakimu melindungi kakiku agar tidak terlihat dari depan.”

Sulli baru mengerti maksud kalimat itu setelah menyadari bahwa ia sedang berada di bilik kecil. Ruang tersebut hanya memiliki tirai sebatas betis. Orang yang mengejar Kyungsoo tidak akan mengira Kyungsoo bersembunyi di dalam sini kalau ada kaki wanita yang menutupinya. Tapi sedetik kemudian Sulli bingung sendiri.

“Bagaimana caranya menutupi kakimu?”

Kyungsoo menjawab pertanyaan Sulli dengan menarik bahunya. Ia cukup terkejut, mendapati posisinya yang kini sangat dekat dengan badan Kyungsoo. Tubuh Sulli tidak begitu tinggi jika dibandingkan dengan Kyungsoo, sehingga wajahnya hampir terbenam di dada bidang lelaki itu. Oh, tidak, rileks, rileks…

“Kyungsoo, apakah ini tidak terlalu dekat?” bisik Sulli ragu. Beberapa kali ia menyesuaikan letak rok dan kakinya agar bisa menutupi kaki Kyungsoo.

Kyungsoo menunduk dan memasang wajah permohonannya, “kali ini saja. Tolong aku.”

Sulli mengangguk gugup. Ia berpikir bahwa mungkin Kyungsoo telah merampok sehingga polisi mengejarnya. Atau Kyungsoo terlibat hutang dengan mafia narkoba. Terlibat pelecehan seksual juga bisa terjadi. Whoa, Sulli terlalu berpikir jauh dan harus menghentikan pikiran-pikiran anehnya. Begitu sibuknya Sulli, ia tidak sadar sedari tadi Kyungsoo terus menyebut kata ‘hei, ssst, hei!’ padanya. Kyungsoo sampai mengetuk-ngetuk kepala Sulli.

“Kau melamun, ya?”

Sulli segera menggeleng, “sedikit,” jari Sulli terangkat, mengisyaratkan dengan mendekatkan ibu jari dan telunjuknya. Kyungsoo sempat tertawa melihat kegugupan Sulli, namun sedetik kemudian ia membekap mulutnya sendiri agar tidak terdengar dari luar.

“Kyungsoo, sampai kapan aku harus di posisi ini? Aku harus berbelanja…”

Lelaki di hadapan Sulli mengisyaratkan kata ‘sebentar lagi’ dengan mendekatkan ibu jari dan telunjuknya.

Minhyuk

Minhyuk tidak pernah meragukan keahlian Lime dalam mengejutkan orang. Malam ini Minhyuk sama sekali tidak berniatan untuk datang ke prom night. Tetapi segala niatan itu terpaksa ditelannya bulat-bulat mengingat Lime tidak memiliki teman untuk berangkat ke sana bersama. Lime memang cukup merepotkan, dan Minhyuk tidak pernah bisa menolak permohonan Lime. Lalu malam ini, tepat saat jarum pendek melewati angka sembilan, Lime keluar dari pintu rumahnya dalam balutan dress yang sangat menawan. Warnanya biru pastel, dengan kain tipis berwarna terang di atasnya – apa namanya? Chiffon?–  di sekitar pinggangnya. Minhyuk mulai menebak kenapa akhir-akhir ini Lime jarang keluar rumah dan lebih sering menghitung uang.

“Waaah…” Minhyuk sempat berdecak kagum, “apakah ini versi asli Barbie?”

Mendengarnya, Lime sempat tersipu. Beberapa detik kemudian ia bergegas memasuki mobil dan meneriaki pemiliknya untuk segera masuk. Jika biasanya Lime berperan sebagai pendongeng saat Minhyuk menyetir, tidak untuk malam ini. Lime terlihat lebih diam dan memilih untuk menjadi pendengar bagi orang di balik kemudi.

Sulli

Berangkat… tidak… berangkat… tidak…

Sulli, seperti biasa jika sedang kebingungan, mondar-mandir seperti ayam tanpa kepala. Padahal sebuah gaun putih berbahan kain Georgette dengan motif sulur di sekitar pinggang- buatan Sulli sendiri- sudah melekat pas di tubuhnya. Tak ketinggalan berbagai olesan tipis dari make up ibunya.

