10 Thanks to Mom

10 Thanks to Mom

 

Ada sepuluh cabang pada kedua tangan ini

Dan sepuluh elektron pada subkulit ‘d’

.

Lalu bolehkah aku sebutkan sepuluh terimakasih untukmu, Ibu?

Terimakasih,

…karena satu pasang tangan yang selalu kau tengadahkan di setiap malam

…karena telah jaga dua nyawa kembar titipan Tuhan

…karena beriku hadiah tiga rasa candu;

         cinta, kesal, dan sayang dibungkus dalam baskom rindu

…karena ajarkanku empat esensi hidup yang sukar;

         Belajar, belajar, belajar, dan belajar

…karena lima indra yang kau sembahkan untukku;

         Mata untuk pelukku dari jauh

         Hidung untuk temukan jati diri untukku

         Telinga untuk beriku harapan

         Lidah untuk bimbingku dari kegelapan

         Kulit untuk kenalkanku pada Tuhan

…karena enam menit nina bobo kau dendang tanpa bosan

…karena tujuh macam warna pelangi yang kau ceritakan

…karena rasakan delapan jam kontraksi yang sakitnya kau tahan

…karena lindungi bayi dalam perutmu lebih dari sembilan bulan

…dan karena mengajarkanku sepuluh macam terimakasih yang tak terkalahkan

.

.

.

.

2014

.

 

Hari ini aku merasa punya gelar baru, Si Pemberi Harapan Palsu. Dua hari yang lalu aku janji ke orang tua bakal pulang kampung. Aku sama sekali ngga homesick, hanya saja ingin ngelihat wajah mereka sebagai motivasi di akhir pekan, biar kuliah tambah semangat. Tetapi ternyata ada open recruitment UKM (semacam ekstrakulikuler kalau di fakultas). Ngga mungkin kan aku ngga ikut UKM apa-apa, jadinya, ya, itu, begitulah… … … … *jongkok di pojokan* *apa ini*

Aku update fiksi kapan-kapan dulu, karena sepertinya ayah (atau ibuku?) udah ‘nemu’ blog ini. Ngga tau deh apa yang ada di benak mereka pas tau anaknya masih tetep nulis begituan, like “OMG anak ane suka cerpen-cerpen romens” “Chanyeol itu nama anak atau nama makanan?” “Anak ane ternyata udah gede” and another fetching comment.

Ngga nyangka ternyata masih ada yang rutin datang ke blog ini dan tinggalin komentar TT terimakasih yang ke sebelas untuk kamu, teman-teman :_D

Advertisements

12 thoughts on “10 Thanks to Mom

  1. Hola bril, new reader nie. Hahay,ortumu ky ortuq deh (terutama ibu), mandang agk sinis gmn kalo anaknya ini nulis2, suka berimajinasi sndri. Soalnya mrk trmsuk org yg realistis klo q bilang, ibarat pelukis, mrk g nerima aliran surealis. Brtolak blkg sm anaknya.

    Aiih.. Ini msh sibuk kuliah y? Semangat aja deh, sukses buat sarjananya.

    Annyeong..
    *bow bareng Chanyeol*

    1. Halooo selamat datang.
      Hm, menghadapi orang tua seperti itu, aku tetap dan akan selalu berpikiran positif.
      Ibuku itu sayang banget sama aku. Beliau mengizinkan aku nulis, asal aku nggak lupa sama belajar. Mungkin Ibu pernah marah karena aku keterusan nulis. Bagaimanapun, apapun yang dipikirkan ibu buat kebaikan kita. Jadi fafa tetap positif thinking ke ibu ya ^^ fightinggg!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s