Ini merupakan hal yang berat. Sulli enggan datang, ia takut. Tapi ia sudah mengorbankan banyak waktu untuk membuat gaun ini, sayang sekali kalau tidak dipakai. Sulli pun menghela napas. Kalau saja ia tidak mengiyakan taruhan yang ditawarkan Lime. Waktu itu Sulli sedang emosi, jadi…

Sudahlah.

Sulli memutuskan untuk keluar dari apartemen setelah berpamitan pada foto ibunya, karena ibunya masih belum kembali dari kerja. Ah, dia masih sempat berperilaku konyol di saat-saat seperti ini.

Do Kyungsoo

 

Kyungsoo berlari kencang dan menghela napas lega begitu berhasil keluar dari gedung mewah yang disewa sekolahnya untuk prom night. Ia tidak pernah menyangka kalau para bodyguard itu sudah tidak punya muka, hingga berani masuk ke ruangan untuk menjaga Kyungsoo.

Si putra tunggal pemilik Oracle ini selalu kabur dari para bodyguardnya, setiap hari. Garis bawahi, setiap hari. Kalau begini terus, bisa-bisa Kyungsoo mengalahkan pemenang turnamen lari musim panas.

Tubuh Kyungsoo tidak kekar dan sering sakit karema sistem imun yang lemah menjadi alasan ayah mengirim bodyguard untuknya. Tak jarang mereka bersikap berlebihan hingga Kyungsoo marah. Bayangkan saja, mereka mencoba dulu setiap makanan yang akan masuk ke mulut Kyungsoo (meskipun itu di warung kue beras di pinggir jalan, ish), lalu yang paling parah mereka memukul orang yang tidak sengaja menyenggol Kyungsoo. Jadi jangan tanya ‘ada apa’ saat melihat Kyungsoo berlari kebingungan.

“Do Kyungsoo? Apa yang kau lakukan di sini?”

Sosok perempuan dengan balutan dress putih dan bandana bermotif bunga sedang berdiri di belakang Kyungsoo. Kalau Kyungsoo tidak salah ingat, perempuan itu adalah orang yang pernah membantunya.

“Aaaah, anak di China Town! Kau murid Hanyyoung? Apa yang sedang kau lakukan? Tidak masuk?” bukannya menjawab pertanyaan tadi, Kyungsoo malah balik bertanya. Perempuan di depannya mengernyit  saat Kyungsoo menyebut China Town –hei, ada yang salah ya? – lalu mengangguk kecil.

“Oh ya, siapa namamu? Waktu itu kau belum bilang.”

“Aku akan menyerah.”

“Hah?” Kyungsoo tidak pernah menemui orang seaneh ini. Yang tidak bisa ditebak isi kepalanya.

“Aku menjawab pertanyaanmu tadi. Aku tidak ingin masuk ke dalam, kau? Apa yang kau laukan di sini?”

Satu hal yang Kyungsoo sadari dari percakapan mereka adalah, setiap satu orang bertanya, yang lain tidak menjawab dengan benar dan malah ganti bertanya.

“Hanya menghitung jumlah mobil yang lewat.” Kyungsoo mengangkat kedua bahunya.

Lime

 

Entah sudah berapa ratus langkah yang diambil Lime untuk berkeliling di dalam gedung, yang jelas sudah satu jam lebih ia gagal menemukan Do Kyungsoo.

Ya, Do Kyungsoo. Satu-satunya lelaki yang berhasil menarik perhatian Lime sejak tahun pertama di sekolah. Lime biasanya alergi dengan tindakan agresif  pada lawan jenis seperti ini, menurutnya hal itu sangat murahan. Tapi mungkin sekali saja tidak apa-apa. Hanya untuk malam ini.

“Sudahlah, mau cari Kyungsoo di mana saja pasti tidak ketemu. Mungkin dia sudah disedot cerobong asap pabrik Oracle.” Terdengar decakan kesal Minhyuk dari belakang.

“Aku hanya ingin dia melihat penampilanku malam ini!”

“Untuk apa? Dia sangat cuek, Lime, buka matamu. Bahkan aku tidak yakin dengan orientasi seksualnya.”

“Diam kau! Dia normal, he likes girl.”

Minhyuk kembali diam seperti sejak mereka memasuki gedung tadi. Mengekor ke manapun Lime pergi. Membawakan tasnya, memintakan maaf pada orang yang tersenggol bahu Lime. Untung saja Minhyuk sudah terbiasa, jadi ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Tak lama kemudian, topik Lime berubah dari Kyungsoo menjadi Sulli.

“Kau melihat Sulli?”

“Ugh, jangan bertanya kalau tujuanmu hanya untuk menjodohkanku dengannya lagi!”

“Aku serius! Aku bertaruh gelar best dress dengannya.”

Mendengar ungkapan Lime, Minhyuk tidak bisa menahan rahangnya untuk terbuka lebar, “jadi kau serius saat mengatakannya dulu? Dan, what? Best dress?” sindir Minhyuk.

“Yeah, kami sempat merundingkannya.” Lime memutar mata, “jadi aku mengajaknya bertaruh posisi best dress. Tidak posisi Queen karena aku tahu pasti Krystal Jung yang akan menang.”

“Ayolah, Lime… Sulli sudah cukup menderita dengan tantangan-tantanganmu sejak sekolah dasar.”

“Kau lebih membela Sulli?”

Entah kenapa, Lime merasa saat ini ada yang telah memencet tombol marahnya. Mungkin ini bagian dari reaksinya pada Minhyuk yang kini lebih berpihak pada Sulli. Ditambah kekesalan pada Sulli yang belum reda sejak minggu lalu, Lime pun pergi secepat mungkin. Ia tidak tahan di dalam sini. Lagipula Kyungsoo tidak datang, artinya tidak ada gunanya lagi dia tetap bertahan di dalam gedung.

Sebelum Lime benar-benar menentukan akan ke mana, kakinya tersandung karpet hingga menimbulkan debuman keras. Semua mata kini telah berpaling pada Lime yang sedang jatuh terduduk. Lime sendiri mengaduh kesakitan, dan ketika melihat ujung gaunnya sobek, ia berteriak sekencang mungkin.

“Lime!” tahu-tahu Minhyuk sudah meraih kedua lengan Lime, menodongnya dengan wajah yang seolah mengatakan ‘apalagi setelah ini?’.

“Selalu saja ceroboh. Sini, kau masih bisa berdiri?”

“Gaunku…” Lime mulai menangis.

“Sudahlah, tidak apa-”

“Ini gaun asli! Aku menyewanya dengan harga satu juta won dan sekarang aku merusaknya! Jadi kau masih berani bilang kalau ini tidak apa-apa?!”

Minhyuk sempat terkesiap saat mendengar kata ‘menyewa’. Wow, tarif sewa gaun asli pasti mahal meskipun hanya satu malam. Belum lagi kalau terjadi kerusakan, pasti biaya gantinya bisa menguras kantong. Seketika orang-orang di sekitar mereka berbisik-bisik dengan gaduh. Minhyuk menghela napas, melihat Lime dengan iba. Lime melakukan ini demi Kyungsoo dan bersaing dengan Sulli. Tetapi kedua orang itu entah di mana keberadaannya. Ini bukan bayaran yang pantas atas kerja keras Lime selama ini.

Minhyuk menunda pikirannya yang macam-macam dan mulai memapah Lime untuk berdiri. “ayo pulang.”

Sulli

Sudah lima belas menit berlalu sejak Sulli dan Kyungsoo meninggalkan gedung. Tidak ada yang tahu kalau tempat dengan rak-rak rendah berisi ratusan macam buku baru menjadi tujuan mereka berdua. Padahal toko buku adalah opsi yang hanya akan dipilih Sulli saat kiamat tiba, sedangkan kata Kyungsoo, lelaki itu sudah bosan dengan bau buku –hah? Namun mereka malah memasukinya.

Ini malam terkacau yang pernah dialami Sulli. Ditambah ia harus menahan malu saat semua pengunjung toko buku memandangnya aneh. Iya, memakai gaun ke tempat ini adalah suatu lelucon berkelas. Kehadiran si penerus Oracle sedikit membantu mengalihkan perhatian beberapa orang darinya.

Hanya saja Kyungsoo tidak banyak bicara. Tak ada satupun kalimat yang terlontar dari bibir lelaki itu selama sepuluh menit melihat-lihat buku di sudut toko. Bahkan Sulli hampir lupa dengan keberadaannya kalau Kyungsoo tidak bersin-bersin. Karena lelah, Sulli memutuskan untuk duduk bersandar pada rak buku.

“Wajahmu kelihatan putus asa.” Sulli sedang menguap saat Kyungsoo bertanya.

Yeah. Wajahmu akan seperti ini kalau kau bertengkar dengan seorang Lime sejak kecil.”

“Siapa?”

No, no, no. Sulli butuh plaster untuk mulutnya saat ini juga. Apa Sulli terlalu putus asa hingga dia kelepasan bicara? Ia segera menggeleng, berjanji akan tutup mulut pada apapun paksaaan yang mungkin akan keluar dari bibir Kyungsoo setelah ini. Ia dengar Kyungsoo dan Lime memiliki hubungan yang cukup dekat, jadi ia tidak mau nasibnya berakhir tragis bersama gaun berharganya malam ini.

Kyungsoo kembali bersin. Sepertinya penghangat di toko tersebut bekerja kurang baik. Yang dilakukan Sulli setelahnya adalah beranjak menuju kasir, tak lama kemudian kembali dengan sebungkus tissue di tangannya. Disodorkannya benda itu pada Kyungsoo yang sedang duduk di lantai. Lelaki itu kelihatan terkejut dengan tindakan kecil Sulli.

“Apa ini?”

“Itu tiket pesawat. Kau bisa pergi ke luar negeri untuk belajar membaca.” Jawab Sulli setengah kesal sambil kembali duduk di posisinya semula. Haruskah ia membacakan tulisan ‘tissue’ di bungkusan itu keras-keras?

Mereka diam selama beberapa saat. Terdengar suara gemerisik yang ditimbulkan oleh Kyungsoo dan tissuenya.

“Kenapa kau tidak suka pestanya?” tanya Kyungsoo dengan mata bulatnya yang semakin besar.

“Kubilang aku sedang bertengkar dengan seseorang.” Jawab Sulli malas, lalu entah sudah berapa kali ia menguap. Matanya sudah tidak kuat lagi untuk sekadar berkedip. Sebelum ia benar-benar tertidur diantara kedua tangannya yang terlipat, ia sempat merasa Kyungsoo meletakkan sesuatu yang hangat –mungkin tuxedo –ke atas pundaknya.

“Apakah orang yang baik sepertimu sulit untuk meminta maaf?”

Mata Sulli benar-benar terpejam setelah menggumam tidak jelas.

 

Kang Minhyuk

 

Ini adalah resiko menyayangi orang seperti Lime. Minhyuk harus menahan amarahnya dengan cara menghela napas berkali-kali. Dan, entahlah, ia sendiri tidak tahu harus marah kepada siapa.

Lime? Ia malah merasa iba pada anak bandel yang satu ini. Lime tidak tahu apa yang harus dilakukan seorang perempuan sejak ibunya pergi dari rumah. Dan lagi, cintanya pada Kyungsoo bertepuk sebelah tangan.

Kyungsoo? Lelaki itu sebenarnya juga tidak bersalah. Dulu Kyungsoo bersikap sangat baik pada Lime karena ia memang baik pada semua orang. Hanya saja Kyungsoo mulai tidak nyaman dan menjauh saat Lime salah mengartikan sikap baik tersebut.

“Ibu…” Lime menggumam dalam tidurnya.

Minhyuk menggenggam erat tangan Lime yang terasa panas, kemudian tatapannya terpaku pada sepotong gaun yang tergantung di balik pintu. Terdapat sobekan besar di ujungnya. Minhyuk belum berani menanyakan di mana Lime menyewa gaun itu. Mungkin ia akan menyisihkan sebagian tabungannya sebagai uang kompensasi.

Minhyuk tahu siapa yang harus dihubunginya untuk menyelesaikan ini semua.

 

Kkeut!~

.

.

.

(A Very) Short Note :

Miss typo butuh angin penyegar dari teman-teman yang baca ini… hehe :’)

Advertisements

37 thoughts on “4 Episodes of Prom (2 of 3)

  1. emang agak sebel sih sama sikap lime, tapi malah kesian pas di akhir /tos bareng minhyuk
    udah nyewa, sobek lagi XD uangku tidak cukuuup /ini jeritan hati lime
    part 3 dunks thor 😉

  2. W-O-W! Sulli-kyungsoo moment! Aaaaaak~ aku sih ngebayanginnya sulli itu aku hahaha..
    Suka bagian dimana sulli nyoba nyembunyiin kyungsoo, greget bgt 😀
    Hemm jadi orang kaya susah, jd orang susah lebih susah hahaha hidup emang maha adil^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s